Aku yakin, ketika kakakku datang dengan keadaan gusar bercampur marah di raut wajahnya. Itu berarti dia sudah tahu tentang perjodohanku. Setelah pembicaraan singkat di taman itu kakakku tidak lagi bicara. Dia bungkam, seolah menutup rapat mulutnya. Dia mengajakku pergi ke ruang keluarga. Tepat kami sampai di sana, hujan turun dengan begitu lebat. Langkah kaki kami sama-sama terhenti. Kak Firdaus memutar tubuhnya untuk memandangku.
"Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu Aliya?"
Aku menelan dengan sulit. Kau benar Aliya. Kakakmu sudah tahu segalanya.
"Apakah ibu yang memberitahu kakak?"
"Jangan memberikan jawaban dengan pertanyaan lagi."
"Aku sudah yakin dengan keputusanku," ucapnya cepat.
Mata kakakku memicing, dia berusaha mencari celah untuk menggunggat ucapanku barusan. Dia paling handal dalam hal ini.
"Apakah kau benar-benar menginginkan pernikahan ini?" Tanya kak Firdaus. Kau tentunya sudah tahu jawabannya kak. Aku sama sekali tidak menginginkannya. Tapi daripada aku memberitahu isi relung hatiku. Aku lebih baik bungkam. Tak menjawab apa yang sedari tadi kakakku ingin dengar dari bibirku. Kupalingkan wajahku darinya. Berusaha menghindar.
"Tatap mata kakak. Ketika sedang bicara Aliya!!" Aku tersentak kaget hingga membuatku terperanjat kaget. "Sudah kubilang aku menginginkan pernikahan ini terjadi. Tidak ada yang memaksaku," dustaku.
Napas kakakku gusar, pompaan dadanya naik turun, sebelah tangannya sibuk memijat dahinya. Dia memejakan matanya sejenak sembari menenangkan dirinya agar tidak terlarut emosi. Namun tanpa kusangka, yang kupikir pembicaraan ini akan berakhir dengan cepat malah membelok pada perbincangan yang selama ini aku selalu jauhi.
"Apa kau sudah memberitahu Reyhan. Kalau kau akan segera menikah?" Aku memandangnya dengan tidak percaya. Mendesah pelan karena ketidak ingianku untuk memberitahu sahabatku bahwa aku akan menikah dengan pria yang belum pernah kutemui sebelumnya.
"Belum, aku tak ingin memberitahunya," ucapku.
Dia berjalan mendekati diriku. Membuatku serasa menjadi sosok kecil yang akan terintimidasi oleh tatapannya. Dia menatapku dengan sorotan tajam yang biasa ayah tiriku pakai ketika menghardikku dengan sebutan orang gila. Aku tidak suka tatapan itu. Aku membencinya.
"Kenapa kau tak ingin memberitahunya?" Tanya kak Firdaus.
"Aku tak ingin mengganggu urusan pekerjaannya yang sedang sibuk di luar negeri. Lagi pula beberapa hari lagi dia akan pulang."
"Apa dia masih mencintaimu Aliya?"
Aku menggigit bagian dalam bibirku. Jangan, aku mohon. Reyhan tidak boleh mencintaiku terus-menerus. Dia harus melupakan aku. Aku tidak bisa membalas cinta dan kasih sayangnya. Lidahku kelu, bagaimana aku harus mengatakannya kepada kakakku sedangkan Reyhan adalah sahabatnya? Mengapa persahabatan pria dan wanita tidak bisa seperti kakak-adik saja?
"Aku harap tidak karena aku tak bisa mencintai sahabatku sendiri."
"Apa kau yakin?" Tanya kak Firdaus.
"Aku sangat yakin." Dia menarik napas panjang. Mengerjapkan matanya beberapa kali. Kemudian tersenyum lembut kepadaku. "Ya sudah kita lupakan masalah tadi. Hem... Bagaimana soal calon suamimu. Apa kau sudah melihat fotonya?"
Apa dia sedang bergurau? Pikirku. Seharusnya dia bisa membaca raut wajahku yang enggan membahas pria yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupku. Apa maksudnya bertanya semacam itu? Apa dia sedang mengejekku?
"Aliya.."
Aku menghela napas ringan,"aku ingin tidur. Hari ini aku sangat lelah."
"Ya sudah kalau begitu." Dia sama sekali tidak mencegahku. Dia membiarkanku pergi. Tapi yang aku harapkan adalah masalah yang menimpaku yang pergi bukan keadaan singkat semacam ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALIYA (SUDAH TERBIT)
Horror#beberapa kali rank 2 dalam horor Entah anugerah atau kutukan! Memiliki kelebihan tidak menjadikan aku istimewa melainkan dikucilkan. Mereka menganggapku GILA hanya karena aku memiliki kemampuan yang tak semua orang punya. Bahkan, ibuku sendiri mem...
