Author's PoV
Mocca langsung berlari keluar dari aula istana tanpa menunggu jawaban dari Hallow dan penjagaan satu pun pengawal. Lantas semua yang ada di dalam dilanda rasa panik. Hallow memerintah kepada beberapa prajuritnya untuk tetap menjaga aula istana tetap aman. Sedangkan Ai dan Lof tanpa diperintah segera keluar mengejar Mocca.
"Ratu mau ke mana? Yang Mulia tidak boleh keluar jika tanpa penjagaan dari kami!" teriak Ai kepada Mocca yang berada di depan mereka. "Di luar sana sangat berbahaya!"
Bukannya menjawab dan berhenti berlari, Mocca malah menambah kecepatan larinya seraya menghunuskan pedangnya. Ia melihat ada beberapa pasukan vampir yang menghadang di depannya. Sampainya di depan musuh, ia menebas mereka semua dan ambruk menjadi debu.
Ai dan Lof sangat terkejut melihat serangan yang Mocca torehkan kepada beberapa pasukan vampir itu. Masing-masing pikiran mereka otomatis memutar otak berpikir tentang bagaimana bisa dengan hanya sekali tebas, dapat melenyapkan 3 musuh sekaligus? Mereka yang menebas dan menusuk berkali-kali saja tidak pernah berhasil mematikan satu pun musuh. Langkah lari mereka berhenti yang begitu juga dengan Mocca dikarenakan ada puluhan pasukan vampir menghalangi jalan Mocca.
Tak ada yang Mocca pikirkan lagi selain membunuh semua musuh-musuhnya. Melenyapkan semua yang telah memusnahkan sumber kebahagiaannya.
Membunuh dan membunuh. Luka dan luka. Darah dan debu. Semua teraduk menjadi satu menciptakan kegelapan yang tadinya terang-menderang menjadi harapan untuk kembali seperti sedia kala.
Ia tahu, semua makhluk yang hidup di dunia ini pasti akan menghadapi kematiannya.
Tapi, kenapa secepat itu? Kenapa Tuhan mengambil orang yang ia sayangi? Apa maksud dari cobaan pahit ini?
Dalam sekejap, ia telah kehilangan salah satu anggota keluarganya. Selanjutnya, apa ia akan kehilangan kedua orang tuanya yang tak kunjung ia lihat di matanya?
Mocca tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Meski jutaan dinding bersenjata menghalangi semua jalannya menuju ke orang yang ia sayangi, ia akan menerobos semua dinding itu dengan seluruh kekuatannya sendiri. Tidak akan ada yang dapat menghalangi jalannya.
Ia menebas musuh-musuh di hadapannya dengan gesit. Tidak ada satu gores pun luka yang didapatkannya. Sebagai seorang pemula, terlihat mustahil menguasai pedang secepat itu. Tapi, perkembangan yang tak diduga membuatnya meneruskan serangannya tanpa mau berhenti.
Ibu, Ayah, tetaplah hidup, batin Mocca.
"Mocca!"
Ah, Mocca tahu siapa orang yang memanggilnya. Orang itu baru saja telah menjadi suaminya. Ia berusaha tidak menghiraukan panggilan suaminya itu dan tetap melancarkan serangan.
Hallow berhenti berlari begitu melihat sosok Mocca yang sedang menebas ke arah musuh-musuhnya secara leluasa. Tak jauh di depannya ada Ai dan Lof yang terpaku melihat kehebatan Mocca.
Dan yang lebih mengejutkan, pedang milik Mocca dikuasai oleh api yang tidak tahu dari mana asalnya.
Hallow berdiri di tengah-tengah Ai dan Lof, membuat kedua pelayan dapur itu memberikan hormat kepadanya.
"Ampun Yang Mulia, Ratu Mocca sama sekali tidak menghiraukan kami. Ratu menyibukkan dirinya menyerang para vampir itu," lapor Ai kepada Hallow.
Hallow terus melihat Mocca sedang bertarung seraya berpikir bagaimana cara agar Mocca menghiraukannya. Ia maju ke arah Mocca dan ikut menyerang musuh dengan pedangnya.
"Mocca, kalau kau ingin keluar, aku dan para pengawal harus ikut denganmu untuk menjagamu," ucap Hallow sambil tetap menyerang.
Tidak sama dengan akibat Mocca menebas musuh. Pedang milik Hallow bernama pedang Biru. Ia menebas lima vampir sekaligus dan langsung lenyap menjadi kelopak bunga melati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mocca Hallow
Fantasía[15+] Pada hari yang menyenangkan sekaligus hari ulang tahun, bagaimana jika hari istimewa itu menjadikan sebuah hari yang menyeramkan sekaligus menyedihkan? Contohnya pada hari Halloween. Di kota Mejiktorn, tempat tinggal para penyihir yang mempuny...
