Seperti ketakutan yang menyerbu pikirannya selama ini.
Pepatah mengatakan, bagaimanapun bangkai yang terkubur elok pasti akan menimbulkan bau. Sebaik apapun menyimpan rahasia, pasti akan terungkap.
Fabian bertekad bahwa hari ini dia harus menyelesaikan semuanya. Fabian tidak ingin terus merasakan beban ini.
Apa yang dikatakan Rena waktu itu benar, sebaiknya mengatakan yang sejujurnya dan semua akan selesai.
Revan meraih ponsel yang berada di atas meja kerjanya. Menekan nomor orang yang akan dituju.
Panggilan pertama tidak di jawab. Fabian mencoba kembali menelpon nomor yang sama dan.... diangkat.
"Hallo, Fabian. Kaukah itu?" sergah orang di seberang.
Fabian tersenyum. Sudah lama sekali tidak mendengar suaranya.
"Hm. Kau di mana?"
"Kau yang di mana! Kau tahu, ada begitu banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu."
Fabian menghela napas. "Aku tahu, maka dari itu aku ingin kita bertemu dan akan aku ceritakan semua."
"Baik, di mana?"
"Akan kujemput besok," ucap Fabian mengakhiri percakapan singkat mereka. Tentu saja, tidak perlu berbasa-basi. Toh, sejak awal mereka tidak dekat.
***
Ke esokan harinya sejak pagi sekali Fabian sudah menunggu Annetta di apartementnya.
"Jadilah kekasihku," ucap Fabian membuat Annetta melongo.
"Kau gila!"
"Hanya untuk hari ini, setelah hari ini berakhir. Maka berakhir pula hubungan kita."
"Tidak, aku tidak ingin. Kau pikir bisa dengan mudahnya menjalin hubungan, mengawali dan mengakhiri sesuka hatimu. Aku tidak ingin mempunyai hubungan seperti itu," tukas Annetta.
Fabian menghela nafas, memejamkan matanya lalu berkata, "kumohon, hari ini saja. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Jadi aku mohon dan aku akan menceritakan semuanya padamu."
"Setelah ini aku punya beberapa kenangan tentang dirimu sebelum kau membenciku," gumam Fabian dalam hati sambil menatap sendu Annetta.
Annetta berpikir sejenak.
"Baiklah, kau janji akan menceritakan semuanya setelah ini?"
"Ya."
Fabian mengendarai mobil menuju suatu tempat. Pasar malam.
***
Fabian dan Annetta sangat menikmati kebersamaan sesaatnya.
"Awas!" seru Fabian menarik tangan Annetta ke pelukannya saat seorang pengendara melewati mereka dengan kecepatan tinggi.
Annetta yang berada di pelukan Fabian terkejut.
"Kau baik-baik saja, An?" tanya Fabian khawatir.
"Ya, cukup terkejut," ucap Annetta menarik napas lalu memukul dada Fabian. "Suaramu keras sekali! Aku hampir saja jantung. Ya Tuhan, kau mengurangi beberapa bulan dari hidupku, Bi!" sewot Annetta.
Fabian tersenyum dan mengacak rambut Annetta. Fabian merengkuh jemari Annetta dan mengaitkan pada jemarinya. Perasaan bahagia dirasakan oleh keduanya. Perasaan lama yang dulu pernah dilewati, namun terlupakan.
Annetta lagi-lagi melupakan tujuan utamanya menemui Fabian. Entahlah, Fabian seperti ramuan penghilang bebannya. Annetta hanya ingin merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan dan mungkin hanya bersama Fabian lah rasa itu ada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unrequited Feelings
Romansa#168 in Romance 20161212 (Pemenang The Wattys 2016 kategori Pendatang Baru) Semua yang terbaik sudah kulakukan, aku sudah berjuang, sudah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Kuserahkan semua padamu, tapi tolong perhitungkan lelahku. --Annetta...
