REMEMBER VOTE AND COMMENT!
*
Teng.....
Teng.....
Teng.....
Aku menggeram kesal. Adakah yang bisa mematikan jam besar bodoh itu?! Suaranya terus mengganggu tidurku.
Untuk kesekian kalinya aku terbangun pada pukul tiga pagi. Aku kembali membuka mataku, mengerjapkan mataku berulang kali agar aku bisa memusatkan pandanganku. Kuubah posisi tubuhku menjadi duduk menyender. Menyisir rambut depanku ke belakang. Memandang ke arah tirai-tirai jendela besar yang terombang-ambing tertiup desiran angin lembut. Hingga suara kenop pintu yang berderak membuatku mengubah arah pandang.
Sekarang, aku sangat yakin kalau aku tidak sedang bermimpi.
Pergerakan kenop pintu kamarku begitu cepat, seolah ada seseorang di luar kamarku yang sedang memainkannya. Dengan ketakutan yang menderaku, aku langsung menyalakan lampu tidur di nakas. Tapi sialnya, lampunya tidak dapat menyala. Aku tidak ingin melihat sosok yang mengganggu. Aku pun memutuskan untuk mengubah posisiku menjadi semula, menarik selimutku sampai bawah mata. Aku mengintip di balik selimut.
Suara pintu yang terbuka menjadi tanda bahwa keadaan sedang tidak baik-baik saja. Pintu kamarku terayun lebar-lebar, menampakkan cahaya oranye yang masuk ke dalam kamarku yang gelap. Aku masih mengamati keadaan yang ada. Tatapanku tertuju pada pintu yang sedang terbuka lebar. Satu hal yang aku bingungkan, tidak ada satu sosok pun yang masuk ke dalam kamar ini.
Jantungku tiba-tiba hampir mencelos keluar saat melihat sebuah bayangan melintas cepat melewati kamarku. Tanganku gemetar dan dingin. Aku berusaha untuk tidak takut. Ya, aku harus menghadapi sosok itu jika perlu. Jika aku ingin memecahkan teka-teki di rumah ini, maka aku harus berkomunikasi dengannya. Dan bertanya apa tujuannya mengganggu diriku.
Kusimbakkan selimutku, mengambil ponselku lalu beranjak turun dari ranjang. Aku mulai melenggang pergi dari kamar. Menoleh ke kanan dan kiri, melihat situasi yang terjadi di luar kamarku. Setelahnya, aku berlari kecil ketika mendengar suara gemerincing kaki yang begitu nyaring. Suara gemerincing kaki itu membantuku untuk mencari tahu keberadaan sosok pemilik gemerincing kaki tersebut. Dan ketika aku masih berada di undakan tangga, aku dapat melihat dari tempatku berpijak. Ketika sosok wanita itu berada hampir di dasar tangga, dia menolehkan kepalanya kepadaku, menunjukkan wajahnya padaku.
Aku terpatung untuk sejenak karena kaget. Aku tidak menyangka, jadi sosok pemilik gemerincing kaki itu tidak lain adalah sosok wanita yang beberapa hari ini sering menampakkan wajahnya padaku. Dia menuruni tangga dengan gerakan yang begitu cepat, membuatku mau tak mau harus berlari untuk mengejarnya.
Di tengah pengejaranku, mencari keberadaannya tiba-tiba saja lampu di rumah ini padam. Kakiku berhenti melangkah, semua menjadi gelap. Dan seakan semua indraku mulai bangun, aku dapat mendengar suara benda yang menggelinding jatuh dari atas tangga. Kemudian suara larian juga tawa anak kecil. Aku berbalik, menyalakan senter yang ada di ponselku. Lalu mengarahkan cahayanya ke depan. Baiklah, bagian yang aku tidak suka dalam hidupku adalah jika ada wanita berambut panjang yang mengintip di balik lorong. Rambutnya begitu panjang, wajahnya sudah jelas buruk hingga kejadian tak terduga datang. Kepala wanita berambut panjang itu jatuh ke bawah. Aku memalingkan wajahku. Haruskah aku melihat kejadian semacam ini lagi?
Aku menahan napasku, aku mendengar sesuatu di belakang tubuhku. Suara gemerincing kaki! Segera, aku memutar tubuhku, mengarahkan cahaya senter ke depan. Cahaya kilat kembali melecut dalam intensitas yang begitu cepat. Menampilkan sosok wanita yang tengah berdiri dengan jarak yang cukup jauh dariku. Cahaya senterku masih menyorot dirinya sampai dia mengubah posisinya menjadi menyamping, tepatnya dia bergerak menembus sebuah pintu pada suatu ruangan. Aku mulai kembali berjalan, walau beberapa kali aku perlu menoleh ke belakang karena aku takut ada yang mengejutkanku dengan penampilan seramnya. Dahiku mengernyit, mataku memincing. Lagi-lagi aku menghentikan langkahku. Aku tercengang bukan main. Ruangan yang sosok wanita itu masuki adalah ruangan kerja Zain? Tapi... kenapa?
KAMU SEDANG MEMBACA
ALIYA (SUDAH TERBIT)
Terror#beberapa kali rank 2 dalam horor Entah anugerah atau kutukan! Memiliki kelebihan tidak menjadikan aku istimewa melainkan dikucilkan. Mereka menganggapku GILA hanya karena aku memiliki kemampuan yang tak semua orang punya. Bahkan, ibuku sendiri mem...
