27

2.3K 108 1
                                        

Retaliation of Goddess passion

Mungkin setelah ini Vanessa harus menghindar untuk bertemu dengan Kent, mengetahui kenyataan ini malah membuat perasaanya menjadi sangat tidak nyaman.

Tapi bukankah dia memang tidak perlu khawatir? Vanessa sudah mengundurkan diri hari ini dan mulai besok hingga minggu depan adalah waktu-waktu untuk bersantai di rumah sambil mempersiapkan kepergiannya ke Dalas.

Vanessa merogoh Tasnya dan mengambil ponsel yang berdering, Ponsel Natsuki. Ia menghela nafas karena dengan berat hati belakangan ini Vanessa menggunakan ponsel itu untuk menghubungi Mark. Setelah ini ia akan meminta Mark untuk menelpon ke flat saja jika ada perlu, dan sebelum pergi ia sudah harus mengembalikan ponsel ini kepada pemiliknya.
Vanessa menganggkatnya, Elise, istri Mark.
"Hallo dear, Kau sudah sampai dimana sekarang?" Elise berbicara dengan logat Irlandia yang Kental. Vanessa sanga suka dengan cara bicara wanita itu sejak Mark memperkenalkan mereka.

"Aku sudah berada di bawah,tapi aku tidak bisa lama!"

"Itu biar kita bicarakan nanti saja, sekarang cepatlah naik karena makanan-makanan buatanku sudah menunggu."

"Baiklah!" Vanessa menjawab lemah.

Langkah demi langakah terus di jalaninya menuju latai delapan kawasan apartemen mewah itu.
Selalu begini, Elise sangat antusias terhadap kehamilan Vanessa dan tidak seharipun di lewatinya tanpa mengawasi segala hal menyangkut asupan gizi saat makan siang.

Setiap jam makan siang, mendadak Vanessa di kenakan kewajiban untuk menyantap semua masakan sehat ala Elise dan itu sudah berhasil membuat berat badannya naik beberapa kilo. Sebenarnya Vanessa sendiri merasa bahagia karena sangat banyak orang yang memperdulikannya, tapi meskipun begitu ia tetap merasa tidak enak dan merepotkan banyak orang.

Vanessa menghela nafas pelan sambil menunggu lift terbuka. Mulai sekarang, ia harus membiasakan diri untuk itu karena saat di Dalas nanti Elise dan Mark adalah keluarganya yang baru.

Sebuah dentingan halus membuat Vanessa kembali kedunia nyata, lift benar-benar terbuka dan dirinya harus berebutan dengan beberapa orang untuk masuk. Kelihatannya hari ini sangat banyak pendatang, entah dari luar atau memang penghuni gedung ini juga. Yang pasti orang-orang itu menyesaki lift sehingga Vanessa harus terdesak kesudut.
Seseorang lagi masuk, seseorang yang sangat Vanessa kenal dan orang itu langsung tersenyum saat melihat kearah Vanessa.

Natsuki Tokeino seharusnya berdiri di barisan paling depan, tapi ia memilih untuk menyeruak kerumunan berdiri di sebelah Vanessa. Ia sudah berhasil membuat gadis itu tidak tenang.

"Kau disini sedang apa?" Natsuki bersuara tanpa melirik ke Vanessa.
Tapi Vanessa memandangnya, memandang dengan penuh harap, entah mengapa. Gadis itu berusaha melayangkan pandangannya ke tempat lain, kearah pintu lift yang tertutup perlahan-lahan.

"Aku ada janji!"

"Dengan siapa?"

"Apa kau perlu tau? Ini urusanku dan aku juga tidak akan mencampuri urusanmu, jadi sekarang diamlah!"
Vanessa Gershon selalu dingin seperti ini, entah sampai kapan. Sayangnya, apapun yang Vanessa lakukan malah membuat Natsuki semakin merindukannya.
Natsuki meridukan Vanessa, hanya!. Tapi seperti apa reaksi Vanessa bila ia mengetahui perasaan rindu Natsuki kali ini? Gadis itu pasti akan marah atau menamparnya.

Natsuki memandangi Vanessa agak lama, ia terlihat berbeda tapi Natsuki masih belum bisa menangkap perbedaanya.
Masih dengan gayanya yang biasa, make Up, rambut yang di kuncir rapi, kemeja sutra berlengan panjang dan rok pensil selututnya.
Gaya orang kantoran pada umumnya. Apakah itu yang membuatnya berbeda? Natsuki memandang sepatu yang Vanessa kenakan, sepatu beludru lancip dan berhak datar. Natsuki tersenyum pahit, Vanessa tidak mungkin berubah hanya karena sepatu. Di wajahnya ada binaran yang membuatnya terlihat semakin cantik.
Binaran itu ada karena apa? Vanessa Gershon tidak pernah secemerlang itu sebelumnya.

VENUSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang