Author's PoV
"Ayah! Kenapa Ayah melarangku pergi keluar? Salahku apa, Yah?"
Di istana kerajaan Phrygian, di mana seorang Pangeran menginginkan kebebasan pada hari Minggu setelah setiap hari pergi ke sekolah untuk membantu kerajaan Mixolydian menyelesaikan perang dengan kerajaan Ferlendian. Meski akhirnya tak ada yang dapat ia bantu bersama kerajaan Daimeldian, karena Raja Mixolydian sendiri yang membantas Ratu Ferlendian. Mendengar kabar dari Raja Mixolydian kalau Ratu Ferlendian sudah tiada, ia turut bersuka cita.
Ruangan yang luas, di mana singgasana Raja dan Ratu Phrygian terletak kokoh berkilaukan bangsawan, orang tua Pangeran Phrygian duduk penuh kehormatan di atas sana. Di bawah, Pangeran Phrygian, yakni Jeky Phrygian, berlutut hormat untuk orang tuanya.
Ratu Deola Phrygian tersenyum lembut. "Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa, Jeky. Nah, Ibu mau bertanya. Bagaimana hubunganmu dengan Putri Belza? Dan, kami mendapat kabar kalau kau dan Putri Belza memutuskan bersekolah di kota Mejiktorn."
"Hubunganku dengan Belza baik-baik saja, Bu. Itu benar, aku dan Belza masuk ke sebuah sekolah untuk suatu alasan. Tapi, sepertinya alasan itu sudah dituntaskan dengan mudahnya oleh Hallow. Ingat dengan ceritaku? Hallow mendapat pernyataan perang dari Ratu Ferlendian. Aku dan Belza ingin membantu membuat Ratu Ferlendian itu menyesali perbuatannya. Tapi, Hallow sudah langsung menghabisinya."
Raja Tentoi Phrygian mengerutkan dahi. "Jeky, kau tahu Hallow itu sudah menjadi Raja, kan? Sebut dia Raja Mixolydian!" tegur Raja Phrygian, membuat Jeky merengut.
"Ayah! Aku ingin keluar dari sini! Prajurit-prajurit itu menghalangi jalan keluarku, Ayah!" Jeky berhenti berlutut menatap kedua orang tuanya. "Bu! Bantu Jeky, dong! Jeky baru saja mengingat sesuatu yang penting!!"
Raja Tentoi mendengus. "Kau ingin menemui Putri Daimeldian? Besok saja kalau kau ingin bertemu dengannya. Hari Minggu khusus untukmu beristirahat di dalam istana seharian penuh."
Ratu Deola tetap mengembangkan senyuman hangat. "Dengarkan saja apa kata-kata Ayah, sayang."
"Ahh, Ibu! Hari ini, kan, Hall--maksudku Raja Mixolydian ulang tahun yang ke-17! Aku ingin ke sana untuk memberinya selamat! Dan... ingin mendapat makanan enak."
Seketika Raja dan Ratu Phrygian terkejut. Mereka baru ingat hari ulang tahun Raja Mixolydian adalah hari ini. Mereka mendadak berdiri dari singgasana masing-masing.
"Se-sebaiknya kita kirimkan Raja Mixolydian beberapa hadiah! Oh, jangan lupakan kalau dia sudah punya calon Ratu. Berikan juga hadiah untuk calon Ratunya. Prajurit!" ucap Raja Tentoi lantang memanggil beberapa prajuritnya.
"Laksanakan, Yang Mulia!" balas beberapa prajurit itu berlutut hormat, membuat Jeky harus melangkah mundur dari mereka.
Jeky mengembangkan senyum.
"Kalau begitu, aku boleh keluar dari istana, kan?"
Raja Tentoi melototkan matanya ke arah Jeky.
"TIDAK. Kau tetap di istana, Jeky. Mereka yang akan ke sana untuk mengantarkan hadiah dari kita."
Jeky mendudukkan dirinya di lantai dan merengek seperti anak kecil yang meminta sebuah mainan.
"AYAH KEJAM!!!"
Di tempat lain, di mana seorang Putri dari kerajaan Daimeldian menarik napas panjang sampainya kereta kudanya berada di depan sebuah istana milik kerajaan Phrygian yang sudah lama tidak ia kunjungi karena sering sibuk di sekolah.
Sebelumnya, ia sudah mengunjungi istana kerajaan Mixolydian untuk menghadiri acara ulang tahun Raja Mixolydian yang paling manis dibandingkan ulang tahun sebelumnya. Ia bersyukur ada seorang gadis yang dapat melelehkan hati dari Raja es, sehingga ia bisa melihat Raja Mixolydian kembali tersenyum dan bersikap bersahabat maupun itu dengan pelayannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mocca Hallow
Fantasía[15+] Pada hari yang menyenangkan sekaligus hari ulang tahun, bagaimana jika hari istimewa itu menjadikan sebuah hari yang menyeramkan sekaligus menyedihkan? Contohnya pada hari Halloween. Di kota Mejiktorn, tempat tinggal para penyihir yang mempuny...
