Part 15-Fallin Tears

300K 20.1K 1.6K
                                        

"Aku akan menikahinya."

Angela merasa terpukul mendengar kata-kata itu. Kakaknya akan menikahi Tania?

Ia menoleh pada ayahnya.

Ayahnya pasti tidak akan menyetujui tentang ini. Benar bukan?

"Kau sudah mempertimbangkannya baik-baik? Jangan mengambil keputusan saat kau sedang emosi, Re." sahut ayahnya.

Rayhan mengangguk-angguk. "Aku sudah memikirkannya, Pa."

Angela membeku mendengarnya. Ia tidak bisa menggerakkan sendok dan garpu yang tergenggam di tangannya.

Ini semua....tidak benar....

Angela tiba-tiba berdiri dari kursi yang membuat ia langsung mendapat perhatian kedua orang lainnya di ruangan tersebut.

"Katakan kau hanya bergurau, Kak..." Angela menatap Rayhan yang juga mendongak menatapnya.

"Angela, tenangkan dirimu..." ayahnya menasehati namun Angela bergeming.

"Kau tidak boleh menikahinya, Kak!!" bentak Angela.

"Lalu menurutmu aku hanya boleh menikahi siapa? Menikahimu?!" Rayhan ikut berdiri dengan geram dan balas membentaknya.

"Re, tolong jangan meladeni adikmu." ayahnya mulai menengahi.

"Aku tidak berharap lagi kau akan menikahiku..." sahut Angela pelan tanpa melepaskan tatapan matanya pada Rayhan.

Ia harus mulai bisa mengubur mimpi-mimpinya. Dan menikah dengan kakaknya juga merupakan salah satu dari impian yang harus dilupakannya.

"Menikahlah dengan siapa pun asal bukan Tania! Dia orang jahat, Kak!" lanjutnya.

"Oya? Apa aku harus mendapat persetujuanmu dulu sebelum memilih siapa yang akan kunikahi? Kaupikir siapa dirimu?!"

Angela tidak percaya kakaknya mengucapkannya.

Tapi itu adalah sebuah kebenaran yang harus ia terima.

"Bukan siapa-siapa..." Angela memalingkan wajah. Biasanya ia akan melawan, tapi entah kenapa saat ini ia merasa kekuatannya hilang entah kemana. Rasanya semangat hidupnya mulai hilang satu persatu.

Ia memang bukan siapa-siapa di mata kakaknya...sejak dulu. Diakui sebagai adik pun ia tak pernah.

"Kalian berdua berhenti dan duduk! Kita sedang makan dan mulai sekarang Papa membuat aturan tidak boleh memperdebatkan apapun di meja makan!" ujar Ryan dengan tegas.

Rayhan terlihat kesal namun ia menurut dan duduk kembali.

Angela tidak bereaksi apapun dan tetap berdiri menatap meja.

"Aku sudah selesai, Pa." sahut Angela pada akhirnya. Suara Angela terdengar lemah.

Tadinya ia merasa lapar, tapi sekarang ia merasa tidak bisa menelan apapun lagi setelah mendengar keputusan kakaknya yang mengejutkan. Ia juga tidak sanggup memandangnya lagi...

Ryan memandang putrinya meninggalkan meja makan dan melangkah menuju tangga.

Rayhan tidak mempedulikan dan tetap melanjutkan kegiatannya seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

__________________

"Brengsek!! Firasat gue bener tentang tu cewek! Untung lo nggak apa-apa, Njel." Justin berkomentar saat Angela selesai menceritakan kejadian yang dialaminya kemarin sore.

"Iya, Tin." Angela mengiyakan seadanya, lalu menunduk kembali menatap meja.

Justin agak keheranan melihat Angela tampak begitu lesu pagi ini. Saat bercerita tadi pun Angela tidak bersemangat. Tidak seperti biasanya.

(END) RAYHAN AND ANGELA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang