EMPAT PULUH

4.6K 277 53
                                        

Aku duduk termenung, memikirkan ucapan kakakku. Jika saja bisa, aku akan melakukannya detik ini juga. Namun, keadaan mendesakku untuk tidak bisa berbuat apa-apa. Sulit sekali jika aku ingin bercerai dengan Zain, karena Zain tidak ingin. Sedangkan jika aku mengakhiri hubunganku dengan Reyhan. Aku tidak begitu yakin kesulitan yang aku tanggung bisa terbantu setelah kehilangan dirinya.

Kusingkirkan masalahku untuk sejenak, memusatkan pikiranku kepada Intan, bukan... bukan Intan tapi Tania. Tania adalah kakak tiriku. Dia keluargaku dan aku baru tahu hari ini. Yang membuatku miris adalah pertemuanku dengannya yang sudah tiada.

Tanganku mengepal kuat, berusaha menahan gejolak amarah yang melatup-latup di dalam diriku. Tekadku semakin kuat untuk mengungkapkan kematian Intan, mengungkapkan siapa dalang dari pembunuhan kakakku. Mungkin yang diucapkan Reya dan Carlina benar. Tuhan memang sengaja mendatangkanku ke hidupan Zain agar aku bisa tahu tentang Tania. Agar mengetahui siapa pembunuh kakakku. Kini aku tahu tujuanku dan aku akan menyelesaikannya. Suara bariton terdengar di telingaku. Dia memanggil namaku, membuatku menolehkan kepala. Mataku mengedip sekali, melihat Reyhan di sini. Aku beringsut bangun dari kursi. Mataku masih terpaku menatap dirinya. Reyhan memberi senyuman gamang dengan napas yang tersengal-sengal. Kedua alis Reyhan terangkat lalu berkata dengan sedikit tersendat-sendat, "aku mencarimu dan untungnya ibumu memberitahuku kalau kau ada di sini." Reyhan memberi jeda ucapannya untun bernapas sejenak kemudian melanjutkan, "aku dapat informasi bagus."

"..."

"Nama istri pertama Zain bukan Intan tapi--"

"Tania Evelyn Atmajaya," potongku.

"Ya, dia keluargamu," ucap Reyhan.

Gigiku bergemeretak, mataku berkaca-kaca. "Reyhan..." suaraku berubah menjadi bergetar. Pada akhirnya aku menangis, "Reyhan, dia... hiks... dia kakakku. Dia..." ucapanku tertahan di tenggorokan karena tiba-tiba saja Reyhan mendekapku dalam pelukannya, membiarkan aku menumpahkan kekesalanku dan amarahku dalam tangis. "Kenapa kakakku tidak kembali bersama kak Firdaus? Kenapa mereka tidak mencarinya?! Kenapa kak Tania mengubah namanya?! Dan parahnya adalah..."

"Kakakku dibunuh Reyhan... Dia kakakku. Tania kakakku," ucapku di sela tangisku.

"..."

"Aku tidak akan membiarkan pembunuh kakakku bisa berkeliaran bebas di luar sana."

Reyhan semakin mengeratkan pelukannya. "Tenang Aliya, kau harus tenang," ucapnya.

Perlahan-lahan tangisanku mereda. Pelukan Reyhan melonggar dan pada saat yang tepat Reyhan melepaskan pelukannya, menunduk untuk menatapku lekat. Tubuhku masih bergetar sehabis menangis. Jari Reyhan menyeka air asin yang masih tertinggal di pipiku.

"Jangan menangis lagi Aliya karena kau terlihat seperti nenek sihir yang menyeramkan saat menangis," godanya membuatku mencubit lengannya. Dia mengaduh kesakitan membuatku mendengus bahagia. "Nah seperti ini. Kau harus tertawa," ucap Reyhan.

"..."

"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Kau tahu? Aku tidak suka bau rumah sakit."

"Ya, baiklah kita pergi," ucapku lemah.

Dia menggandeng tanganku, membawaku keluar dari rumah sakit. Langkahku terhenti di depan pintu masuk rumah sakit.

"Ada apa?" Tanyanya menyadari aku tidak melanjutkan perjalanan.

ALIYA (SUDAH TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang