Give Up On Us

34.5K 1.6K 23
                                        

"Kondisi Sherley bisa dikatakan cukup baik.. Pemulihannya benar-benar drastis.. Saya sudah melakukan CT Scan dan hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada hal berbahaya apapun yang harus ditakutkan," jelas sang dokter yang didengarkan dengan serius oleh William, Larissa, dan Mark.

"Lalu kenapa gadis itu mengalami amnesia?" Tanya William. "Ada beberapa faktor yang menyebabkan amnesia, yang pertama kecelakaan, penyakit tertentu, dan trauma psikologis.. Meninjau dari kasus penculikkan dan kekerasan yang ia alami, kemungkinan terbesar hal ini diakibatkan oleh rasa traumanya," jelas sang dokter.

"Apa ada kemungkinan bagi Sherley untuk dapat mengingat segalanya kembali?" Tanya Larissa sambil menepuk punggung William, berusaha menenangkan anaknya itu. Ia tahu ini adalah masa yang sulit bagi William.

"Itu tergantung dari kondisi fisik dan psikologis pasien, bu.. Tapi sebaiknya pasien tidak terlalu dipaksakan untuk mengingat segalanya," jawab dokter tersebut. "Baiklah, terima kasih dok," ujar Mark sambil menyalami dokter tersebut.

"Ayo sayang, kita kembali ke kamar," ucap Larissa sambil menggandeng tangan anaknya. "Aku mau bertemu Sherley dulu," jawab William sambil berlalu meninggalkan Larissa dalam keheningan. "Dia akan baik-baik saja," batin Larissa berusaha memenangkan dirinya sendiri.

William melangkah gontai menuju ruang Sherley. Wanita itu sedang memandang ke langit, entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Dia merasa seperti membutuhkan sesuatu tapi ia tidak tahu apa.

"Hai," sapa William membuat wanita itu langsung menoleh. "Hai juga.. Ngomong-ngomong kamu siapa ya? Kayanya aku ga pernah kenal sama kamu," balas Sherley dengan dahi mengkerut.

"Aku William, aku adalah pemilik sekolah tempat kamu bekerja," jawab William sambil menatap lekat manik itu. Dia sungguh merindukan tatapan itu.

"Benarkah? Aku tidak menyangka kalau pria seusiamu bisa punya sebuah sekolah," Balas Sherley sambil tersenyum. "Oh iya, kamu tau ga kenapa aku bisa ada di sini? Rasanya seperti habis melewati pintu ajaib Doraemon," tanya Sherley membuat William tersenyum.

"Kamu galau abis diputusin Einstein jadinya amnesia deh," jawab William. "What?! Ga mungkin Einstein putusin aku, dia ga setega itu.. Huaaa mama, anakmu ini dibuang kaya banci rawa," ucap Sherley histeris.

William tertawa. Tawa yang selama ini menjadi hal langka yang muncul. Namun anehnya hanya karena melihat gadis itu, dengan mudah senyuman itu dapat tercipta. William mengusap rambut Sherley, memandangi lekat-lekat wajah yang sangat ia rindukan itu. Sherley menelah air ludahnya gugup, pandangannya terpaku pada manik biru William. Mata yang seolah membelai hatinya dengan kenyamanan. Jantungnya berdegup kencang layaknya seorang atlet yang sedang berlari.

"Sebaiknya kamu beristirahat lagi.. Aku akan kembali ke kamarku," ujar William sambil melangkah meninggalkan Sherley yang masih berusaha menormalkan degup jantungnya.

"Huh! Aku rasa jantungku bermasalah," dengusnya sambil memegang dadanya. "Ada apa sebenarnya? Kenapa aku merasa telah melewatkan banyak hal?" Batinnya.

Krekkkk

Suara pintu terbuka membuat Sherley terkesiap. Seorang pria dengan kemeja biru gelap masuk dengan tatapan yang terus terkunci pada Sherley. "Kamu siapa?" Tanya Sherley. Wajah pria itu terasa asing baginya.

"Aku Darvin, kekasihmu," jawab Darvin sambil mengelus pipi Sherley. "Kau tidak ingat ya?" Tanya Darvin sambil tersenyum. Sherley menggeleng lemah, dia benar-benar merasa tidak berguna saat ini. Bagaimana bisa ia melupakan kekasihnya sendiri?

"Baiklah.. Aku akan menceritakan semuanya dari awal," ujar Darvin yang disambut gembira oleh Sherley. "Kita bertemu saat kau pertama kali mengajar di sekolah Bintang Bangsa.. Sejak saat itu hubungan kita semakin dekat, aku mengatakan kalau aku mencintaimu.. Begitu juga denganmu.. Kita berjanji di bawah taburan bintang kalau kita akan selalu bersama selamanya.. Membangun sebuah keluarga berlandaskan cinta sejati," jelas Darvin membuat Shelrey terpaku. Kilasan-kilasan memori berputar pada kepalanya membuat ia merasa sedikit pening, namun ia berusaha menguatkan dirinya. Kini ia mengingat pria itu, ya pria itu memang kekasihnya.

Teacher In LOVE [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang