TIFFANY keluar dari kamarnya. Dengan susah payah, dia menuruni anak tangga satu persatu hingga menuju dapur.
"Maid...?" Panggilnya, setelah duduk di kursi meja makan.
"Iya Nona?" Ketua Maid datang.
"Apa tuan semalam pulang?" Tanya Tiffany.
"Maaf Nona. Sepertinya tidak, karena semalam saya yang menjaga gerbang."
Tiffany mengangguk, "Baiklah terimakasih. Maid, kamu bisa buatkan saya susu?"
Secepat kilat, Ketua Maid mengangguk, "Dengan senang hati, Nona." Lalu wanita itu membuatkan susu untuk Tiffany.
Tiffany memperhatikan gerak-gerik Ketua Maid, tetapi fikirannya tak pernah luput dari Raka. Dia terus memikirkan keberadaan Raka.
Karena, sudah 2 hari ini lelaki itu tidak menginjakkan kaki di rumah ini. Terakhir Tiffany bertemu, saat Raka mengambil sebuah dokumen yang tertinggal dan sampai saat ini Tiffany belum melihat diri Raka lagi.
Ketua Maid meletaka segelas susu untuk Ibu hamil di hadapan Tiffany. Tiffany berterimakasih kepada Ketua Maid lalu ia menggenggam gelas yang berisi susu.
****
Raka meraih bantal guling di sampingnya lalu meletakan benda itu diatas kepala.
"Raka.. sekali lagi gue ngomong terus lo nggak bangun? Gue sumpahin perusahaan lo nggak bakalan sukses!" Teriak Roy.
Raka akhirnya membuka matanya dan membuang bantal guling itu ke sembarang tempat, dia menatap Roy dengan kesal, "Apaan sih?!"
"Apaan-apaan! Bangun lo! Udah nebeng, nyusahin pula!" Keluh Roy.
Raka tak ambil pusing dengan ucapan Roy yang menyindir. Dengan gerakan santai, dia menurunkan kedua kakinya dari kasur, "Masih mending lo, gue pekerjakan!" Gumam Raka.
"Jadi lo nggak ikhlas mempekerjakan gue di perusahaan lo?" Tanya Roy dengan suara yang agak keras.
Raka menggaruk-garuk kepalanya yang gatal dan menjawab ucapan Roy, "Mana ada gue ikhlas? Kerja lo aja cuma duduk di kursi!"
Roy menggerakkan tanggannya untuk memukul kepala Raka, tapi tidak jadi, "Untung lo Boss.." Gumam Roy, lelaki itu memutar bola matanya jengah lalu keluar dari kamarnya yang semalam di sewa oleh Raka.
Sebenarnya Raka bisa saja tidur di apartemennya sendiri yang bahkan lebih mewah dan besar di banding apartemen Roy. Tapi karena apartemennya sedang dihuni oleh pelacurnya dan kebetulan Raka sedang tidak nafsu untuk bertemu dengan wanitanya, akhirnya Raka memilih menginap di apatemen Roy selama tiga hari belakangan ini.
Raka melangkahkan kakinya dari kamar itu menuju kamar mandi. Mata Raka melihat seorang wanita yang sedang sibuk dengan peralatan masaknya di area Pantry.
Pasti itu istrinya Roy! Pikir Raka.
Dan pada akhirnya kaki besarnya itu tidak jadi masuk ke dalam kamar mandi tetapi malah mendekat ke Bella -Istri Roy- dia berdiri di belakang Bella.
"Lagi bikin apa Bell?" Tanyanya.
Karena terkejut dengan suara Raka yang tiba-tiba, Bella berbalik badan, "Eh?. Pak Raka.. emm.. lagi bikin sarapan Pak." Lalu kembali berbalik untuk memasak lagi.
Raka mengangguk-anggukan kepala seraya duduk di meja makan, dia menopang kepalanya dengan tangan kanan, seolah sedang berfikir.
Roy datang menggendong Rendy, lelaki beranak satu itu duduk di hadapan Raka, "Lo jorok banget sih Raka? Cuci muka gih!" Suruhnya yang tidak hiraukan oleh Raka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brittle (Tamat)
Ficțiune generalăTentang wanita dengan hati rapuh yang harus menerima kenyataannya. Menjalain hidup bersama suami yang tidak mencintainya selamat dua tahun ini.
