"Hanya dia yang masih mau menerimaku, Angela. Hanya dia!" Tania menggenggam pisau itu dan mendekatinya. Mata Angela membesar menatap pisau tajam itu dan mulai mundur selangkah. Ia bahkan bisa merasakan jantungnya yang berdetak lebih cepat karena ketakutan yang teramat sangat. Kenapa tidak ada seorang pun pengurus rumah tangga yang lewat dan melihat situasi ini?
"Dan bahkan dia pun sekarang memikirkanmu! Aku tidak bisa hidup lagi jika seperti ini, Angela." Tania mulai mengarahkan pisau ke dirinya sendiri.
"Jangan, Tania!!" Angela menerjang Tania sambil menjauhkan pisau itu hingga mereka jatuh tersungkur ke lantai.
Angela tidak tahu darimana ia mendapat keberanian semacam itu. Yang ada dalam pikirannya hanya ia tidak ingin Tania sampai melakukan hal bodoh seperti bunuh diri. Apalagi di rumah ini....
Untunglah pisau itu terlempar beberapa meter dari mereka sehingga Angela bisa bernapas lega.
Ia ingin bangun dari posisinya yang berada di atas tubuh Tania, tapi ia baru sadar bahwa Tania menahan kedua pergelangan tangannya.
"Kak Tania..." Angela meronta menarik tangannya.
"Aku sudah tahu kau pasti akan melakukannya, Angela..." Tania tersenyum.
Angela mengerutkan alis mendengar ucapan Tania. Firasat terburuknya benar terjadi...Dan Tania memilih dapur dimana tidak ada CCTV yang terpasang...
"RAYHAN!!! RAYHAN!!!"
Tania berteriak-teriak memanggil nama kakaknya. Ia sudah melihat mobil kakaknya terparkir di depan dan tahu bahwa kakaknya itu sudah pulang. Angela tetap berusaha melepaskan diri, tapi Tania tetap menahan tangannya sambil berteriak meminta pertolongan.
Ia mendengar langkah tergesa-gesa menuruni tangga.
Angela mendongak dan mendapati kakaknya sudah ada di ujung tangga terbawah, menatap mereka dengan terkejut.
"Hentikan, Angela. Kumohon jangan menyakitiku!! Hentikan!" teriak Tania sambil meronta-ronta.
"Sial!!" Angela mengumpat mendengar perkataan Tania.
"Angela!! Hentikan!!" kakaknya membentaknya.
Ia tidak sadar Tania sudah melepaskan tangannya sejak tadi. Posisi Angela benar-benar tidak menguntungkan. Ia sedang menindih Tania yang berambut acak-acakan dan baju tercabik-cabik.
Angela langsung spontan berdiri menjauh dari Tania. Ia menatap Tania dan kakaknya bergantian.
Rayhan menghampiri Tania dan membantunya bangun. "Kau tidak apa-apa?"
"Jangan menyentuhnya, Kak!! Ia sakit!" Angela memperingatkan.
"Ia menyerangku, Ray. Tadinya aku sedang memotong apel dan kami bercakap-cakap." Tania menunjuk apel yang ia letakkan di meja. "Aku sempat mengatakan bahwa aku adalah mantan kekasihmu. Tidak kusangka Angela tidak terima dengan ucapanku dan malah menyerangku. Ia mengancamku untuk tidak mendekatimu karena katanya kau miliknya." Tania menangis tersedu-sedu.
"Sial, Kak Tania!! kenapa kau melakukan ini?! Aku tidak pernah melarangmu untuk menyukai kakakku!" bentak Angela.
Air mata Tania tidak membuatnya iba kembali. Malah ia sekarang jijik melihatnya.
Angela sudah menyangka Tania akan menjebaknya sesaat setelah melihat Tania membuat dirinya seolah teraniaya. Ingin rasanya tadi ia diam saja saat Tania mengancam membunuh dirinya dengan pisau itu.
Tapi ia tidak berani mengambil resiko...
Tidak di saat Tania melakukan aksi ini di rumah papanya....Papa yang mencintai dan dicintainya. Orang yang paling menyayanginya di dunia ini. Papanya bisa mendapat masalah dan Angela rela mempertaruhkan segalanya asal hal itu tidak terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
(END) RAYHAN AND ANGELA
RomanceISI MASIH LENGKAP!! ROMANCE DEWASA Seri ke 2 dari trilogi Sean-Rayhan-Daniel ANGELA PRAMOEDYA Sejak pertemuan pertama mereka Angela Pramoedya mencintai Rayhan sepenuh hati. Angela adalah seorang gadis yatim piatu yang baru saja diadopsi oleh keluarg...
