Di sepanjang jalan, hanya pohon saja yang mendominasi. Aku tidak melihat hewan-hewan yang dapat membuat mataku membulat sempurna. Seperti : kepakan sayap burung yang baru saja terbang atau burung yang baru saja bertengker, gerakan lincah Tupai dalam memanjat. Aku tidak melihatnya. Aku mendesah pelan. Agaknya rumah Zain cukup jauh. Dan lagi, apa rumah Zain berada di tengah hutan? Entahlah, aku tidak tahu. Hanya saja, melihat di sepanjang jalan ini tidak ada rumah, hanya pepohonan saja. Jadi aku beramsumsi sendiri kalau rumah Zain di sekitar hutan. Ini menarik. Di saat orang-orang lebih memilih tinggal pada dunia hiruk-pikuk perkotaan. Zain malah menghindarinya. Kurasa aku akan menyukai rumahnya. Bolehkah aku berharap untuk saat ini?
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti melaju. Dahiku mengernyit lalu menatap ke depan. Berusaha untuk melihat situasi yang terjadi. Dalam keadaan semacam ini, ada dua hal pertanyaan yang menyangkut di otakku : satu, aku tidak menemukan sosok wanita misterius itu lagi. Ke mana dia? Dua, apakah aku telah sampai tujuan?
Zain menoleh ke belakang, menatapku lalu berkata, "tetaplah di sini. Aku akan membuka gerbang rumahku dulu."
Kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban kesetujuanku. Dia pun beranjak pergi dari mobilnya. Berlari kecil menuju gerbang. Tubuhku bergerak, mencondong ke depan dengan tangan yang mencengkram tempat duduk di depanku. Yang awalnya mataku memincing tiba-tiba saja terbuka ketika Zain sudah membukakan gerbangnya lebar-lebar. Sehingga membuatku dapat melihat rumahnya yang begitu jauh dari kata sederhana. Rumah Zain menampilkan arsitektur klasik bercampur modern. Begitu indah. Namun, bukan itu saja. Ada hal lain yang aku rasakan pada rumah itu. Sebuah keganjalan. Sesuatu yang begitu sangat menyimpan, sebuah kenangan dalam pada pemilik rumah itu.
Pintu depan kembali terbuka. Menampilkan Zain yang masuk ke dalam mobil. Dia kembali berkutat pada urusan mengemudi. Tanpa membuang waktu yang ada. Zain kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda. Mobil hanya bergerak beberapa meter saja untuk masuk ke dalam halaman rumah Zain. Segera, Zain mematikan mobilnya. Pria itu lebih dulu keluar dari dalam mobil. Zain berjalan memutar di depan mobil, membukakan pintu mobil untukku. Aku menatapnya sejenak sebelum keluar dari dalam mobil. Ketika sepatuku menginjak tanah dengan berdiri di dekat pria yang kini telah berstatus suamiku. Aku tetap diam, tidak bereaksi apa pun terhadap perlakuannya. Zain juga tidak melakukan tindakan apa pun sepertinya mengajakku bicara dan berkata, "selamat datang di rumah baru kita sayang." Atau sepenggal kata yang biasanya digunakan oleh pasangan yang baru saja menikah ketika tinggal di rumah baru. Aku tidak mengharapkan hal itu, sangat jelas aku tidak ingin menghadapi situasi semacam penyambutan khusus yang dilakukan oleh suami kepada istrinya. Kulihat Zain melangkah pergi meninggalkan diriku. Dia pergi menuju bagasi mobil, mengambil barang-barangku tentu saja.
Aku menghembuskan napasku peluh. Mengangkat gaunku agar aku bisa berjalan dengan tenang tanpa terganggu oleh gaunku. Kakiku mulai melangkah ke depan mobil. Ingin lebih jelas melihat rumah Zain. Dengan keadaan yang begitu tenang. Aku menatap bagian depan rumah Zain. Salah satu tanganku memegang kap mobil. Mataku mulai menjelajahi hal yang bisa kupandangi. Hingga aku merasakan kilasan masa lalu menyerang diriku. Bahkan masuk ke dalam indra pendengaranku. Suara tawa seorang wanita, teriakan yang menyebut-nyebut nama Zain.
Degup jantungku berpacu dengan cepat. Suara jeritan wanita dapat membuat kegelisahanku menyebar hingga bagian punggungku. Aku begitu benar-benar terganggu karenanya. Tubuhku seperti mati rasa jadinya. Napasku pun berubah menjadi tercekat, begitu menyesakkan. Aku menoleh ke kiri dan kanan, berharap menemukan pemilik suara jeritan itu. Tetapi sayangnya, aku tidak menemukan apa pun.
Dan semua lenyap seperti kepulan asap di langit ketika Zain memanggil namaku, memintaku untuk masuk ke dalam rumahnya. Tanganku yang semula memegang kap mobil berpindah tempat menuju dadaku. Jantungku bahkan masih berdetak tak biasa. Aku memejamkan mataku sejenak, berusaha merendam rasa ketakutanku. Aku menghela napas panjang, menatap ke arah Zain yang kini sedang menaiki beberapa undakan tangga untuk sampai menuju depan pintu rumahnya. Tangannya bahkan tidak kosong. Dia dengan sangat baiknya membawakan barang-barangku. Aku mengikutinya dari belakang. Sesampainya di depan pintu. Pria itu segera menaruh sejenak barang-barangku ke lantai, merogoh saku celananya untuk mengambil kunci rumah. Lalu membukakan pintu rumahnya lebar-lebar. Dia memutar tubuhnya menyamping, menatapku sembari memintaku untuk lebih dulu masuk ke dalam. Dengan tenang aku melewati dirinya sembari melirik sekilas wajahnya. Derap sepatuku terdengar menggema setelah masuk ke dalam rumahnya tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALIYA (SUDAH TERBIT)
Terror#beberapa kali rank 2 dalam horor Entah anugerah atau kutukan! Memiliki kelebihan tidak menjadikan aku istimewa melainkan dikucilkan. Mereka menganggapku GILA hanya karena aku memiliki kemampuan yang tak semua orang punya. Bahkan, ibuku sendiri mem...
