Mocca's PoV
Dia mengangkat kepalanya berhenti memelukku, menatapku lekat, dan kembali bersuara. Mengucapkan beberapa kata yang membuatku tahu apa yang sebenarnya dia maksud.
"Apa kau mencintaiku?"
"Aku ... aku .." Mulutku tak siap untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Aku menghela napas, berusaha untuk tenang dan kembali bersuara. "Aku akan jawab. Tapi nanti. Siang ini, aku akan menjawab perasaanmu itu."
"Apa kau sedang berjanji padaku?"
"Ya. Sudah jelas, kan, aku berjanji padamu?"
"Baiklah, aku pegang janjimu, Mocca. Kau akan menjawab perasaanku siang ini juga."
"Iya, iya."
🎃
Hallow ikut beranjak dari kursi dan meraih lengan kiriku.
"Kau sudah janji akan menjawab perasaanku siang ini."
Oh, aku hampir lupa. Dia benar, aku sudah berjanji padanya pagi tadi, kalau aku akan menjawab perasaannya siang ini. Gawat, kenapa waktu berjalan begitu cepat??
"A-aku ingin keluar sebentar," jawabku mencoba mencari alasan untuk kabur dan menghindari pertanyaannya yang selalu membuatku gelisah tidak karuan.
"Hm? Memangnya mau keluar ke mana? Kau tidak akan bisa kabur dariku, Mocca. Kau sudah janji padaku. Jawab pertanyaanku sekarang. Kalau ti--"
"Kalau tidak, kenapa? Kau mau apa, hah?? YA! AKU MEMANG MAU KABUR!! Kau tidak tahu seberapa malu aku menghadapi hal semacam ini?? Kau tidak akan mengerti perasaan seorang wanita jika sedang malu!!"
Tanganku berusaha melepaskan diri dari cengkraman Hallow, walaupun usahaku sama sekali tidak berpengaruh. Aku tidak peduli lagi dengan janji atau apalah itu, yang penting sekarang aku harus menjauh darinya.
"Lepaskan tanganku, Hallow!" perintahku.
Dia tidak menggubris perintahku dan malah memegang sebelah pipiku serta mengelus rambutku. Bukannya membuang pandangan, aku malah terhanyut dalam tatapannya yang amat membuatku terhipnotis akan sesuatu yang membetahkan diriku untuk tidak berkedip. Ditambah lagi, senyumannya. Astaga, ya ampun, akhh bisa-bisa aku lupa caranya berkedip dan bernapas.
"Bukan hanya kau yang malu," ucap Hallow. Mukanya mulai bersemu merah, tampak sedikit menunduk dariku. "Kau juga harus tahu. Laki-laki juga bisa malu. Dari luar, tampak seperti tak kenal malu, tapi di dalamnya, kau tidak tahu bahwa setiap laki-laki yang malu sedang menahan rasa malu itu untuk mencapai tujuan tertentu. Diantaranya adalah di saat seperti ini. Setiap detik aku menunggu jawabanmu, aku selalu merasakan jantungku berdegup kencang tak biasa. Dan sekarang, aku ingin tahu jawabanmu. Mocca, apa kau mencintaiku?"
"YA!! AKU MENCINTAIMU!! AKU MENCINTAIMU, HALLOW!!!"
Aku pun berhasil memberanikan diri mengatakan itu dengan keadaan mata yang sengaja kupejamkan, disertai air mataku yang tiba-tiba saja mengalir. Mengeluarkan sedikit tangisan yang membuatku lebih terasa memalukan dibandingkan tadi.
Aku benar-benar malu sekali.
Hallow memegang sebelah pundakku dan mengusap air mataku dengan ekspresi yang nampak bersalah.
"Maafkan aku, Mocca. Aku memaksamu untuk menjawabnya sekarang, sehingga kau jadi sampai menangis seperti ini. Aku memang keterlaluan. Kau bisa hukum aku."
Aku menggeleng kuat mendengar kata-katanya. Bukan itu alasan aku menangis. Awalnya, aku juga tidak tahu kenapa. Tapi, setelah aku pikirkan sekali lagi, aku telah tahu apa jawabannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mocca Hallow
Fantasy[15+] Pada hari yang menyenangkan sekaligus hari ulang tahun, bagaimana jika hari istimewa itu menjadikan sebuah hari yang menyeramkan sekaligus menyedihkan? Contohnya pada hari Halloween. Di kota Mejiktorn, tempat tinggal para penyihir yang mempuny...
