EMPAT PULUH SATU

4K 353 47
                                        

Aku menggeliat, merasakan ada pergerakan di wajahku. Seperti ada yang membelai pipiku juga rambutku. Mataku mengedip lambat menuju kesadaran. Objek pertama yang kulihat saat aku membuka mataku adalah Zain yang sedang tidur di sisiku dengan tangan yang menekuk, menahan kepalanya.

"Hai."

"Hai," sapaku balik sembari mengeratkan selimutku, kembali menutup mata. Aku tersenyum tipis. Kenapa mimpi rasanya seperti nyata ya? Tunggu... mimpi?!

Mataku tersentak terbuka lebar, mengubah posisiku menjadi duduk persis seperti orang yang terlambat datang masuk kerja.

"Kau?!" Pekikku.

Zain pun merubah posisinya sama sepertiku. "Ya, aku," ucapnya.

"Kenapa kau bisa masuk ke kamarku?"

"Kau tidak mengunci pintumu jadi aku bisa masuk ke kamarmu," jawabnya santai.

Sial! Aku lupa mengunci pintu kamarku.

"Mau apa kau ke kamarku?"

"Aku lapar dan aku ingin makan."

"Kan ada pelayan, mengapa kau meminta kepadaku?" Tanyaku sembari menyisir rambut depan ke belakang.

"Aku bingung padamu, kau meminta kepadaku untuk memulangkan mereka dan sekarang kau menyuruhku untuk mengembalikan mereka." Aku berusaha mencerna perkataan Zain tadi. Mengerutkan dahiku untuk berpikir sejenak. Sampai aku mengerti maksud Zain tadi.

"Apa? Kau sudah memulangkan mereka. Kapan?" Tanyaku.

"Tadi pagi sekitar jam delapan pagi," jawabnya. "Kita hentikan pembicaraan ini. Bisa kau membuatkanku sarapan? Dari tadi aku menunggumu bangun. Ini sudah jam sembilan dan aku sangat lapar."

"Kau tunggu ke bawah, aku akan menyusul," ucapku. Tubuhku bergerak untuk meninggalkan ranjang namun sebuah tangan telah mencegahku untuk pergi.

"Apa?" Tanyaku.

"Sepertinya aku harus mendapat sarapan kecil pagi ini," ucapnya lalu mencium bibirku sekilas. "Baiklah, setidaknya ini cukup untuk menahan laparku. Aku tunggu kau di meja makan." Zain memberi seulas senyum lebarnya kemudian beranjak dari ranjang dan berlalu pergi dari kamarku.

Aku terkujur kaku di tempatku, dengan mudahnya dia menciumku lalu pergi begitu saja. Mataku mengedip beberapa kali, menyadarkanku dari hipnotis yang sengaja ia berikan padaku. Aku mengembuskan napasku berat, beringsut dari ranjang. Melangkah lebar menuju kamar mandi, mendekati wastafel untuk membasuh muka dan menyikat gigiku. Setelahnya, menyusul Zain yang berada di bawah.

Langkahku terhenti sejenak saat melihat Azril tengah duduk manis di undakan tangga. Dapat kulihat tangannya yang kecil itu berada di matanya, berusaha menutupi penglihatannya. Azril dengan suara cemprengnya berhitung menggunakan bahasa inggris.

"One... two... three... four... six," ucapnya yang membuatku terkikik geli.

"Five dulu baru six," ucapku membenarkan.

Dia menjatuhkan tangannya dari mata, lalu metanya terbuka, menolehkan kepalanya untuk menatapku. "Tadi juga aku ingin bicara seperti itu," sergahnya membuatku terkikik geli kembali.

"Sedang apa kau di sini?" Tanyaku kepada Azril.

"Sedang bermain petak umpet dengan teman-temanku," jawab Azril.

"Jangan bermain di kamarku, aku tak ingin kamarku berantakan oleh mereka. Cukup kau saja," ucapku pada Azril.

"Aku sudah bilang pada mereka kalau mereka bermain di kamarmu nanti akan ada nenek sihir yang datang dan memarahi mereka," ucapnya sembari tertawa puas.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 15, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ALIYA (SUDAH TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang