"Ada apa Aliya?" Tanya Reyhan padaku.
Aku menggit bibir bawahku, berusaha untuk tidak menangis. Aku terus menggelengkan kepalaku, tidak ingin menjawab pertanyaan Reyhan. Hingga bahu kiriku dicengkeram kuat oleh Reyhan, dia mendorong tubuhku pelan. Aku menundukkan kepalaku saat jarak kami merenggang. Tangan Reyhan beralih, jatuh pada daguku, menaikkan wajahku agar mendongak menatapnya. Dia mengernyitkan dahi setelah melihatku berkaca-kaca.
"Ada apa Aliya?" Tanya Reyhan, kedua tangannya menangkup wajahku. Aku mengerjapkan mataku berulang kali, berusaha untuk tidak menumpahkan air mata yang hampir menggenang di mataku. Aku memberi dia senyuman tipis dan berkata, "aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," ucapku. Bibirnya terbuka lalu terkatup lagi saat aku dengan cepat mengalihkan pembicaraan ini.
"Oh ya.. ini tasku. Terima kasih," ucapku merebut cepat tasku dari lengannya. Berbalik lalu berjalan mendekati meja. Aku mengembuskan napasku pelan, meredakan sedikit syokku. Kemudian beralih membuka ritsleting tasku, menggeledah isi tasku mencari benda yang kumaksud, tapi aku tidak menemukannya. Aku terdiam sejenak, menyelipkan helaian rambutku ke belakang telinga. Aku mengalihkan sejenak pandanganku, menatap ke depan.
"Oh shit," umpatku sembari memejamkan mataku sejenak. Sulit sekali mencari benda yang kucari di dalam tas.
"Kenapa Aliya?" Tanya Reyhan.
Aku menatapnya, dia tak mengubah posisi tempat ia berdiri. "Benda yang kucari tidak ada di tasku," jawabku.
Dia menggidikkan bahunya, tersenyum ke arahku seraya berkata, "berarti keberuntungan masih belum berpihak kepada kita sayang."
Kaki Reyhan melangkah mendekatiku. Berdiri di sisiku, menarik kursi dan duduk di tempat tersebut. Mataku hanya beralih singkat padanya, memberi senyuman kecil.
"Tidurlah sayang, kau bilang kau lelah. Tidurlah, lagi pula ini sudah malam," ucap Reyhan. Saran yang bagus, tapi aku sama sekali tidak berminat untuk tidur. Ucapannya bagaikan angin yang berlalu, mataku memang terfokus kepadanya tapi tidak dengan pikiranku yang berkelana. Aku yakin, aku telah menaruh benda itu di tasku tanpa mengeluarkannya.
"Tunggu sebentar," ucapku, mengancungkan jariku ke atas. Aku kembali fokus ke tasku, menggeledah isi tasku untuk kedua kalinya. Mengambil benda-benda yang terdapat di tasku ke meja. Dari mulai ponselku sampai foto-foto Intan yang terdapat di buku hariannya. Aku sudah mengeluarkan isi tasku tapi tak ada benda yang kucari tersebut. Akhirnya aku memutar tasku, memegang bagian bawah tasku sambil menggerakan tasku ke atas dan ke bawah sedikit. Dan ya, terdengar suara gemerincing yang sedari tadi kucari. Kutatap benda mungil yang sudah tergeletak di meja, menyikirkan tasku di sisi, beralih menatap gemerincing kaki Intan dan mengambilnya.
"Ini maksudku!" Ucapku bersemangat.
"Maksudmu?"
"Kau ingat aku pernah menceritakan benda ini setelah aku berkunjung dari rumah Dyndha? Ini benda yang kumaksudkan. Gemerincing kaki Intan. Kupikir ini tidak penting tapi ternyata penting karena mungkin saja Zain atau Intan membeli benda ini di suatu tempat yang bisa kita datangi. Dan kita bisa mencari informasi tentang Intan," ucapku.
"Bisa aku lihat gemerincing kaki itu?" Tanya Reyhan, tangannya terulur, ingin melihat benda kecil yang tergenggam di tanganku. Aku terdiam, menimbang-nimbang keputusanku karena aku tak ingin benda yang kugengam ini hilang atau diambil kepada orang yang salah.
"Apa yang kau pikirkan Aliya?"
"Tidak ada," dustaku.
"Coba kau berikan gemerincing kaki itu kepadaku."
Aku tertegun diam setiap kali dia memintaku untuk memberikan gemerincing kaki Intan. Entah apa? Tapi ada sesuatu yang melarangku untuk memberikannya.
"Aliya, aku tidak akan menghilangkan gemerincing kakinya," ucapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALIYA (SUDAH TERBIT)
Horror#beberapa kali rank 2 dalam horor Entah anugerah atau kutukan! Memiliki kelebihan tidak menjadikan aku istimewa melainkan dikucilkan. Mereka menganggapku GILA hanya karena aku memiliki kemampuan yang tak semua orang punya. Bahkan, ibuku sendiri mem...
