Rayhan menatap sebuah pohon yang tumbuh sejak bertahun-tahun yang lalu di halaman rumahnya. Ia tidak tahu pohon jenis apa itu dan ia tidak begitu tertarik mengetahuinya.
Yang membuatnya tertarik hanya sebuah inisial acak-acakan yang terukir di sana.
A+R
Dan ia sudah bisa menebak siapa yang membuatnya.
Angela...
Rasanya ia ingin menebang pohon itu karena geram. Tapi melakukan hal itu hanya membuatnya terkesan kekanak-kanakan. Ia akan menyuruh seseorang untuk menghapusnya nanti.
Sudah empat tahun berlalu dan ia tidak mendengar sedikit kabar pun tentang adik tiri yang tidak diakuinya itu.
Terakhir kalinya ia melihat Angela adalah saat Angela mendengar mengucapkan kata-kata hujatannya.
Angela tampak terluka.
Tapi bukankah memang itu yang diinginkannya selama ini?
Selain berhasil membuat Angela tersakiti, ia juga tidak direpotkan dengan ulah Angela yang mengejar-ngejarnya lagi, bukan? Semuanya terdengar sempurna.
Ayahnya juga menyuruhnya untuk tinggal di rumah setelah sebelumnya memberinya peringatan untuk tidak mendekati Angela kembali. Seharusnya ia meralat perkataan ayahnya saat itu. Ia tidak pernah mendekati Angela, Angela yang mendekatinya.
"Selamat, Re. Angela sudah memutuskan untuk pergi dari rumah ini dan juga hidupmu. Kau tentu gembira bukan?"
Kata-kata sindiran dari ayahnya saat itu masih ia ingat hingga kini. Ayahnya mengucapkan kata-kata itu karena kesal sekaligus sedih atas kepergian putri angkat kesayangannya.
Angela memutuskan untuk pergi.
Pasti ayahnya yang membuat keputusan bagi Angela untuk menjauhkan dirinya dari Rayhan sehingga bisa melupakannya.
Rayhan tidak tahu Angela pergi kemana. Ayahnya tidak pernah menceritakannya.
Dan ia juga tidak peduli.
__________________
"Kau benar-benar tidak peduli?"
Rayhan terkejut mendengar pertanyaan itu dari Daniel.
"Tidak peduli pada apa?" Rayhan balik bertanya.
"Peduli pada umpan mana yang harus kita pakai? Yang ini atau yang ini?" Daniel memberikan beberapa contoh umpan buatan yang terbuat dari...entahlah...umpan itu lebih terlihat seperti mainan anak-anak.
"Shit! Kukira kau menanyakan hal yang penting, Niel!" umpatnya.
Daniel hanya tertawa. Dengan kacamata hitamnya ia terlihat semakin tampan sekaligus menyebalkan. Hari ini entah ada angin apa, Daniel mengajak dirinya dan Budi memancing dengan menggunakanyacht miliknya. Alasannya karena Daniel hanya ingin memancing. Dan itu sungguh ide yang luar biasa buruk.
Di antara mereka bertiga tidak ada satu pun yang memiliki keahlian memancing.
Budi apalagi. Sekarang ia sedang tergolek lemah di sisi kanan sambil memegang pembatas kapal. Wajahnya membiru karena terkena mabuk laut. Sejak tadi ia sudah memuntahkan isi perutnya kira-kira lima kali.
"Atau kita gunakan saja umpan asli?" Daniel menunjuk embernya yang berisi seekor ikan kecil. Rayhan tidak tahu jenisnya. Mungkin itu ikan teri. Apa ada spesies ikan teri? Atau setidaknya jenis ikan yang biasa dipakai ikan teri. Dan ikan itu adalah hasil tangkapan pertama mereka setelah memancing selama enam jam.
"Bisakah kita pulang saja?" suara Budi terdengar mengerang di belakang mereka.
Rayhan dan Daniel menoleh. Mereka menatap Budi yang terkapar lalu saling berpandangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
(END) RAYHAN AND ANGELA
RomanceISI MASIH LENGKAP!! ROMANCE DEWASA Seri ke 2 dari trilogi Sean-Rayhan-Daniel ANGELA PRAMOEDYA Sejak pertemuan pertama mereka Angela Pramoedya mencintai Rayhan sepenuh hati. Angela adalah seorang gadis yatim piatu yang baru saja diadopsi oleh keluarg...
