Bagian 14

498 32 10
                                    

Happy reading

Maaf kalau banyak typo bertebaran 😂😂
Sudah berusaha sebaik mungkin

Hanna POV

Bahagia? Sangat, menyesal pasti. Bisa bersama Nicho itu seperti mendapatkan jackpot besar, namun disatu sisi aku merasa menjadi perempuan yang paling egois.

Nicho tersenyum kearah ku, seakan tidak ada beban sama sekali dipundaknya, berbanding terbalik dengan keadaan ku kini.

Nicho melepas pekerjaannya begitu saja dan itu gara - gara aku, ternyata baru ku sadari bukan Nicho lah yang egois disini tapi aku yang sebenarnya tidak mengacak akan ucapanku sendiri.

"Nicho," panggil ku lirih dengan menatap manik matanya intens.

"Ada apa Na?" tanya Nicho sambil membelai rambutku pelan.

"Kamu gak nyesel kesini? Ninggalin pekerjaan kamu gitu aja?" tanyaku pelan dengan menyenderkan kepalaku dibahunya.

"Enggak, kerja kan masih bisa dicari Na, kalau aku kehilangan kamu, aku nyarinya dimana coba?" ucap Nicho memamerkan senyumannya, namun semakin membuat diriku merasa bersalah.

"Maaf ya Nic, ini semua gara - gara aku," ucapku penuh sesal dengan mata berkaca - kaca.

"Hanna kamu jangan ngomong kayak gitu, segala sesuatu yang kita mau pasti harus ada yang dikorbakan Na, aku mengambil keputusan ini juga gak sembarangan, jadi kamu gak usah merasa bersalah gitu ya," ucap Nicho mencoba menenangkan aku dengan tatapan teduhnya itu, aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Nicho yang benar - benar bijak menurutku.

Tidak terasa sudah seminggu Nicho berada di Batam dan selalu menemani kesaharianku.

Pagi ini aku dan Nicho memutuskan untuk jalan santai berdua.

"Gondong Nic," pintaku sambil menyuruhnya berjongkok dihadapan ku.

"Gak mau Na, kamu berat," ucapnya malas.

"Ih kok kamu ngomongnya gitu si Nic," balasku kesal.

"Kamu masih bisa jalan kan? Kenapa musti aku gendong," ucapnya dengan wajah datar.

Aku terdiam, tiba - tiba wajah Rion terlintas begitu saja, bahkan Rion yang bukan pacarku saja mau mengendongku malah dia yang mau mengdongku tanpa diminta, sedangakan Nicho, ah, aku mulai membanding - bandingkan.

Seandainya aja ada Rion disini pasti,,

"Ayo naik," ucapan Nicho membuat aku kembali tersadar dari lamunan, ku lihat Nicho berjongkok dihadapanku dan menepuk - nepuk punggungnya.

"Kamu ngapain?" tanyaku malas.

"Katanya mau digendong, ayo naik," perintahnya halus dengan sedikit melirik wajah bete ku.

"Ayo naik sayang, tadi aku cuma bercanda, jangan ditekuk gitu wajahnya," tambah Nicho, dengan segera aku menaiki punggungnya dengan kuat hingga sedikit menimbulkan bunyi.

"Akh, pelan - pelan Na," ucap Nicho pelan lalu mengangkat tubuhnya secara perlahan hingga berdiri tegak sempurna.

"Nyebelin," sungutku pelan.

"Aku cuma bercanda kok Na, jangan cepat marah dong nanti cepat tua," balas Nicho dengan melirikku sekilas.

"Ngapain liat - liat," ucapku kesal.

"Ih, kamu kalau marah nyeremin," ucapnya diiringin dengan cengiran.

"Jangan kayak gitu lagi Nicho, aku gak suka, bisa aja hati aku berpaling cuma gara - gara kamu bercanda terus - menerus," ucapku serius dengan terhentinya langkah Nicho.

"Maksudnya?" tanyanya dengan mencoba melihat kearah belakang.

"Dengar ya Nicho selama kamu disana bukan berarti aku setia banget ya sama kamu,,"

"Kamu selingkuh," potong nya cepat dengan menurunkan aku dari gendongannya.

"Dengar dulu dong Nicho," ucapku kesal setelah kini ia memberikan tatapan tajam.

"Aku gak pernah selingkuh, aku ya cuma punya teman laki - laki, mereka ngasih perhatian yang mungkin gak pernah kamu kasih ke aku, contohnya aja kayak tadi, aku cuma minta gendong tapi kamu gak mau, entah kamu tadi benar - benar becanda atau gimana yah aku gak tau lah, lalu disisi lain ada cowok yang malah ngotot banget mau gendong aku, kamu tau, aku jadinya banding - bandingin kamu sama dia, ngerti gak si Nicho," tuturku sejelas - jelasnya.

Nicho masih tetap diam, tatapannya sulit untuk ku artikan hingga akhirnya ia tersenyum lalu mengusap rambutku pelan.

"Tadi aku benar - benar becanda Na, aku janji lain kali gak main - main lagi sama kamu, jadi jangan banding - bandingin aku sama teman laki - laki kamu ya," ucapnya pelan lalu kembali berjongkok dihadapanku.

"Gak apa - apa ni aku naik," izinku sebelum menaiki punggungnya.

"Hm," gumamnya pelan namun masih terdengar olehku.

Setelah aku mengucapkan kata - kata itu Nicholas lebih banyak diam. "Nic," panggil pelan.

"Hm," gumamnya menyauti panggilanku.

"Marah?" tanyaku sambil mencoba melihat wajahnya.

"Enggak kok yang kamu bilang tadi
memang benar, maaf ya aku udah ninggalin kamu terlalu lama," ucapnya pelan. 

"Nicho," ucapku penuh sesal.

"Maaf ya aku gak maksud nyinggung perasaan kamu, kayaknya aku memang egois, jangan diambil hati ya Nic, aku masih tetap cinta kok sama kamu," tambahku lagi dengan mengeratkan tanganku di leher Nicho lalu tidak lupa mengecup singkat pipi kirinya.

Lalu aku dapat melihat Nicho tersenyum. "Itu yang buat aku gak bisa marah sama kamu, kamu selalu tau buat aku luluh, hem,"

"Aku juga cinta sama kamu sampai seterusnya, aku janji," tambahnya lagi diiringi dengan detak jantungku yang tiba - tiba saja terpacu lebih cepat.

Bersambung...




Dating In RelationshitTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang