"maaf tuan Oh, tapi sepertinya kami tidak bisa menerimamu di perusahaan kami. sudah terlalu banyak arsitek disini,"
sehun memijit keningnya pelan. terhitung sudah sekitar lima belas perusahaan yang ia datangi dari pagi hari tadi dan tidak satupun yang mau menerimanya. astaga demi tuhan, apa sebenarnya salah Sehun? ia pintar, berbakat dan berkharisma. sebenarnya apa yang dipikirkan ayah sehun? mengapa ada seorang ayah yang sedemikian kejam terhadap darah dagingnya sendiri?! sehun sudah lelah. ini sudah memasuki minggu ke dua sejak ia pertama mencari pekerjaan. sehun tidak habis pikir, apakah ayahnya mempunyai pengaruh yang begitu besar di dunia ini?
sehun sudah sangat jenuh. ia tidak bisa lagi bertahan dengan situasi seperti ini. setidaknya, ayahnya hanya harus menyangkalnya untuk masuk ke perusahaan besar saingan perusahaan ayahnya saja, bukan? namun ini, ia yakin ayahnya melarang satu korea bahkan satu dunia untuk menghalang jalan anaknya sendiri. kejam bukan? sehun mengacak rambutnya kasar, lalu melaju meninggalkan perusahaan tersebut.
--
"aku ingin bertemu tuan direktur,"
"maaf tuan, tapi apakah anda sudah membuat janji dengan pak presdir?"
"apakah aku benar - benar harus membuat janji? kau tidak kenal siapa aku?" sehun memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya sambil menatap resepsionis didepannya dingin.
resepsionis tersebut bergidik ngeri melihat ekspresi wajah sehun, ya walaupun ia tahu bahwa sehun adalah anak direktur, tapi aturan tetap aturan kan? "maaf tuan, tapi aku harus mengikuti aturan yang berlaku,"
"PERSETAN DENGAN ATURAN!" sehun berteriak frustasi kepada wanita didepannya, emosinya sudah mencapai ubun - ubun sekarang. ia lalu memasuki ruangan ayahnya begitu saja, dengan membuka pintunya kasar.
"apakah kau juga harus menutup semua ruteku untuk bekerja? memang benar aku bukan lagi anakmu tapi, kau harus bersaing dengan sehat" ucap sehun datar
"memangnya siapa yang tidak bersaing dengan sehat, Sehun-ssi?" balas ayahnya.
sehun terkekeh pelan meremehkan. "kau kira aku tidak tahu bahwa kau adalah dalang dari semua permainan ini?"
ayah sehun mengerutkan dahinya. "maksudmu?"
sehun kembali tersenyum miring sambil terkekeh. "KAU MENUTUP SEMUA KEMUNGKINAN BAGIKU UNTUK BEKERJA DIMANA PUN, PAK PRESDIR YANG TERHORMAT!" sehun kembali berteriak frustasi dan memukul meja yang ada didepannya, sehingga tangannya mengeluarkan darah segar.
"aku benar - benar tidak mengerti maksudmu, sehun-ah,"
sehun berjalan keluar dari ruangan tanpa mengatakan apapun lagi. setidaknya ia sudah menyatakan bendera perang pada ayahnya bahwa ia tidak akan berhenti berjuang untuk hidupnya. persetan dengan apa yang tadi ayahnya katakan, ia tidak tahu? ia pura - pura tidak tahu? sehun rasa ia hanya berpura - pura tidak tahu. ia tersenyum miring dan berjalan keluar dari gedung pencakar langit tersebut.
aku tidak akan gentar dengan ancaman seperti itu, tuan presdir yang terhormat.
--
"aku pulang," sehun melepaskan sepatunya, menatanya kembali di rak sepatu, menggantinya dengan sandal rumah, dan mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu.
"bagaimana oppa? hari ini berhasil?" tanya stephy yang datang dari arah dapur sambil membawa jus jeruk di tangannya.
sehun menggeleng pelan, tubuhnya sudah terlalu lemas bahkan untuk sekedar berbicara.
stephy mengecup pelan kening sehun, "tidak papa oppa. kita bisa mencobanya lagi besok. ini hanya masalah waktu, bukan?" stephy tersenyum manis. "mandilah, aku sudah siapkan air hangat untukmu,"

KAMU SEDANG MEMBACA
Regret [COMPLETED✔️]
Fanfictionorang bilang cinta itu buta. tapi apakah benar - benar buta? rasanya tidak. setidaknya cinta dapat membedakan materi yang dimiliki pasangan. tetapi apakah stephy sudah dibutakan oleh cinta? oh sehun, CEO yang harus turun pangkat karena cintanya. d...