Pindah Rumah

5.1K 128 14
                                    

[REVISI]

Serial-Tuan Hujan-1.Pindah Rumah

Penulis : IsnaNA

Revisi : 22 Desember 2016

Happy reading!
Kalau ada yang aneh koment ya^^, biar daku tau kurangnya diriku, Eh!

***

Nada POV

Hari ini dengan diantar bapak, aku berangkat menuju sekolah baruku pagi-pagi sekali.Singkat cerita,aku harus berpindah sekolah dan tempat tinggal lantaran orang tuaku sedang terkena sesuatu yang sangat sulit untuk dijelaskan, hal ini juga yang membuat sedikit pusing kepala kami selama beberapa waktu.

Dan kali ini kami benar-benar pindah ke suatu tempat yang tak pernah kubayangkan sama sekali sebelumnya,bahkan untuk membayangkan kalau kami harus pindah rumah saja tidak pernah.
Apalagi ternyata hal itu jadi kenyataan,dan fakata baru yang kuketahui ternyata tempat ini sangat jauh dan jauh sekali dari rumah kami yang lama.
Mulai dari letaknya, suasananya, dan lingkungan dimana kami tinggal.

Mungkinkah ini yang dinamakan nasib atau mungkin takdir?

Dan sekarang di sinilah aku, di suatu desa kecil yang bisa dibilang ya,cukup nyaman untuk ditinggali.
Perjalanan dari desa ke kota yang lumayan jauh ini begitu memakan waktu yang lumayan lama juga, sekitar 1 jam perjalanan mengendarai mobil.

Flash back

"Pak memang perjalanannya masih jauh ya?berasa dari tadi kok gak nyampek-nyampek?".

"Tunggu ya nduk , sebentar lagi kita juga akan sampai.Dan bapak yakin kamu pasti suka dengan rumah kita yang baru.",bapak mengelus kepalaku yang terbalut oleh kerudung pasmina berwarna violet dan tersenyum dengan pandangan tetap fokus mengemudi.

"Iya pak, semoga saja memang seperti apa kata bapak.Nanti kalau sudah sampai bangunin Nada ya pak, Nada mau tidur sebentar.Rasanya capek banget, berasa udah jalan dari tadi tapi gak sampai-sampai".

"Iya,iya nanti bapak bangunkan"

tak butuh waktu yang lama ,aku pun tertidur.Rasanya nyawaku sedang bermain di alam lain, bersenang-senang di sana.Hingga suatu sapuan tangan terasa di bahu kananku yang membuattku tersentak.

"Da, bangun nduk kita sudah sampai ayo cepetan turun.Bantu bapak ambil barang-barang kita di bagasi, kamu mau cepat istirahatkan kan? Ayo jangan diam saja di dalam".

Sambil mengucek-ucek mataku yang masih mengantuk,rasanya ada karet atau semacam lakban menempel kuat disana.Aku pun keluar membantu bapak menurunkan barang-barang di bagasi mobil yang sesak oleh muatan-muatan berbagai jenis barang seperti tas, koper dan benda-benda penting lainnya yang masih bersisa dari rumah kami yang lama.

"Iya pak,sebentar Nada turun.Nada bantuin bawa apa? "

"Bawa koper kamu saja dulu, yang lain kita ambil nanti".

Setelah mengambil sebuah koper besar dari bagasi mobil aku berjalan menuju teras rumah yang mulai sekarang akan kutempati bersama bapak.Kulihat sekilas rumah ini sangat nyaman, lokasinya benar-benar masih asri, udaranya segar,dan model rumahnya yang unik.Meski tak sebesar rumah lamaku, rumah ini nampak punya daya tarik tersendiri.

Tiba-tiba lamunanku buyar karena bapak menepuk pundak kananku dari belakang.

"Gimana Da rumah barunya? semoga Nada sama bapak betah tinggal di sini, karena kita ndak mungkin balik ke rumah yang lama",kulihat bapak berusaha tersenyum padaku meski kutahu bapak pasti merasakan sesak yang teramat di hatinya.

Tuan HujanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang