#5

1.8K 57 1
                                        

Awan kembali ke mejanya dengan secangkir kopi panas. Ia terkejut.

Dalam waktu beberapa menit, Jingga sudah menempelkan banyak sticky notes di sana. Tentu saja pandangannya ke Jingga menjadi terhalang. Ia tak dapat menatap wajah Jingga, ekspresinya, kebiasaannya.

Sebersit ide muncul. Awan mengambil berkas-berkasnya. Tanpa perasaan bersalah, ia berjalan melewati barisan Jingga.

"Jingga, lihat--"

Pandangannya mengembara. Tiba-tiba, rasa panik menjalar di tubuhnya. Tadinya, ia ingin berkelakar bahwa ia mencari seseorang, tapi ia melupakan sebuah fakta. Deretan meja Jingga adalah engineer bangunan laut. Tidak ada teman satu proyeknya di sana.

Ia menatap Jingga. Ekspresinya tak dapat ditebak. Awan menjadi keki, tentu saja!

"Kenapa, Kang?"

Buset, Akang lagi manggilnya. Walaupun emang udah sering, tetep aja Akang meleleh, Neng!

"Nggak, Ga!" seru Awan. "Aku salah tempat. Maaf, ya."

Awan melangkah terburu-buru ke bangkunya. Detik-detik berikutnya, ia mengutuki dirinya sendiri.

***

Malu-malu. Melihat-lihat ke sekitar dengan tatapan panik. Meminta maaf dengan wajah seperti kepiting rebus. Sumpah, ini jelas banget modusnya!

Jingga berusaha menahan senyum saat Awan berbicara dengannya.

Ia kembali menatap laptop-nya dan menatap sticky notes di hadapannya. Yah, setidaknya ia tak akan lupa agenda-agendanya.

Ia kembali menekuri pekerjaannya.


***

"Kita menang tender, Ga!"

Tata mendekatinya sambil mengipas-ngipaskan sebuah map berwarna merah. Jingga terbelalak. Proyek bangunan laut memang tak banyak.

"Sumpah? Proyek apa? Di mana?"

"Pelabuhan sekaligus dermaga, Ga. Di Kalimantan!"

Rasanya ada petir di siang bolong dan menyetrum tubuhnya. Ia hanya menelan ludah dan memaksa senyumnya.

"Asik dong ya! Mbak Tata jalan-jalan, dong?"

"Ih, kata siapa?" Tata mendecakkan lidah. "Mbak mau ngajak kamu sama Mas Erza. Kamu jago gelombang, jetty, sama breakwater. Mas Erza jago pertanahannya. Bantu Mbak ya, soalnya Mbak cuma bisa ngedesain pelabuhan sama dermaganya."

"Tidak."

Keduanya menoleh. Pak Brian ada di belakang Tata, entah sejak kapan.

"Selamat pagi, Pak!" seru keduanya.

"Sebaiknya kalian ditemani orang dari divisi bangunan darat. Proyek ini termasuk besar. Kita harus berhati-hati."

Sejak tadi, Awan sudah mencuri pandang ke Pak Brian. Tiba-tiba, saat tengah menatap atasannya, bosnya memalingkan muka padanya.

"Nah, kebetulan orang yang saya mau suruh lagi lihat saya." Pak Brian tertawa. "Kamu ikut, ya, Awan, sekalian bantu Tata desain pelabuhannya."

Awan mencuri pandang ke Jingga dan melihat Jingga sedang menatapnya. Tak ada emosi apapun di matanya. Ia buru-buru memalingkan muka kembali ke Pak Brian.

"Baik, Pak."

***

Jingga menatap buku di hadapannya nanar. Buku yang enggan disentuhnya, tapi juga tak ia buang. Ia biarkan buku itu duduk manis di salah satu kotak barangnya.

Ia memberanikan diri untuk membuka isinya. Perlahan, dengan tangan bergetar, ia membalikkannya ke halaman pertama.

Tak lama kemudian, di keheningan malam, air mata Jingga berlomba turun dengan hujan di luar rumahnya.

***

"Wan, plis, jangan buat gue malu."

Itulah perkataan Erza ketika Awan terlihat memayungi Jingga secara tiba-tiba dari belakang. Walaupun awalnya Jingga terlihat risih, namun akhirnya ia mau berbagi payung dengan Awan. Payungnya memang lebar.

Awan memukul kepala Erza yang berdiri di sebelah kanannya. Ia memberi isyarat untuk diam.

Sebenarnya, Awan sadar dengan sikap Jingga yang terlihat terus menjauh. Menggemaskan sekali. Sedang jual mahal rupanya! Awan mengetahui bahwa ia tak rupawan, namun apakah ia benar-benar tak berarti di mata Jingga?

Ia melirik wanita yang berdiri di sebelah kirinya.

Mata Jingga menatap bore log dan data gelombang dari bangunan laut yang berjarak satu kilometer dari lepas pantai. Ia menarik napas. Kemudian, ia berjalan menuju Tata. Tata sendiri tengah berbicara dengan klien mereka.

"Alhamdulillah, kliennya ga riweuh. Proyek insya Allah lancar."

Jingga tersenyum sambil mengangguk. Tak lama kemudian, seseorang memberikannya peta batimetri lokasi pembangunan.

"Ada data angin, nggak, Mbak?"

"Ada. Besok ya, baru saya minta ke BMKG."

Jingga mengangguk. Ia memberi tanda di buku catatan kecilnya.

Awan, yang tak terlalu mengerti dokumen di tangan Jingga, hanya menatap Jingga. Semangatnya memuncak. Matanyanya berkilat-kilat. Wanita berambisi selalu menarik perhatiannya.

Tak lama kemudian, mereka berhenti bekerja. Mereka memutuskan untuk makan malam di pinggir pantai. Semuanya baik-baik saja.

Tiba-tiba, seseorang menepuk pundak Jingga.

"Hai, Rani. Lama tak bertemu."

***

Tender: proses pengajuan penawaran yang dilakukan oleh kontraktor yang akan dilaksanakan di lapangan sesuai dengan dokumen tender (sumber: http://niam.co.id/pengertian-tender-arti-tender-contoh-tender-pengadaan-barang/)

Jetty: dermaga yang menjorok ke laut

Breakwater: dinding atau penghalang yang dibangun dekat pantai sebagai pemecah gelombang; agar gelombang yang merambat ke bangunan laut yang dirancang tidak terlalu tinggi

Riweuh: ribut, berisik

Peta batimetri: peta kedalaman laut

Jingga | ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang