Luka Cabe

48.8K 2.4K 40
                                        

Setelah 2 hari dirawat, akhirnya hari ini Sherley dapat kembali beraktivitas normal. Sebenarnya dia sudah menolak untuk dirawat di rumah sakit sejak ia sadar dari pingsannya, karena dia tidak memiliki uang untuk menyewa sebuah kamar VVIP. Tapi tepat di depan kamarnya, ada dua orang bodyguard yang selalu mengawasinya sehingga ia tidak berani untuk melangkah keluar. Awalnya ia merasa takut dengan orang-orang itu, namun karena orang itu selama ini memperlakukannya dengan baik, jadi ia mulai terbiasa melihat wajah sangar kedua orang itu.

Selama dua malam itu, William selalu datang setiap malam untuk menjaga Sherley walaupun Sherley tidak mengetahui kalau yang menjaganya selama ini adalah William. Dia hanya tahu kalau dia aman bersama dengan pria itu.

Sherley mengenakan tas ransel cokelatnya dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Kemeja lengan panjang berwarna merah membalut tubuhnya yang sedikit lebih kurus daripada sebelumnya. Ya ini semua karena makanan rumah sakit yang tak mampu memenuhi porsi makan normalnya.

Sherley melangkah sambil bersenandung, tak lupa menggunakan headsetnya.

"Pagi pak," sapa Sherley sambil melambaikan tangan ke arah pak satpam. "Pagi bu.. Akhirnya ibu masuk juga, sekolah sepi ga ada ibu," jawab pak Sutardjo.

"Ah masa sih pak??" Tanya Sherley tak percaya. "Iya bener bu.. Saya sendiri sanksi matanya," jawab pak satpam dengan bersemangat.

"Saksi pak bukan sanksi," ujar Sherley sambil memutar bola mata malas. "Hehehe iya itu maksudnya bu.. Oh iya, tadi Pak William titip pesan katanya kalau ibu udah sampai, tolong langsung ke ruangan pak William," ucap pak Sutardjo.

"Oalah mau ngapain tuh bapaknya si kulkas," gerutu Sherley sambil menghela napas. "Sejak kapan si bapak punya anak kulkas?" Tanya pak Suterdjo sambil mengerutkan kening.

"Sejak negara polar bear menyerang.. Dadah bapak," teriak Sherley sambil masuk ke dalam. Sherley segera berjalan menuju ruangannya. Namun seseorang langsung menghalangi langkahnya.

"Bukannya sudah saya perintahkan agar kamu langsung ke ruangan saya?" Sindir William dengan tatapan dinginnya.

"Saya mau taruh tas dulu pak, berat tau," ujar Sherley mencari alasan. William segera menarik tas Sherley hingga Sherleypun ikut tertarik.

"Astaga ini orang tega banget sih?! Lihat aja nanti aku doain biar ketampanannya hilang lenyap tak tersisa," ancam Sherley membuat William tersenyum dalam hati.

Dan akhirnya merekapun sampai di ruangan William. "Bapak!! Sekali lagi bapak narik saya, nanti saya jeblosin ke selokan," ancam Sherley sambil memanyunkan bibirnya.

William sama sekali tidak menanggapi ancaman Sherley itu. Pria itu dengan tenang duduk di kursinya sambil mulai berkutat pada laptopnya.

"Huaa mama.. Anakmu sudah ditarik-tarik terus dikacangin lagi, lama-lama Sherley jadi tukang kacang aja nih," ucap Sherley heboh.

"Diamlah! Aku harus bekerja," ujar William membuat Sherley semakin kesal. "Saya juga pengen kerja.. Tapi saya malahan dicilok," balas Sherley.

"Culik Sherley!" Geram William. "Tuh bapak ngaku kalau udah culik saya! Ya udah, saya mau melarikan diri aja," ujar Sherley sambil membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju pintu.

"Terserah kamu.. Semua barang-barangmu ada di ruangan ini, jadi kalau kamu mau mengungsi ke ruangan guru dan duduk di lantai ya terserah," ucap William dengan santainya.

Sherley membalikkan badannya dan bertolak pinggang. "Bapak kok ga ada puas-puasnya sih nyari makanan sama saya?!" Bentak Sherley.

"Masalah Sher.. Ini perintah dari pemilik sekolah, kita berdua kan yang bertugas mengajar kelas olimpiade jadi ia menyuruh kamu untuk pindah ke ruangan saya," jelas William.

Teacher In LOVE [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang