Malam semakin larut namun rasanya orang-orang itu tidak merasakan kantuk sama sekali karena mereka masih asik bercengkrama satu sama lain. "Ma, Sherley istirahat duluan ya? Sherley ngantuk banget," ucap Sherley sambil mengusap matanya yang sudah memerah.
"Yah sayang sekali, padahal sebentar lagi kita mau mengadakan pesta kembang api," ucap Larissa kecewa namun ia tetap tersenyum ramah pada Sherley. "Ya sudah, tidak apa-apa nak.. Lagipula kamu terlihat pucat.. William antar istrimu ke dalam ya," perintah Larissa.
William mengangguk sambil menarik tangan Sherley. Pria itu melepas jaket kulit hitamnya dan segera melampirkannya pada bahu Sherley. "Seharusnya kamu mengatakan kalau kamu kedinginan," ucap William dingin.
"Aku tidak apa-apa," ujar Sherley sambil tertunduk. Mereka terus berjalan sambil menikmati udara yang berhembus kencang menerpa wajah mereka dengan lembut.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa," ucap William tiba-tiba. Sherley menyernyit tidak mengerti akan arah pembicaraan William. William menghentikan langkahnya dan menatap ke dalam manik cokelat itu.
"Aku takut," ujar William sambil menghela napas. "Aku takut aku tidak bisa membahagiakanmu karena traumaku," ucap William terdengar begitu menyayat hati.
"Apa kau pikir aku tidak akan bahagia hanya karena traumamu itu?" Tanya Sherley. "Kau salah William.. Bagiku kamulah kebahagiaanku," lanjut Sherley dengan mata berkaca-kaca.
William segera menarik Sherley ke dalam pelukannya. "Aku akan bahagia, sekalipun kamu melukaiku nanti," ujar Sherley lirih.
"Aku hanya tidak mampu melihat kamu terluka William.. Aku ga bisa membiarkan kamu terus menerus menyiksa dirimu sendiri," ungkap Sherley jujur.
William mengusap punggung Sherley dengan lembut. "Apa kamu mencintaiku?" Tanya William. "Apa kau harus menanyakan hal itu lagi untuk mendapatkan jawabannya Mr. Skierley?" Tanya Sherley.
"Kalau begitu bantu aku, Sherley.. Bantu aku untuk keluar dari semua sisi gelapku," ucap William membuat setetes air mata jatuh dari manik Sherley.
Wanita itu menjauhkan tubuhnya dari William. "Apa kamu masih mencintai Kezia?" Tanya Sherley membuat William terdiam sejenak. "Apa itu berarti iya?" Tanya Sherley sambil menghapus air mata yang terus turun dari matanya.
"Tidak Sherley," jawab William sambil menangkup wajah Sherley. "Aku hanya mencintaimu," ujar William tulus.
"Kalau begitu ayo kita berjuang bersama," ucap Sherley. "Berjanjilah kalau kamu akan berusaha," ucap Sherley sambil mengusap wajah William.
"Ya aku berjanji.. Tapi kamu juga harus berjanji untuk tidak pernah pergi dariku," ucap William.
"Aku janji William, aku akan selalu bersama denganmu selamanya," ujar Sherley sambil tersenyum tulus. William kembali membenamkan wajahnya pada lekukan leher wanita itu. Hatinya terasa tenang selama ada wanita itu di sisinya.
"Sherley sepertinya kamu demam," ujar William sambil mencoba melihat wajah Sherley. Namun tubuh gadis itu malah limbung dan hampir terjatuh jika saja William tidak langsung menahan tubuh wanita itu.
William segera membawa Sherley ke dalam gendongannya, dia berjalan menuju mansionnya dan dengan cepat membaringkan Sherley pada tempat tidurnya. Ia segera berlari menuju sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi di balik kamarnya, dengan panik ia mencari obat demam di antara deretan obat yang berjejeran. Setelah berhasil menemukannya, ia segera mengambil segelas air dan berjalan mendekati Sherley.
"William," gumam Sherley tidak jelas. Wanita itu mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya yang terasa pening. "Tidak apa-apa.. Ayo minum obatnya," ucap William sambil membantu Sherley untuk duduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teacher In LOVE [COMPLETED]
RomansaSeperti fisika dan matematika yang selalu berkaitan dan tidak pernah terpisahkan, aku dan kamu juga akan selalu bersama selamanya. #59 in Romance : 6 Nov 2016
![Teacher In LOVE [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/79784988-64-k800046.jpg)