Peristiwa ini terjadi sebulan kemudian.
Di mana Angela telah kembali pada kehidupannya semula bersama Mick yang merecokinya tentang lemak dan penambahan lingkar pinggang. Di mana Angela mulai hidup dalam kesendiriannya lagi meski luka itu tetap ada dan semakin dalam. Saat di mana ia mulai skeptis dan baru saja akan mengucapkan sumpah untuk tidak mempercayai siapapun lagi.
Berita itu datang.
Angela berjalan tergesa-gesa di sepanjang lorong rumah sakit dengan kecemasan yang semakin berlipat ganda setiap kali ia berhasil melewati satu langkahnya. Ia baru saja menjalani penerbangan dari Sydney ke Indonesia dan langsung menuju kemari tanpa singgah kemana pun. Angela bahkan meninggalkan semua kopernya di lobby rumah sakit.
Semoga ia belum terlambat.
Ia tiba di depan pintu yang dicarinya dan mengetuk tiga kali dengan cepat. Angela sudah pasrah jika harus bertemu orang itu lagi. Tapi ia merasa lega bahwa yang membukakannya pintu bukanlah orang itu, melainkan seorang wanita paruh baya yang cantik dan berpakaian elegan. Seorang wanita berambut ikal sebahu dan memiliki raut wajah yang bersahabat. Angela merasa mengenalnya sekilas, tapi ia tidak bisa mengingatnya.
Wanita itu memandangnya dengan keterkejutan yang sama, namun dengan cepat kembali pulih. "Kau pasti Angela, bukan?"
Angela hanya mengangguk sekali.
"Ayo." Wanita itu menggandeng lengannya. Angela mengikutinya masuk dan menuju tempat tidur di mana seseorang dirawat di sana. Ayah angkatnya. "Dia sudah menunggumu sejak beberapa hari lalu, Angela."
Angela memandang pria yang biasanya berdiri dengan tegap itu kini tergolek lemah di tempat tidur. Tubuhnya dipasang infus dan kabel-kabel yang terhubung dengan bed side monitor. Selang pernafasan melilit di wajahnya yang terlihat pucat. Ia membuka mata yang tadinya terpejam dan menatap Angela.
"An..ngela..." Ryan tersenyum.
Angela berlutut di samping tempat tidur dan menggenggam sebelah tangan ayahnya. "Aku datang, Pa..."
Ryan hanya mengangguk-angguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tersenyum bahagia melihat Angela.
"Apa yang terjadi, Pa?" Angela mencoba bertanya dengan tenang meski ia masih merasa khawatir.
Ryan tidak menjawab dan menggerakkan kepalanya yang lemah ke arah wanita yang berdiri di sebelah Angela. Wanita itu mengerti apa yang diinginkan Ryan dan ikut berlutut di sebelah Angela.
"Angela..." Ia memegang kedua bahu Angela. Angela menoleh padanya. "Papamu terlalu lemah saat ini untuk bercerita. Jangan memaksanya sekarang. Jika kau ingin tahu biar dokter yang akan menjelaskan padamu nanti."
Angela hanya mengangguk dengan pasrah lalu kembali menatap ayahnya.
"Angela ada di sini, Pa. Papa pasti akan baik-baik saja." ucap Angela kembali.
Angela sesungguhnya ingin berteriak histeris agar mendapat penjelasan saat ini juga, tapi ia tidak mungkin melakukan hal itu. Ia berusaha bersabar sambil terus menggenggam tangan ayahnya. Berarti apa yang dikatakan kakaknya beberapa bulan yang lalu adalah benar, bahwa ayah mereka sakit. Sekarang Angela hanya bisa berharap bahwa penyakit yang diderita ayahnya bukan penyakit yang berat.
Tentu saja tidak...Ayahnya selama ini selalu terlihat sehat. Ia tidak mungkin memiliki penyakit berbahaya. Pasti...
Bunyi pintu yang terbuka dan menutup membuat Angela menoleh. Ada seseorang yang datang
KAMU SEDANG MEMBACA
(END) RAYHAN AND ANGELA
RomanceISI MASIH LENGKAP!! ROMANCE DEWASA Seri ke 2 dari trilogi Sean-Rayhan-Daniel ANGELA PRAMOEDYA Sejak pertemuan pertama mereka Angela Pramoedya mencintai Rayhan sepenuh hati. Angela adalah seorang gadis yatim piatu yang baru saja diadopsi oleh keluarg...
