12

8.3K 306 1
                                        


Matahari yang masuk ke dalam ruangan kamar dari celah celan fentilisasi membuatku membuka mataku, satu hal yang membuatku tersenyum yaitu ketika aku membuka mata, orang yang pertama kali aku lihat adalah zevanya, iya istriku yang mungkin saat ini aku sudah mulai bisa mencintainya.

Oh tuhan, aku tidak tau sejak kapan aku mencintai istriku, tetapi yang aku tahu, aku hanya ingin tetap bersama dengannya, tetap berada di sisinya, menggenggam tangannya, melihatnya tersenyum.  Aku tidak akan bisa meninggalkan zevanya karena ada tiga kata yang membuatku tetap di sini, yaitu aku cinta dengannya.

Tanganku membelai rambut zevanya yang menutupi wajahnya, aku menatap wajah polos istriku yang sedang tertidur dengan tatapan senang. Senang karena di saat dia membuka matanya, aku lah yang pertama kali yang ia lihat, dan sebaliknya denganku.

Aku mempererat pelukanku seakan akan dia akan pergi meninggalkanku dan aku tidak akan membiarkannya.

****

Zevanya POV.

Tidurku terbangun karena aku merasakan sebuah lengan kekar yang memelukku dengan sangat erat, seakan akan aku akan pergi meninggalkannya dan dia tidak akan membiarkannya.

Mataku terpaku ketika melihat kak zero sedang memeluk tubuhku dengan sangat erat, ia seakan akan sedang berfikir, entah memikirkan apa hingga dia tidak sadar bahwa aku sudah terbangun.

"kak" panggilku dengan suara serak, bisa ku lihat dirinya langsung terkejut atas panggilanku.

"iy-ya" panggilnya kaku. Aku tersenyum padanya.

"tubuhku sesak banget, jangan meluk aku dengan sangat erat" kataku. Dia terlihat sangat salah tingkah, laku merenggangkan pelukannya.

"keadaan kamu baik baik saja kan zev? Enggak ada yang sakit?" tanyanya dengan cemas. Aku tersenyum.

"iya aku baik baik saja" kataku. Dia menghela nafas.

"kakak sangat cemas ketika kakak enggak bisa menemukan kamu di rumah, kakak terus mencarimu tetapi hasilnya nihil, kamu enggak ada" katanya. Aku yang mendengarnya menjadi merasa menyesal karena aku pergi tidak memberitahu kepada kak zero. Aku tertunduk sedih.

"maaf" kataku sambil menunduk, dia mengangkat wajahku dengan jari telunjuknya hingga aku bisa menatap matanya yang sedang menatap mataku. Entah lah, aku marasa di mata kak zero ada sebuah simbol ke tertarikan padaku.

"enggak apa apa, kakak tahu kalau kamu butuh waktu untuk menyendiri" katanya. Aku terdiam.

"jangan terlalu memikirkan masalah ini zev, jangan pedulikan hubungan kakak dengan alicia, percaya sama kakak,  kalau semua akan baik baik saja sama seperti semula" katanya lagi menjelaskan,  aku terdiam sambil menatap matanya.

"kakak enggak mau kamu stress zeva, kamu lagi hamil, kakak enggak mau kalau kamu dan bayinya kenapa napa" katanya. Aku mengangguk.

"maaf" kataku pelan, dia menggeleng.

"yaudah, kita mendingan pulang ke rumah dan setelah itu chek kandungan kamu" katanya. Aku mengangguk mengerti.

***

Aku dan kak zero pamit pulang ke pada rayn, tante via dan eva. Tetapi mereka memaksaku untuk tidak pulang ke rumah melainkan menginap di rumahnya dengan beberapa hari ini, tentu saja aku menolaknya karena aku tidak enak hati dengan mereka,  dan juga saat ini aku sangat ingin berdekatan dengan kak zero tanpa ada gangguan sedikit pun. Entahlah kenapa aku punya pemikiran seperti itu? Namanya juga bumil (ibu ibu hamil) kemauannya aneh aneh dan enggak masuk akal.

"zev sudahlah nginap sehari lagi disini" kata tante via. Aku menggeleng.

"maaf mama via aku tidak bisa, lain kali saja aku menginapnya ya" kataku dengan lembut Dia cemberut lalu mengangguk.

My Lovely Brother #wattys2017Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang