BARU saja Tiffany berangkat ke kampus, dia sudah di hadang oleh Cindy -teman Tiffany yang pintar, terkenal dan baik.
Cindy menyapa Tiffany dengan sopan, "Hai.. Tiff.."
Tiffany tersenyum kikuk, "Ada apa dy?"
"Ah, nggak ada apa-apa. Gue cuma mau ngasih undangan ulang tahun. Nih, dateng ya.." Cindy menyerahkan undangan yang berwarna biru itu ke Tiffany.
Tiffany meraihnya, "Kamu Ulangtahun dy? Happy birthday ya..." katanya antusias.
"Thanks teman.. jangan lupa dateng ya." Ingat Cindy lagi.
"Pasti. Semoga acaranya lancar ya.."
Cindy mengangguk, "Gue lanjut bagiin undangan dulu yah?"
"Iya. Thanks dy." Cindy melambaikan tangan.
Tiffany kembali memandang undangan itu dan mulai membukanya.
"Di club star, jam 8... hah... nanti malam?" Matanya membelalak saat menyadari bahwa acaranya nanti malam.
Cepat-cepat Tiffany menyimpan undangan itu di tas dan berlari ke kantin untuk menghampiri Eva dan Ofi, bertanya apakah mereka di undang juga atau tidak.
Sampai di kantin, semua mahasiswa memegang undangan berbentuk sama dengan miliknya. Di edarkan pandangan mata sipit itu, dan akhirnya menemukan dua sejolinya. Mereka di pojok, sedang bergosip sambil menunjuk-nunjuk mahasiswa lain. Tiffany menghampiri mereka.
"Eh, Tiffa..." reflek Ofi.
Tiffany tersenyum.
"duduk Tiff. Eh Tiff lo di kasih undangan nggak sama Cindy?" Tanya Eva. Tiffany duduk dan mengangguk.
"Lo kesana naik apa Tiff?" Ofi memiringkan kepalanya.
"Ojek dong." Jawabnya sambil terkekeh.
"Eh eh.. Tiff, Pak Dika juga diundang tau. Malah undangannya beda sendiri." Kata Ofi.
"Fi, gausah bangunin macan tidur. Gue udah tau, dan lo ngasih tau itu lagi. Gue muakk banget sumpah Fi sama lo." Celoteh Eva.
"Emang kenapa, kalo Pak Dika diundang trus undangannya beda sendiri? Itu 'kan hak Cindy Va. Aku nggak mau tau. Itu bukan urusan gue." Sahut Tiffany dan tersenyum.
"Pak Dika 'kan suka sama lo.." kata Ofi lagi sambil melirik Eva, melihat ekspresi Eva.
"OFI... Sekali lagi lo ngomongin calon imam gue... gue gak bakalan ngizinin lo tidur di apartement gue lagi. Sana lo tidur di kolong jembatan." Teriak Eva.
"Va, udah deh.. itu juga apatemennya Ofi, bukan punya kamu. Lagian, Ofi 'kan cuma becanda." Celetuk Tiffany.
"Sebenernya lo mihak ke siapa sih?!" Teriak Eva dan Ofi bersamaan kepada Tiffany.
"Kalian," Jawab Tiffany dan tersenyum. "Aku masuk kelas dulu yah.. by." Eva dan Ofi hanya melongo memandang kepergian Tiffany.
****
Sibuk. Itulah kata yang pantas untuk Raka saat ini. Pagi, tepatnya pukul 7 dia sudah harus metting dengan clientnya.
Dan sekarang, dia harus meeting lagi di sebuah Caffe bersama Roy si-asisten gilanya itu.
"Mana sih, bilangnya jam 8 harus sampai di Caffe tapi malah belum nongol-nongol." Gerutu Roy.
"Elo sih Roy, pake cepet-cepet segala."
"Walaupun client kita telat, kitanya nggak boleh telat bro.. harus profesional dong."
"Lo itu ya, kalo di kasih saran malah balik ngasih saran. Otak lo taro dimana sih? Lama-lama gue pecat deh lo." Geram Raka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brittle (Tamat)
Fiksi UmumTentang wanita dengan hati rapuh yang harus menerima kenyataannya. Menjalain hidup bersama suami yang tidak mencintainya selamat dua tahun ini.
