Aku mulai terusik dengan suara yang ada di kamarku. Mataku berusaha terbuka walaupun sebenarnya, aku ingin melanjutkan acara tidurku. Dengan sedikit jengkel, aku membuka mataku. Ingin--setidaknya memberitahu si pengganggu untuk tidak melakukan bunyi yang dapat mengganggu tidurku.
Mataku mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk. Indra pendengaranku pun menangkap suara pancuran yang menyala. Kulihat pintu kamar mandi tertutup. Apa mungkin Zain yang sedang mandi? Sinar matahari menyorot wajahku lansung. Aku mengerang. Aku kalah cepat dengan sinar matahari. Aku menatap pintu kamar mandi yang tertutup hingga sebuah pergerakan dari kenop pintu kamar mandi, membuka pintu itu lebar-lebar membuatku langsung menyipitkan mataku. Berpura-pura sedang tertidur padahal tidak. Aku hanya memastikan saja kalau Zain yang memakai kamar mandiku. Dan ketika aku mengintip, saat itu pula, aku telah melakukan sebuah kesalahan besar. Memang Zain yang memakai kamar mandiku tapi aku tak berpikir kalau Zain tidak memakai baju saat keluar dari kamar mandi. Aku melihat Zain hanya melilitkan handuknya di pinggangnya. Dan menunjukkan kotak-kotak yang tercetak indah di perutnya, bulir-bulir air sisa mandi masih menghiasi dirinya. Rambutnya yang basah dan terus menetes dapat membuatku langsung menutup mata dan tak ingin melanjutkan apa yang kulihat. Shit! Shit! Kau bodoh sekali Aliya. Anggap kau tidak melihatnya, anggap kau tidak melihatnya.
Aku menarik selimutku berlaga kalau aku masih ingin tidur padahal tidak. Aku berusaha menutupi diriku yang sedang malu. Kutahu pasti pipiku mulai memerah, sialan!
Aku hanya bisa berharap bahwa Zain segera menyelesaikan kegiatannya. Pasalnya dia juga mengganti bajunya di kamar ini. Apa dia tidak malu? Aku seperti tak bisa bernapas. Aku tak bisa bergerak, ini benar-benar membuatku dalam posisi mendesak. Jika aku boleh memilih, aku lebih baik menatap hantu yang malam daripada yang ini. Tak lama Zain bersiap-siap, karena aku mendengar derit pintu yang tertutup, menandakan Zain sudah pergi. Mendengar hal itu, segera kubangun dari ranjang. Memastikan dugaanku benar. Aku bernapas lega, Zain sudah tidak ada lagi di kamarku. Beringsut bangun dari ranjang, kulangkahkan kakiku sedikit menuju pintu lemari karena aku melihat sebuah note tertempel di lemari tersebut.
Tertulis:
Cepatlah bersiap. Aku menunggumu di restaurant. Kuharap kita bisa sarapan bersama.
Aku terlonjak kaget melihat tulisan itu. Hingga tak dapat kupungkiri kalau aku benar-benar bahagia. Kakiku mulai melompat-lompat karena tidak bisa menahan rasa bahagia yang menyeruak dari dalam hatiku. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu tersebut. Akhirnya aku pun bersiap-siap, mengambil handuk yang sudah tersedia di penginapan ini. Lalu bergegas ke kamar mandi.
Mungkin ritual mandiku cukup lama, mau bagaimana lagi rambutku ini perlu dibersihkan. Handuk sudah melilit di tubuhku. Rambut yang basah terus saja menetes ke bahuku. Aku berjalan mendekati lemari pakaian dan mencari pakaian yang akan kupakai hari ini. Aku meringis, sedikit jengkel karena tidak begitu teliti. Aku hanya membawa sedikit baju. Aku tak tahu kalau Zain akan membawaku berlibur, ditambah dengan tak tersedianya toko pakaian di penginapan ini membuat keadaanku sangat menyedihkan. Kini aku hanya bisa berharap bahwa hari ini Zain akan membawaku pulang.
Tangaku terulur, mengambil pakaian yang akan kukenakan. Kutaruh pakaian tersebut ke atas ranjang, karena aku akan melepaskan handukku. Tanganku sudah memegang ujung lilitan handuk dan menarik ujung handuk itu. Saat aku ingin membuka handukku. Aku terkesiap kaget karena tiba-tiba saja pintu kamarku terbuka. Sontak aku membalikkan tubuhku dan tak membiarkan handuk itu jatuh. Rambutku yang basah pun mengikuti gerakanku kepalaku hingga sebagian rambutku mengenai leher dan daguku. Aku semakin dibuat terkejut saat melihat orang yang membuka pintu kamarku, tak lain adalah Zain. Responnya sama terkejutnya denganku. Bahkan dia kini menutup matanya.
"Oh shit!" Zain mengumpat keras. Aku hanya bisa menunduk. Malu dibuatnya.
"Maafkan aku Aliya. Aku tak bermaksud. Aku lupa mengetuk pintu dan lagi kau tak mengunci pintumu?! Aku datang kesini karena kupikir kau masih tidur dan bermaksud membangunkanmu. Dan Argh! sudahlah..." ucapnya yang masih menutup matanya. "Aku menunggumu di restaurant," ucap Zain lalu menutup pintu dengan keras.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALIYA (SUDAH TERBIT)
Terror#beberapa kali rank 2 dalam horor Entah anugerah atau kutukan! Memiliki kelebihan tidak menjadikan aku istimewa melainkan dikucilkan. Mereka menganggapku GILA hanya karena aku memiliki kemampuan yang tak semua orang punya. Bahkan, ibuku sendiri mem...
