Happy Reading...
Maaf kalau banyak typo bertebaran.
Hanna POV
Jantungku seakan berdenyut nyeri. Aku tidak menyangka Nicholas mengatakan kata - kata itu.
Aku tidak bisa menunggumu selama itu
Anjir, apa - apaan ini, aku sudah menjalin hubungan selama 6 tahun, bahkan orang diluar sana saja bisa melunasi cicilan mobilnya hingga LUNAS.
Tidak terasa setetes kristal bening meluncur begitu saja dari kelopak mataku.
Tidak bisa menungguku selama itu, kalimat itu terus terngiang - giang didalam otakku seakan kata - kata itu sudah melekat permanen disana.
Benar yang dikatakan Rion, tidak semua laki - laki mau menungguku selama itu, termasuk pacar ku sendiri.
Ternyata sakitnya bukan main, lebih parah dari pada tertusuk seribu jarum di seluruh tubuh.
Setelah Nicho dengan mudahnya mengucapkan kata - kata itu aku hanya mampu berlari menjauh dari pada melihat wajahnya kini yang pastinya dapat membuat emosiku tidak bisa terkontrol.
Hanya satu tujuan ku saat ini adalah menemui Rion sesegara mungkin, aku membutuhkannya sangat membutuhkannya hingga rasanya pasokan oksigen dalam rongga dadaku benar - benar menipis hanya untuk melihat wajahnya.
"Rion," ucapku parau, aku benar - benar membutuhkannya saat ini.
Terus ku langkahkan kakiku hingga kini aku sudah berdiri didepan sebuah rumah yang tidak lain adalah rumah laki - laki yang ingin temui.
Tok tok
"Eh Hanna ayo masuk sayang," ucap wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah tante Ratu.
"Tan Rionya ada?" tanyaku pelan.
"Rion ada dikamar dia lagi sakit Na," ucap tante Ratu pelan.
"Sakit apa tan?" tanyaku cepat.
"Hehe, segitu khawatir nya Hanna," ucap tante Ratu dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Hihi, cuma kaget aja tan, kirain orang kayak Rion gak bisa sakit," ucapku diiringi cengiran.
"Suka kamu aja deh Na, ayo masuk," ajak tante Ratu hingga akhirnya kami sudah berdiri didepan kamar Rion.
"Tente masih ada kerjaan, kamu bisa sendiri kan?" tanya tante Ratu sebelum menghilang entah kemana.
Crekk
Dari sini aku bisa melihat wajah pucat Rion dengan mata terpejam dan tidak lupa handuk kecil bewarna putih bertengger pas diatas kepalanya serta selimut tebal menutupi hingga batas bahu.
Aku sengaja berjalan dengan sedikit berjinjit agar tidak menganggu tidur pulas Rion karena terlihat jelas dari wajah polosnya kini.
Setelah aku duduk tepat di sampingan dengan segara tanganku menyambar handuk putih itu lalu merendamnya kedalam air dan kembali lagi menaruh diatas kepala Rion.
"Ma, Rion sakit," ucap Rion yang sepertinya tengah mengigau, tanpa kusadari kini bibirku membentuk lengkungan yang cukup jelas.
"Rion kangen sama Hanna ma," ucap Rion dan tunggu aku melihat air mata mengalir dari sudut matanya.
"Hanna," ucap Rion berulang - ulang kali membuat tubuhku memanas seketika.
"Rion," panggilku pelan dengan sedikit menguncang tubuhnya.
Dapat kulihat Rion mencoba membuka matanya perlahan dan menatap manik mataku intens.
"Hanna," panggil nya lirih, aku hanya tersenyum menanggapinya.
Brukk
Aku tidak menyangka dia memiliki tenaga juga untuk memeluk tubuhku seerat ini.
"Rion badan lo panas kali," ucapku dengan terkekeh geli melihat dia yang sepertinya enggan untuk melepas pelukan.
"Aku rindu sama lo, gara - gara lo ni gue jadi sakit," gerutu Rion dengan tangannya semakin erat memeluk pinggangku.
Crekk
"Eh, maaf mama ganggu ya," ucap sebuah suara.
"Akh, tante Ratu," pekikku seakan tersadar dengan posisiku saat ini dengan anaknya.
"Hihi, gak apa - apa Na lanjutin aja, maaf ya tante ganggu," ucap tente Ratu dan berakhir dengan suara pintu tertutup.
Kini tanganku berusah mendorong dada bidang Rion menjauh namun hasilnya nihil, ya ampun ni anak sakit aja tenaga nya kuat apalagi kalau enggak.
"Rion lepasin deh lo buat gue malu didepan tante Ratu," ucapku kesal karena bukannya melepaskan pelukan malah tangan Rion semakin erat memeluk pinggangku.
"Biarin lagian mama ngerestuin kok kalau gue sama lo," balas Rion cepat dengan ku rasakan hangatnya nafas Rion yang menerpa di ceruk leherku.
"Pede banget si Rion, siapa juga yang mau sama lo," balasku cepat dengan mengelus rambutnya pelan.
"Hihi, lo yakin gak mau sama gue?"tanyanya dengan posisi kami yang tidak berubah sama sekali.
"Hm," gumamku pelan.
Gue mau banget mah sama lo Rion, lo biasa buat gue nyaman.
"Mau sampai kapan meluk gue terus?" protesku cepat karena sudah sekitar sepuluh menit kami berpelukan.
"Sampai gue sembuh," jawabnya enteng tanpa beban sama sekali.
"Eh, lama dong,"
"Biarin," balasnya cepat.
"Eh, lo ya gak ada bedanya ya sakit sama gak sakit tetap nyebelin." sungutku dengan masih berusaha mendorong dadanya menjauh.
"Sakit Na," ucapnya pelan dengan aksiku yang terus mendorong dadanya.
"Makanya lepasin," seketika itu juga Rion melepaskan pelukannya, namun entah mengapa aku merasa sedikit kecewa karena Rion melepaskan pelukannya tanpa protes terlebih dahulu.
Crekk
Kami berdua sama - sama menoleh dan disana berdirilah Ali dengan menatapku dalam, eh ge-er banget ni gue 😂😂
"Kalian ngapain?" tanya Ali datar melihat tangan Rion berada diatas pahaku.
"Tangan lo Rion," tegur Ali dengan menatap sinis kearah tangan Rion.
"Yaelah tangan gue juga gak ngapa - ngapain," balas Rion tidak mau kalah lalu menarik tangannya cepat.
Bersambung...
Ngebut ni ceritanya, semoga suka ya. Terima kasih 😊😊

KAMU SEDANG MEMBACA
Dating In Relationshit
Chick-LitLDR --- Rasa nya LDR itu gak enak, gak ada yang merhatiin secara langsung, gak bisa ngelakuin runtinitas kayak orang pacaran, jalan, nonton biskop, makan bareng dan masih banyak lagi. Hanna termasuk salah satu gadis yang mengalami yang nama nya LDR...