Annetta Bee
Senja menyapa. Tidak ada yang terasa Fajar sudah tergantikan. Dengan kelembutan warnanya, senja datang dengan jingga. Indah.
Matahari tergantikan, cukup untuk hari ini dia bekerja untuk menyinari bumi. Sekarang giliran para penyinar malamlah yang menggantikan tugas sang surya.
Gumpalan awan senja menghiasi langit.
Di sini, di bawah langit indah, aku terduduk sendiri di atas rerumputan. Dengan berbekal baju hangat dan syal yang melingkari leherku, pemandangan senja ini sudah satu minggu kunikmati sendiri sambil menunggu malam datang.
Sudah sekitar satu bulan setelah kunjungan ke makam Reihan.
Aku harap Reihan sudah bahagia sekarang, di sana. Setiap hari, dalam do'aku selalu kusebut namanya. Berharap Reihan beristirahat dengan damai di sisi-Nya.
Tidak terasa usiaku sudah hampir memasuki 24 tahun. Aku sudah dewasa ternyata. Kupikir aku masih remaja dilihat dari begitu banyaknya masalah dan yah... kalian tahu sendiri. Aku tidak pernah menyangka jika kisahku serumit ini, tidak penah sama sekali. Bak tokoh dalam novel, begitu banyak masalah yang menimpa. Selesai satu, timbul satu.
Terlalu rumit untuk dipikir dengan logika. Tidak dapat disangka dengan menerka.
Putusnya hubungan dengan Mas Revan setelah tujuh tahun bersama. Terkuaknya masa laluku, yang sempat terlupakan dari ingatan. Reihan dan Fabian adalah saudara kembar. Fabian yang menjadi Reihan. Dan Dyah yang mencintai Mas Revan.
Aku tidak menyangka jika usia 23 tahunku begitu menarik.
Berbicara tentang Mas Revan ada secuil rasa sakit di hati. Tak pernah sekalipun dalam hidupku pernah berfikir untuk mengakhiri hubungan dengannya. Namun, lagi-lagi takdir tidak menghendaki. Takdir ingin aku dan dia berpisah.
Jika boleh jujur dari hati yang paling dalam, rasa itu masih ada. Masih terukir dengan apiknya.
Masih teringat dengan jelas, bagaimana lembutnya sentuhan tangannya pada saat menggenggam tanganku, bagaimana ia memelukku hangat, menciumku, dan memasak untukku.
Sungguh hal yang tidak dapat terlupakan. Tetapi sekarang dia pasti sudah bahagia, ada Dyah di sana yang menggantikanku. Dyah pasti tidak akan membiarkan dirinya mendapatkan kesusahan seperti saat bersamaku.
Aku meraih liontin air mata yang diberikan Mas Revan ketika pulang dari dinas kerjanya. Aku tidak bisa melepasnya. Aku memang harus melupakan dan merelakan, karena akulah dia pergi. Karena aku membiarkan dia pergi, tapi tidak dengan liontin ini. Biarkan aku menyimpannya, bersama kenangan kami. Seperti aku menjaga cicin pemberian Reihan. Mereka akan terukir bersama dihatiku, disuatu sudut yang tak akan terjangkau lagi.
"Bagaimana?" tanya Mila yang berjalan mendekat dan duduk di sebelahku.
"Emm." Kukedikan bahu.
Mila duduk bersila di sampingku. Aku memang datang ke sini bersamanya. Sudah satu minggu kami di sini. Aku hanya ingin menyendiri dan menenangkan pikiranku. Mengevaluasi diri dengan semua hal yang telah terjadi.
Walaupun Mila bersamaku, tapi dia tidak banyak bertanya. Ini pertama kalinya setelah satu minggu kami di sini, dia mengajakku bicara. Biasanya dia hanya diam sambil melihatku. Seperti orang tua yang mengawasi anaknya.
"An, sudah satu minggu kita di sini dan aku tidak tahu permasalahan apa yang kau hadapi. Aku merasa tidak berguna sebagai seorang teman."
Aku diam sejenak memikirkan apa yang harus kuucapkan untuk menjawabnya.
Aku menunduk lalu menekuk dan menyatukan kedua kakiku, menyurukan wajahku di antaranya.
"An," panggil Mila. Sentuhan lembut dipunggung seakan meruntuhkan pertahanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unrequited Feelings
Romance#168 in Romance 20161212 (Pemenang The Wattys 2016 kategori Pendatang Baru) Semua yang terbaik sudah kulakukan, aku sudah berjuang, sudah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Kuserahkan semua padamu, tapi tolong perhitungkan lelahku. --Annetta...
