Merry Christmas!!

1K 135 28
                                        

Ponsel Jiyong berdering menandakan seseorang menghubunginya. Dengan berat hati Jiyong membuka matanya, mencari letak ponsel itu untuk menghentikan dering ponselnya tidak ingin mengganggu Jihyeon dan Jiwon yang masih terlelap dipelukannya.

Kiko is calling...

Mata Jiyong menyipit, tidak percaya pada apa yang ia lihat. Ia mengangkat panggilan tersebut sebelum suara berisik itu dapat membangunkan buah hatinya, "Yeobseo" suara Kiko terdengar dari ujung sambungan, sebelum ia sanggup berbicara.

"Something wrong?" tanya Jiyong langsung, matanya melirik dua anak kecil yang hanya bergerak untuk merubah posisi tidurnya.

"Just wanna say marry christmast" ya, seperti biasa. Wanita itu akan menghubunginya pagi-pagi sekali untuk mengucapkan selamat hari natal.

Jiyong mengangguk mengerti, "Ahh nado, kau di Jepang?" tanya Jiyong

"Eum, kau bersamanya?" tanya Kiko pelan, tersirat keraguan di suara wanita itu.

"Dia dikamar utama, sedangkan aku bersama kedua anaknya" jawab Jiyong menjelaskan, tangannya mengusap perut Jihyeon yang kembali bergerak dan kini membuka matanya sebelum kembali menutupnya dan terlelap.

"Ahh arraseo, sepertinya aku mengganggu waktumu, maafkan aku. Akan aku tutup sekarang, sekali lagi Selamat Hari Natal" ucap Kiko merasa tidak enak.

"Kau tak mengganggu, apakah kau sedang dalam pekerjaan?" tanya Jiyong, akan sangat canggung jika ia mematikan sambungannya sekarang. Wanita itu telah berkorban banyak untuknya. Tak ada salahnya ia menemani dan berbasa-basi dengan wanita itu bukan? Meskipun ia tahu itu beresiko tinggi.

"Ya, aku berada di tengah pekerjaanku" ucap wanita Jepang itu, "Aku sedang istirahat sekarang" lanjutnya, "Aku harus kembali, sampai jumpa" ucap wanita itu langsung mematikan sambungan, tak memberi kesempatan bagi Jiyong untuk menjawab bahkan bertanya lebih lanjut.

Jiyong menatap layar ponsel yang kini menampilkan homescreen dirinya bersama Jiwon dan Jihyeon yang ia ambil tadi siang. Pria itu mengangkat bahunya acuh, tak ingin memikirkan lebih jauh mengenai sikap Kiko barusan. Ia mengembalikan ponselnya ke meja nakas di samping tempat tidurnya dan kembali berbaring di antara dua bocah kecilnya.

Jiyong menatap keduanya yang kini merapatkan pelukan pada lehernya. Ia tersenyum memikirkan perandaian yang terjadi jika ia bisa mengulang waktu, andai ia tidak meninggalkan Dara, andai ia mendengar apa yang Dara katakan padanya dulu, andai ia melakukan apa yang Dara inginkan, semua ini tidak akan seperti ini. Dan kedua anak ini akan menjadi anaknya yang sesungguhnya, bukan hanya pengakuan sepihak atau harapannya saja.

Pagi tadi saat mereka pergi bersama tanpa Dara, pria itu bertanya pada dua anak ini dan mereka hanya dapat mengatakan bahwa ayahnya pergi meninggalkan Dara sebelum mereka lahir. Itu cukup membuat dirinya geram dan ingin memukul pria yang membuat wanita yang ia cintai merasakan itu.

---

Dara mulai terusik saat hembusan angin dari luar masuk melalui celah jendela kaca yang tertutup tirai putih. Ia duduk dari tidurnya, senyum tipis tercetak kala ingatannya mengulang sebuah kenangan lama. Kenangan akan permintaan yang juga di kabulkan oleh pria yang ia tinggalkan.

Wanita itu menyibakkan selimut tebal yang semalam menjaganya dari suhu musim dingin, maniknya bergerilya menatap sekitarnya. Ia tertegun saat manik coklat mudanya itu berhasil menangkap objek yang tak asing baginya. Ia yakin itu adalah koleksi dari laptop sang pria yang ia cetak ulang.

Foto pasangan mereka berjajar rapi di salah satu tembok ruangan itu. Pria itu pasti menyetaknya ulang karena semua foto asli dari semua foto yang terpajang itu berada di dalam sebuah box yang tertimbun di gudang rumahnya di Paris.

We Belong TogetherWhere stories live. Discover now