Jam menunjukkan pukul 9 siang dan matahari telah bersinar dengan cerah. Tapi sosok di balik selimut putih itu masih terlelap. Dara bergerak di tidurnya, merasa terusik oleh sinar matahari yang mengintip lewat celah jendelanya. Dara membuka matanya, merasakan sakit kepala yang teramat saat ia mencoba untuk bangkit dari tidurnya.
Pintu mengayun terbuka, menampilkan sosok Chaerin yang membawa nampan berisi bubur pereda hangover. Chaerin tersenyum pada sosok Dara yang kini duduk di kasurnya dengan tangan menyentuh kepalanya.
"Selamat pagi Putri Tidur" sapa Chaerin berjalan mendekati Dara. Ia menyimpan nampan berisi buburnya dan membantu Dara merapikan rambutnya. "Bagaimana tidurmu?" tanya Chaerin yang kini duduk disamping Dara.
Dara menatap Chaerin "Siapa yang mengantarku kemari?" tanya Dara.
Chaerin tersenyum lebar, "Your knight and shining armor" ia lalu mengambil bubur yang ia simpan di meja nakas. "Kedua anakmu akan pergi berjalan-jalan bersamanya hari ini. Mereka ingin menghabiskan hari sebelum natal bersama Jiyong oppa dan aku mengizinkan mereka" ucap Chaerin. "Makanlah bubur ini untuk menghilangkan rasa sakit kepalamu" ucap Chaerin.
Dara menatap Chaerin tajam, "Siapa yang mengizinkanmu untuk melakukan itu? Apakah kau ibu mereka sekarang? Apakah kau kini menggantikanku sebagai ibunya?" tanya Dara sarkastik.
Chaerin hanya menggeleng, "Aku hanya tidak ingin bertindak egois seperti dirimu. Aku mengizinkan mereka karena mereka pantas untuk mendapatkan itu. Jiyong oppa adalah ayah mereka, jadi apa salahnya menghabiskan hari sebelum natal bersama ayahmu sendiri?" tanya Chaerin
"Ahh dan lagi pula ini sangat jarang terjadi, Jiwon dan Jihyeon merasa nyaman berada di sekitar Jiyong oppa. Setidaknya ia mendapatkan sosok ayah yang mereka cari. Dan aku yakin kedua anakmu akan sangat bahagia hari ini" ucap Chaerin polos.
Dara mendesah pelan, ia mengambil ponselnya yang berada di meja nakas disampingnya. Ia menghubungi nomor ponsel Jiwon dan langsung tersambung. Setelah dering kedua seseorang menjawabnya "Yeobseo" sapa seseorang disebrang sambungan.
"Dimana Jiwon?" tanya Dara dengan alis yang berkerut.
"Ia berada di toilet dan Jihyeon tidak ingin mengangkat panggilan darimu. Ia tengah fokus makan ice cream" jawab Jiyong, "Aisht jangan buat bajumu kotor seperti ini Jihyeon-ah. Berhati-hatilah" ucap Jiyong berbicara dengan Jihyeon.
"Kau sama cerewetnya dengan eomma" cibir Jihyeon, Jiyong hanya dapat mendesah berat, "Ada yang ingin kau sampaikan pada Jiwon?" tanya Jiyong.
"Jangan membawanya pergi terlalu jauh. Kembalikan keduanya sebelum pukul 2 siang ini atau aku akan melaporkanmu dengan tuduhan penculikan" ancam Dara.
"Kau terlalu berlebihan nona Park. Aku hanya ingin menikmati waktuku, lagi pula ini ide mereka. Dan jangan khawatir untuk keselamatan mereka, mereka aman berada di tanganku" ucap Jiyong tenang.
"Apakah itu eomma?" tanya Jiwon dari ujung sambungan.
"Berikan ponselnya pada Jiwon" perintah Dara
"Tidak. Kau, bicaralah dengan eomma, aku tidak ingin mendengar celotehannya. Ia pasti akan memintaku untuk berhenti bertemu denganmu" ucap Jiwon.
"YA! PARK JIWON AKU MENDENGARMU!!!" teriak Dara kesal, bisa-bisanya anak lelakinya mengatakan hal seperti itu.
"Aku tutup sambungannya sekarang. Dan ingat jangan khawatir akan keselamatan keduanya, aku bersama mereka. Ahh satu lagi, apakah mereka memiliki alergi sesuatu?" tanya Jiyong
Dara mendesah berat sebelum menjawabnya, "Mereka alergi terhadap dirimu" ucap Dara kesal.
Jiyong tertawa diujung sambungan, "Aku tau itu tidak benar. Katakan yang sejujurnya" ucap Jiyong lebih serius.
YOU ARE READING
We Belong Together
FanfictionSebuah kisah membosankan yang menceritakan tentang kehidupan Sandara dengan dua anak kembarnya. Dan masa lalu yang membuatnya enggan kembali ke negara kelahirannya. Dengan kedua anaknya ia merasa cukup, namun tentu saja keduanya merasa penasaran den...
