I Love Him

40.5K 1.8K 10
                                        

"Besok pagi kita akan pulang.. Banyak tugas yang sudah menanti kita di sekolah," gumam William sambil memasukkan kedua tangannya pada celananya.

Rambutnya yang kecokelatan bertebaran karena angin yang cukup kencang di tempat ini. Itu membuat rambutnya terkesan acak-acakkan, namun sungguh pria itu malah terlihat semakin tampan. Aku bahkan tidak berhasil menemukan kecacatan sedikit saja dari mahakarya Tuhan itu. Mungkin Tuhan sedang tersenyum saat menciptakannya.

"Kenapa kau diam?" Tanya William sambil menghentikkan langkah kakinya. Aku tersentak dan segera mengalihkan tatapanku darinya. Aku harap dia tidak menyadari kalau aku mengamatinya sedari tadi.

"Apa kau kedinginan?" Tanya William sambil menatap mataku dalam. Pertanyaan itu sejenak membuat hatiku menghangat, setidaknya dia peduli kepadaku. Walaupun itu tidak mengubah sifatnya yang menyebalkan.

"Tidak.. Aku hanya kagum dengan pemandangan di sini," jawabku berbohong. Sebenarnya aku cukup kedinginan, namun aneh rasanya kalau harus menunjukkannya di depan pria menyebalkan namun sayangnya tampan ini. Aku wanita kuat, dan aku tidak mau dia menganggapku lemah.

William tersenyum, senyuman yang selalu membuat hatiku mencelos seketika. "Ternyata kamu tidak seaneh yang aku kira.. Setidaknya untuk saat ini," ujar William sambil tertawa. Suara tawanya terdengar merdu, dan entah mengapa aku merasa bahagia. "Aku senang kamu menyadari hal itu," jawabku menyindirnya.

"Tentu.. Bahkan aku tahu kalau semua yang kamu lakukan itu hanya pura-pura," gumam William membuat aku tersentak seketika. "Apa maksudmu?" Tanyaku penasaran.

"Sudah lupakan saja," jawab William membuat aku kesal. "Berani sekali kamu membuat aku penasaran dan dengan mudah menyuruhku melupakannya!" Dengusku sambil menatapnya tajam. Biasanya tatapan ini mampu membuat para preman kabur tak berani mendekatiku.

"Bukankah, aku memang selalu membuatmu kesal?" Kata William sambil tersenyum penuh arti. Dia itu menyebalkan, tapi sayangnya aku tak bisa berhenti memikirkannya. "Apa sebenarnya maumu Mr. Skierley?!" Geram Sherley.

"Aku mau kamu tetap di sisiku, dan jangan pernah pergi," ucap William layaknya sebuah perintah yang wajib aku laksanakan. Aku terdiam sejenak. Jika keadaannya semudah itu, aku pasti akan langsung menjawab 'ya', tapi ini tidak mudah. Ya aku memang mulai menyukainya, namun dari tatapan matanya dia mengatakan hal yang bertentangan dengan isi hatinya.

"Sherley? Apa kau mendengar aku?" Tanyanya sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajahku. "Aku merindukan Darvin," ujarku dengan sengaja. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi, tapi aku ga mau dia menyakitiku suatu saat nanti.

Aku melihat rahangnya mengeras. Namun akhirnya dia menghela napas dan segera melangkah meninggalkanku. "Maafkan aku William, aku rasa tidak seharusnya kita sedekat ini," ujarku membuat langkahnya terhenti.

"Aku punya Darvin.. Dia kekasihku.. Dia yang selalu ada untuk menolongku," ucapku membuat tangannya mengepal. Ya aku mungkin memang keterlaluan, tapi itu kenyataan. Dan aku tak bisa menyangkalnya walaupun aku mulai menyukai pria di hadapanku ini. Aku tidak mau jatuh terlalu dalam, aku tidak mau merasa kehilangan jika dia pergi.

"Dengarkan aku Sherley Angela," ujarnya sambil membalikkan badan menghadapku. "Selama ini aku bertindak baik kepadamu, ya itu karena aku menyukaimu," ucapnya terdengar begitu mengerikan. Tatapan yang ia berikan saat ini begitu menyeramkan entah kemana hilangnya tatapan hangatnya beberapa waktu yang lalu.

Aku menelan ludahku gugup, William semakin melangkah mendekatiku. "Aku menyukai tubuhmu Sherley, aku selalu mebayangkan bagaimana rasanya mencicipi-" ujarnya membuat hatiku memanas. Tanpa sadar aku melayangkan tanganku ke pipinya.

Teacher In LOVE [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang