"Aliya," panggil Zain.
"Iy-iya," ucapku gugup. Kenapa aku jadi gugup seperti ini.
"Jika kau mau, aku bisa tidur di mobil dan kau tidur di sini. Aku tak menyangka liburan ini akan berakhir dengan hal gila," ucap Zain. Zain sudah meraih tasnya yang berada di ranjang. Namun aku dengan cepat menghentikannya. "Aku tak masalah Zain. Aku tak bisa membiarkanmu tidur di mobil sedangkan aku tidur di kamar ini," ucapku.
Apa yang kau katakan Aliya?! Pikiranku berteriak. Tapi, tetap saja aku tidak bisa membiarkan Zain tidur di dalam mobil sedangkan aku tidur di ranjang dengan begitu nyaman. Aku tidak sejahat itu untuk membiarkan egoku berkuasa.
"Baiklah, kita buat kesepakatan saja. Bagaimana? Aku tidur di sofa dan kau tidur di ranjang. Kau setuju?" Apa pun asal tidak tidur bersama denganmu. Aku menganggukan kepalaku, menyetujui kesepakatan yang Zain buat. Zain tersenyum lebar, "aku ingin pergi bertemu dengan sahabatku, jadi jika kau membutuhkanku. Telepon saja aku."
"Baiklah," ucapku. Tidak ingin membuang waktunya, Zain langsung melenggang pergi dari kamar ini. Aku membuka isi tasku yang tergeletak di ranjang. Membokar isinya, bermaksud menaruhnya ke lemari. Tapi aku malah menemukan sesuatu yang aneh setelah mengeluarkan beberapa pakaianku. Aku menemukan sebuah kertas di sana. Sebelumnya aku yakin kalau aku tidak memasukkan beberapa kertas ke dalam tasku tapi ini malah sebaliknya. Siapa yang menaruh kertas ini?
Aku mengambil bebetapa kertas tersebut. Memutar ke bagian sisi lain karena penampilan di sisinya hanya sebuah jejak dari tulisan di bagian sisi kertas yang lain. Dan di sana, aku dapat melihat sebuah gambar dari krayon. Bagian sudut bibirku tertarik melihat sebuah gambar yang memangnya tidak bagus seperti pelukis yang handal. Aku tahu pasti gambar ini hasil buatan Azril. Gambar khas seorang anak kecil yang baru belajar menggambar. Aku mendengus melihat gambaran Azril yang begitu menyentuh hatiku. Di gambar itu ada aku dan dia yang sedang berpegang tangan. Aku menaruh kertas tadi ke bawah, melanjutkan gambaran lain yang dibuat Azril untukku. Mataku menyipit mencerna apa yang digambar oleh Azril. Entah apa yang dia gambar, aku melihat seorang wanita yang keadaan tidur dengan sisinya yang penuh dengan krayon berwarna merah. Apa maksudnya merah itu darah? Aku beralih ke kertas berikutnya, dan kini yang terlihat bukan gambaran seperti tadi melainkan sebuah tulisan yang bertulis :
TINGGALKAN DIA
Tulisan kapital bercetak tebal yang tentunya bukan Azril yang membuatnya, tapi orang lain. Napasku tercekat saat beralih ke kertas selanjutnya. Jantungku berdegup dengan tak biasanya berharap aku bisa tenang tapi tak bisa. Tanganku mulai gemetar mendapat tulisan yang lain:
TINGGALKAN DIA, ATAU KAU AKAN BERAKHIR SAMA SEPERTIKU
Kutaruh tumpukan kertas itu ke tas kembali, berharap tidak pernah melihatnya lagi. Aku duduk di sisi ranjang, tercenung dengan keadaanku. Berusaha meredakan rasa ketakutanku. Sesekali aku mengusap wajahku dengan telapak tangan. Mengatur napasku yang sempat sesak. Apa maksud pesan berantai itu? Siapa yang harus kujauhi? Apa Zain?
*
Matahari kini merosot turun, membuat bulan merangkak naik ke langit, menggantung indah di sana. Sayangnya, awan tebal bergerak menghalangi sinarnya, menyelubungi seluruh lanskap dalam kegelapan. Angin mendesau, menggelepak tirai-tirai tipis yang tergantung di sekitar taman. Saat aku menoleh, helaian-helaian rambutku menutupi sebagian wajahku karena terpaan angin. Aku menyelipkan rambutku ke belakang telinga. Kemudian kembali menatap ke depan, memandangi sahabat-sahabat Zain. Kurasa cuaca dingin tidak dapat menghentikan acara reunian Zain.
Di sinilah aku, di taman yang sengaja di pesan untuk merayakan reunian sahabat-sahabat Zain. Aroma daging panggang, jagung yang dibakar sangat menyeruak di hidungku. Apalagi dengan minuman alkoholnya yang sangat kubenci. Aku tidak pernah menyukai minuman semacam itu. Suara tawa dan orang berbincang menghiasi indra pendengaranku. Mataku berkelana, mencari sesuatu hal yang menarik selain sosok hantu yang menggantung di pohon atau keasyikan pasangan kekasih yang sibuk berciuman (aku memutar bola mata saat melihat hal tersebut.) Sebuah tangan kekar melingkari pinggangku dengan posesif. Menghimpit tubuhku agar dekat dengannya. Aku sempat akan menumpahkan protesku, namun setelah aku melihat siapa pemilik tangan kekar tersebut. Aku menatupkan bibirku kembali. Menatapnya dengan dahi yang mengernyit. Zain mencodongkan wajahnya ke sisi telingaku dan berbisik. "Maaf, aku terpaksa melakukan hal ini. Aku tak bisa membuat sahabatku curiga atas pernikahan kita."
KAMU SEDANG MEMBACA
ALIYA (SUDAH TERBIT)
Horror#beberapa kali rank 2 dalam horor Entah anugerah atau kutukan! Memiliki kelebihan tidak menjadikan aku istimewa melainkan dikucilkan. Mereka menganggapku GILA hanya karena aku memiliki kemampuan yang tak semua orang punya. Bahkan, ibuku sendiri mem...
