Hujan adalah pengantar tidur yang baik, apalagi ketika hujan itu datang dimalam hari, seperti sekarang ini. Cukup dengan berbaring diatas kasur dan badan yang mulai diselimuti oleh selimut, maka rasa dingin karena kondisi hujan akan sirna dengan hangatnya sebuah selimut. Apalagi kalau selimutnya berbahan buludru, aku yakin amat sangat berat untuk beranjak dari tempat itu. Oh kasur dan selimutku...
"Masih jam 9 ini, dan lo udah mau tidur, Gi?"
Ups, lupa.
Itu Wendy, iya dia menginap dirumahku karena besok shubuh kami harus pergi ke tempat seminar diluar kota. Seminar seputar skin care , karena aku bekerja disebuah Skin Clinic didaerah bandung. Maka tidak ada salahnya aku meng-iyakan tawaran yang ditawarkan oleh atasanku, dan kuajaklah wendy sebagai partnerku.
"Besok harus bangun sebelum jam 4, Wend," jawabku sambil melirik kearahnya
"Ih lebay banget sih lo, begadang kali-kali bareng gue napasih?
Gi, Instagram bisa live dong. Udah tau belum, lo?" lanjutnya
Lalu ku jawab dengan sebuah anggukan saja karena aku sedang fokus ke layar handphone yang sedang aku pegang sambil menghadap kearah kiri.
"Gi, gue nanya, lo udah tau belum ig sekarang bisa live?" ucapnya ulang
"Iya wendy sayang gue udah tau, gue barusan ngangguk juga," jelasku padanya
Dengan kecepatan kilat, Wendy tiba-tiba merampas handphone yang sedang aku mainkan. Mungkin Wendy kesal karena aku sedikit mengabaikannya dan fokus kepada benda mati daripada benda hidup yang saat ini sedang berbaring disampingku.
Wendy ini teman masa SMPku hingga detik ini, sebenarnya masih ada Krystal, dan Irene.hanya saja dengan Krystal dan Irene aku baru mengenal dan dekat dengan mereka sejak awal masuk SMA. Tapi kami sangat dekat dengan satu sama lain, ko. Karena biasanya setiap satu minggu sekali kami wajib berkumpul, dimanapun itu. Sayangnya, karena aku bersama Wendy tidak setempat kerja dengan Krystal dan Irene, Sudah dipastikan berarti Krystal dan Irene tidak sedang bersama aku dan Wendy saat ini.
It has been a lot of time that we have passed along, dari masa polos menuju masa remaja lalu masa alay hingga sampai di detik ini yaitu masa yang masih alay-juga. Gak apa-apa alay, asal jangan kampungan ya.
"Hai, aku lagi sama Seulgi nih,"
Aku refleks menengok kearah Wendy saat dia mengucapkan namaku. Dan benar saja, wendy sedang live on Instagram. Eh tapi jagan salah lho, setelah aku lihat kearah handphonenya dan yang ngeview dia sedang live ig lumayan banyak, sekitar tiga sampai empat puluh orang meskipun tidak stabil.
Lima menit berlalu, dengan Wendy yang masih dengan live ig nya, sedangkan aku..
"Tetaplah bersamaku,
jadi teman hidupku,
Berdua kita hadapi dunia"
"Gi, lagunya buat Chanyeol bukan katanya?"
Lho, lho. Volume suaraku ketika nyanyi sekeras itu sampai terdengar orang yang sedang menonton instagramnya Wendy, Ya? Ok bisa terdengar karena jarak kami yang begitu dekat.
"Hm, buat siapa ya...."
"Wow, banyak juga yang nonton lo, Wend. Hai teman-temannya Wendy," sambungku lalu ikut gabung bersama Wendy dan penonton yang sedang menyaksikan live ig nya Wendy
"Yaiyalah, Wendy giloh," ucapnya bangga
Wendy memang terkenal diakalangan teman-temannya. Eh sebentar, temannya Wendy berarti temanku juga kan? Hm, pertemanan Wendy luas lebih luas dari aku dan yang lainnya. Mangkanya followers dia lebih banyak dari pada aku, belum lagi Wendy suka mengcover beberapa lagu lalu dia upload di akun instagramnya yang menyebabkan adanya beberapa followers baru berdatangan disetiap harinya.
YOU ARE READING
Home
Fiksyen Peminat[BEBERAPA PART DI PRIVATE, SILAHKAN UNTUK MEMFOLLOW SAYA TERLEBIH DAHULU] "Everywhere i go. I'll be back to my home, You." -Chanyeol "With you, im home.' - Seulgi
