REMEMBER FOLLOW, VOTE AND COMMENT :)
*
Godaan yang menyiksa untuk tidak tidur kembali, apa pun itu, aku memaksakan diriku untuk segera sadar dari lautan mimpi. Mengawali dengan mengerjapkan mataku, sesuatu yang begitu menarik dan tidak mengejutkan. Aku merenggangkan sebagian tubuhku yang terasa pegal. Kemudian mengubah posisi menjadi duduk.
"Rupanya kau sudah bangun," ucap seorang pria yang sedang termangu duduk di sofa. Aku mengerutkan hidungku, "ya, hem... jam berapa sekarang Reyhan?" Tanyaku.
Dia mengedipkan matanya, mengembuskan napasnya kasar. "Kurasa jam delapan malam," ucapnya.
"Apa?!" Aku memekik. Beringsut cepat dari ranjang, berusaha merapikan pakaian juga rambutku dengan tanganku sendiri. "Oh astaga, Reyhan! Kenapa kau tidak membangunkan aku?" Tanyaku.
Dia mengangkat bahunya, "kau tidur sangat lelap tadi. Aku tidak ingin mengganggu tidurmu," dia berkata begitu tenang, seolah tidak terbawa dengan kecemasanku.
"Tapi ini sudah malam Reyhan, dan aku tidak terbiasa pulang malam," ucapku. Aku berjalan masuk ke kamar mandi, mencuci wajahku dengan air yang mengalir. Memasukkan air ke dalam mulutku, berkumur-kumur. Aku dapat melihat pantulan Reyhan di cermin. Dia sedang menyenderkan dadanya di pintu.
"Yasudah, kau menginap di sini saja. Lagi pula aku masih ingin bersamamu," ucap Reyhan. Aku berbalik, menatapnya dengan tidak percaya. "Apa kau gila Reyhan?! Aku masih memiliki suami. Dan itu tidak pantas untuk aku lakukan," ucapku.
Dia menjauhkan tubuhnya dari pintu, berjalan tenang menghampiriku. Tangannya terulur, menyelipkan helaian rambutku yang basah ke belakang telinga. "Aku masih ingat bagian itu, Aliya," ucap Reyhan, dia menatapku lembut.
Aku mendesah peluh, memejamkan mataku sejenak. Berusaha untuk merendam rasa kesal yang memupuk hatiku. "Maaf tadi aku meneriakimu, aku hanya ingin masalah ini cepat selesai," ucapku.
"Tidak apa-apa. Baiklah aku akan mengantarmu pulang tapi aku bersiap-siap dulu sebentar," ucapnya. Aku menganggukkan kepala, menatap Reyhan yang melenggang pergi dari hadapanku. Aku menyelesaikan diriku untuk bersiap-siap. Berselang beberapa menit, aku sudah berada di ranjang, menunggu Reyhan bersiap-siap. Aku tahu dia berusaha untuk mengulur waktu yang ada. Secara sengaja dia ingin membuat aku bertahan di rumahnya. Sial, kalau aku pulang sangat larut, Zain akan meintrogasiku.
"Reyhan jika kau masih lama, aku akan pulang sendiri."
"Tidak! Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri," Reyhan berucap secepat dia masuk ke kamarnya sendiri. "Sial, rencanaku gagal," gumamnya yang masih terdengar olehku. Aku mengulum senyumanku. Dan dengan sangat terpaksa Reyhan mengantarkanku pulang.
*
Reyhan menepikan mobilnya, mematikan mesin mobilnya. "Sudah sampai," ucapnya, mendesah kecewa.
"Terima kasih," ucapku. Aku tersenyum dan membuka sabuk pengaman, bergerak ingin keluar dari mobil. Namun tangan Reyhan mencekal bahuku, menahanku untuk keluar dari mobilnya. "Ada apa?" Tanyaku.
"Apa besok kita bisa bertemu lagi?"
"Akan kuusahakan," ucapku. Aku tersenyum tipis kepadanya. Segera aku bergegas keluar mobil, berjalan menuju undakan tangga. Hingga langkahku harus terhenti saat Reyhan memanggil namaku. Aku memutar tubuhku, memandang dirinya yang menghilangkan jarak di antara kami. Kupikir dia akan bicara sesuatu yang penting padaku, tapi aku salah. Tepat dia berada di hadapanku, Reyhan mendekapku ke dalam pelukannya, membuatku terkesiap kaget. Aku menelan ludah dengan sulit. Aku sama sekali tidak membalas pelukannya. Pelukan itu hanya terjadi singkat tanpa pembicaraan apa pun. Aku mendongakkan wajahku untuk menatap Reyhan. Pria itu kini menyentuh pipiku lalu berkata, "aku mencintaimu."
KAMU SEDANG MEMBACA
ALIYA (SUDAH TERBIT)
Horror#beberapa kali rank 2 dalam horor Entah anugerah atau kutukan! Memiliki kelebihan tidak menjadikan aku istimewa melainkan dikucilkan. Mereka menganggapku GILA hanya karena aku memiliki kemampuan yang tak semua orang punya. Bahkan, ibuku sendiri mem...
