Part 38 - Heritage

270K 17.8K 1.8K
                                        

"Sean, aku tahu kau sedang sibuk, tapi aku ingin minta waktumu sebentar untuk berbicara."

Sean dengan berat hati terpaksa menghentikan permainan game ponselnya. Beberapa bulan lalu Hayden mengajarinya trik-trik permainan itu dan kini ia menjadi terobsesi. Sedikit. Ia hanya pernah tidak tidur selama sehari semalam. Setidaknya ia harus sesegera mungkin melewati level Valeria sebelum Hayden. Sungguh sesuatu yang memalukan jika ia selalu menjadi yang terbelakang di setiap game yang mereka mainkan bersama seperti saat zaman COC dulu. Demi Tuhan! Ia adalah Sean Martadinata.

"Ini hanya sesuatu yang tidak terlalu penting." Sean meletakkan ponselnya. "Apa yang ingin kaubicarakan padaku hingga repot-repot berkunjung, Ray?"

"Ini tentang posisi dan pekerjaan yang kauberikan padaku." sahut Rayhan.

Beberapa waktu lalu setelah berkunjung pada acara pemakaman ayah Rayhan, Budi menceritakan tentang apa yang terjadi setelahnya. Bagaimana Rayhan ternyata bukan anak kandung dari keluarga Pramoedya dan akhirnya memutuskan untuk lepas dari segala kekayaan dan nama keluarga tersebut. Budi juga memberitahunya bahwa Rayhan menolak ajakan Daniel untuk bekerjasama membuka usaha baru. Dan akhirnya hanya Sean yang berhasil memaksa Rayhan untuk tidak meneruskan ide nekatnya bekerja pada orang lain setelah Sean menjanjikan Rayhan untuk menjadi karyawan di salah satu perusahaannya.

Menjadi 'karyawan'.

Bukan kepala cabang atau apapun yang menyangkut tentang menjadi seorang atasan. Rayhan yang bersikeras atau ia akan tetap meneruskan rencananya. Sean sungguh tidak menyangka Rayhan yang ia kenal bisa menjadi begitu keras kepala.

"Apakah pekerjaan yang kuberikan terlalu berat untukmu?" Sean bertanya.

"Sebaliknya, Sean! Aku malah merasa tidak bekerja sama sekali! Apa kau mencoba mempermainkanku?! Kau mempekerjakan seorang sekretaris untuk karyawan sepertiku dan ia selalu menghabiskan seluruh pekerjaan sebelum aku sempat membukanya!"

Rayhan terlihat kesal dan itu membuat Sean agak cemas. "Itu hanya perasaanmu saja, Rayhan. Mungkin memang pekerjaan akhir-akhir ini agak sedikit sehingga cepat terselesaikan."

"Jadi sesungguhnya kau tidak memerlukan tambahan karyawan sepertiku?"

Sial...Ia telah salah memilih jawaban. "Tentu saja aku memerlukan karyawan. Dengar Ray, kau baru beberapa hari bekerja. Saat nanti terjadi lonjakan permintaan, otomatis pekerjaan akan menumpuk. Tidak perlu khawatir."

Rayhan menatapnya dengan curiga dan Sean berusaha menampilkan raut wajah setenang mungkin. Tempatnya duduk di sofa mulai terasa tak nyaman serasa duduk di atas tumpukan paku.

Seseorang masuk ke ruang tamu menginterupsi mereka. Ternyata itu adalah Hayden, anak pertama Sean. Dengan tenang Hayden berjalan lalu duduk di pangkuan Rayhan sambil menunjukkan sesuatu di ipadnya. Sean merasa lega dengan kedatangan Hayden yang membuat Rayhan berhenti fokus padanya.

Sejak kapan ia mulai merasa terintimidasi? Demi Tuhan! Ia adalah Sean Martadinata. Berapa kali ia sudah mengucapkan hal itu dalam hati?

"Baiklah Sean, untuk sementara aku mempercayaimu dan akan mencoba menunggu seperti yang kau katakan tadi."

Akhirnya Rayhan mengucapkan kata-kata tersebut padanya setelah akan pamit pulang. Rayhan sempat bermain-main sebentar bersama Hayden dan ikut makan malam bersama mereka juga. Sean merasa bertambah lega karenanya.

"Benar. Jangan kaupikirkan terlalu dalam, Ray. Semua harus dilakukan perlahan-lahan." Sean menepuk bahu Rayhan.

"Tapi aku akan membuat perhitungan ulang gajiku jika kurasa pekerjaanku terlalu mudah. Aku tidak ingin menjadi bebanmu. Ingatlah itu, Sean!" lanjut Rayhan. "Selamat malam." pamitnya sambil berlalu.

(END) RAYHAN AND ANGELA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang