"Kenapa lukamu tidak berubah seperti lukaku?"
Daniel mengamati wajah Rayhan lekat-lekat saat Rayhan sedang menyetir. Mereka sedang menuju kantor Sean untuk menanyakan perkembangan hilangnya Valeria. Tadinya Daniel menolak untuk ikut, tapi Rayhan dan Budi memaksanya.
Daniel memang terlihat lebih mengerikan daripada dirinya dan Budi.
"Kau tidak usah iri, Niel. Wajar saja jika wajahmu lebih parah dari kami semua. Ingat tidak? Sebelum berkelahi dengan kawanan anak alay itu, Sean sudah menghadiahkan pukulan cuma-cuma padamu lebih dulu." Rayhan tertawa. Budi juga ikut tertawa.
"Tidak ada yang lucu dengan itu!" Daniel menyahut dengan geram. Padahal biasanya ia yang menertawakan orang lain, tapi yang terjadi sekarang malah sebaliknya. Semua ini gara-gara Sean Martadinata sialan yang tidak memakai otaknya dahulu sebelum menghajar orang. Mungkin Sean juga sengaja melakukannya. Sudah lama ia menaruh dendam pada Daniel.
Untung ia juga sempat memukul Sean dengan keras. Jika tidak, sekarang ia pasti sudah merasa rugi dan menyesal.
"Kenapa kau merasa begitu sayang dengan wajahmu, Niel? Kau tetap yang paling tampan diantara kita berempat." Budi menghiburnya sambil menepuk pipi Daniel yang lebam. Daniel mengumpat karenanya.
"Aku hanya tidak ingin jika suatu saat gadis yang kukencani lebih tertarik pada wajah ular dibanding wajahku." Daniel membalas dengan sindiran. Giliran Budi yang mengumpat. Daniel dan Rayhan menertawakannya.
"Jangan tertawa! Keadaanku lebih baik dibandingkan dirimu, Re." Budi membalas dengan menyindir Rayhan.
"Please...Aku sedang menyetir, Bud. Jangan sampai diriku tergoda untuk membawa mobil ini memasuki jurang di depan sana." Rayhan mengedik ke arah jembatan.
"Aku heran mengapa kawan kita ini begitu alergi terhadap adiknya. Kau belum pernah melihat adiknya, Bud. Jadi kau tidak tahu." Daniel melirik nakal pada Budi.
"Kau sudah melihatnya?" Budi tiba-tiba mencondongkan tubuhnya karena tertarik.
"Tentu! Baru-baru ini malah. Karena Re tidak tahan berada sendirian di rumah bersama adiknya yang merupakan godaan besar baginya."
"Diam, Niel!"
"Lanjutkan, Niel!" Budi tidak mempedulikan Rayhan yang mulai kesal. "Seburuk apa sebenarnya rupa adiknya, sehingga Re jual mahal seperti ini?."
"Namanya Angela. Dan ia tidak seperti yang kaubayangkan, Bud. Siapkan imanmu jika bertemu dengannya. Bahkan berani taruhan kau akan memutuskan gadis ularmu jika sudah melihat Angela."
"Brengsek!!" Rayhan memaki. "Daniel, bisakah kau tidak berpikiran mesum di saat seperti ini?!"
"Oh, sial!! Berarti ia sungguh sangat...." Budi mendesah kecewa. "Kenapa kau begitu tidak bersyukur, Re?"
"Ia selalu mengatakan ibu Angela adalah wanita jalang. Itu alasan klisenya." Daniel menjawab dengan malas sambil menatap keluar jendela.
"Yang benar saja!" Budi tertawa sambil memukul keras bahu Rayhan. "Kau sendiri tidak lebih suci dari itu, Re. Bukankah wanita jalang adalah favoritmu?!"
Rayhan berdecak kesal.
"Tidak hanya itu! Gadis itu sungguh liar dan tidak tahu malu, mengerti?! Angela tidak manis sama sekali. Ia bahkan begitu yakin aku akan menikahinya suatu saat nanti. Bayangkan!"
"Apa kau akan menikahinya?" tanya Budi.
"Pikir saja sendiri!" Rayhan membentak kesal.
Tidak ada gunanya ia menceritakan seluruh keluh kesah pada kedua sahabatnya yang gemar membully orang ini. Mereka hanya akan memanfaatkannya sebagai bahan untuk mengejeknya kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
(END) RAYHAN AND ANGELA
RomanceISI MASIH LENGKAP!! ROMANCE DEWASA Seri ke 2 dari trilogi Sean-Rayhan-Daniel ANGELA PRAMOEDYA Sejak pertemuan pertama mereka Angela Pramoedya mencintai Rayhan sepenuh hati. Angela adalah seorang gadis yatim piatu yang baru saja diadopsi oleh keluarg...
