Their Wedding

1.2K 109 7
                                        

Hari ini adalah hari paling berbahagia di hidup Dara maupun Jiyong. Kalian tentu tahu apa yang terjadi pada keduanya? Mereka akan menikah. Di sebuah katedral yang cukup sederhana namun tetap terlihat elegan. Sangat menggambarkan Jiyong dan Dara yang elegan namun sederhana.

Jiwon dan Jihyeon berjalan menyusuri jalan menuju altar dengan gaun dan kemeja putih yang senada. Mereka menjadi malaikat penyambut pengantin, dengan Dara berjalan perlahan di belakang mereka bersama Sanghyun yang menggantikan ayahnya.

Setelah di tengah jalan, Sanghyun memberikan tangan kanan dan kiri Dara pada dua bocah kecil yang kini terlihat bahagia. Ia lalu melihat pria yang menunggu kakak perempuannya di altar, "Berikan kakak tercintaku pada pria yang mencintainya, katakan pada ayahmu untuk selalu menjaganya dan tidak menyakitinya" ucap Sanghyun memberikan jemari Dara yang tertutupi sarung tangan pengantin pada tangan keduanya.

Jiwon dan Jihyeon menganggukan kepalanya dan berjalan membawa ibunya ke arah altar untuk diberikan kepada ayah tercinta mereka. "Appa, aku mempercayakanmu untuk menjaga eomma. Buat ia bahagia dan jangan membuatnya menangis, jangan pernah membuatnya sakit hati karena aku begitu mencintainya" ucap Jiwon. Jiyong menganggukkan kepalanya.

"Appa" Jiyong melirik Jihyeon yang berdiri disamping Dara. "Aku tidak meminta apapun darimu, hanya jaga eomma dan berikan yang terbaik untuknya. Aku mencintainya seperti aku mencintaimu" ucap Jihyeon, Jiyong kembali menganggukkan kepalanya menandakan ia bersedia melakukan apapun yang diminta oleh keduanya.

Jihyeon dan Jiwon saling berpandangan sebelum memberikan tangan kanan yang di pegang Jiwon pada tangan kanan Jiyong. "Aku mempercayaimu appa" ucap Jiwon saat tangan Dara berpindah ke tangan Jiyong.

Jiwon dan Jihyeon kembali ke tempat mereka, sedangkan Dara dan Jiyong berjalan mendekati altar. Berdiri saling berhadapan di hadapan pastur yang akan memimpin acara sakral itu. "Kau akan membacakan janji sucimu sendiri?" tanya pastur, Jiyong melirik pastur itu lalu menganggukkan kepalanya. Pastur itu tersenyum lalu memberikan secarik kertas pada Jiyong.

Jiyong membersihkan tenggorokannya sebelum mengucapkan janji sucinya. "Sebelum aku mengucapkan janji suciku, aku ingin kalian semua tahu bagaimana aku mulai mencintai gadis di depanku ini" ucap Jiyong dengan suara baritonnya

"Kami bertemu di kafetaria saat kita berada di bangku SMA, Seunghyun yang mengenalkannya pada kami karena ia satu kelas dengannya. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, ia memberikan kesan manis dan feminim yang kentara" ungkap Jiyong, "Mata indahnya, mulut mungilnya, hidung yang tidak terlalu mancung ini dan wajah putih bersih seperti porselen ini membuatku jatuh cinta" ungkap Jiyong, pipi Dara merona akibat gombalan kecil Jiyong.

"Aku bahkan tidak percaya bahwa selama hampir di sisa umurku aku hanya mencintai gadis di hadapanku ini. Setelah hampir enam tahun bersamanya, aku membuat kesalahan sehingga ia pergi meninggalkanku." ucapnya, matanya masih menatap Dara dibalik kerudung pengantinnya.

"Aku begitu menyesal telah membuatnya sakit hati. Aku begitu menyesal tidak mendengarkan apa yang selalu ia katakan padaku. Aku begitu menyesal saat ia pergi dariku. Bahkan hingga saat ini aku takut jika berdekatan dengan wanita lain. Dan jika sedang bekerja dengan wanita lain, entah mengapa aku menjadi sedikit berhati-hati" ungkap Jiyong membuat para tamu tersenyum.

"Sandara Park, wanita yang telah melahirkan kedua anakku. Membesarkannya dan merawat mereka hingga menjadi kedua anak yang membanggakan." Ucap Jiyong, ia melirik kedua anaknya yang tersenyum. "Aku mencintainya dan akan terus mencintainya. Aku berjanji untuk selalu berada di sampingnya saat ia membutuhkan seseorang untuk bersandar. Akan selalu bersamanya apapun yang terjadi. Akan selalu menggenggam tangannya saat ia hilang arah dan membawanya kembali ke arah yang benar. Akan selalu merawatnya dan menjaganya, baik itu hati atau raganya. Akan selalu bersamanya disaat sakit dan sehat, miskin dan kaya, sedih dan senang. Membawa kebahagiaan di kehidupannya. Memastikan keamanan dan kenyamanannya. Hingga maut memisahkan kami berdua. Dan disini aku mengucap janji setiaku di hadapan Tuhan, Keluarga dan teman-temanku. Memintamu untuk bersedia menjadi istri dan ibu dari anak-anakku yang lainnya" ucap Jiyong mengakhiri janji sucinya.

Air mata Dara menggenang akibat perasaan bahagia. Ia hanya berharap satu saat ini, yaitu semua yang Jiyong katakan dan janjikan dapat pria itu lakukan dan kabulkan di kemudian hari. "Mempelai wanita kau bisa mengucapkan janji sucimu" ucap pastur saat Jiyong menganggukkan kepalanya menandakan pria itu telah selesai menyebutkan janji sucinya.

Dara menarik nafas dalam menahan air mata yang menggenang agar tidak jatuh, tangannya menggenggam erat Jiyong di depannya. Jiyong mengeratkan genggamannya pada calon istrinya. Dara tersenyum di balik kerudungnya, "Sebelum aku mengucapkan janji suciku, izinkan aku mengungkapkan perasaanku terlebih dahulu" ucap Dara meminta izin.

Ia kembali menarik nafasnya dan tersenyum, "Aku mencintai pria dihadapanku ini dengan segala hatiku. Bahkan saat ia menyakiti hatiku dengan tidak mendengarkan apa yang aku katakan aku masih mencintainya" ucap Dara, "Aku mungkin menjadi wanita paling bodoh dan egois yang pernah ada, hanya memikirkan apa yang aku rasakan tanpa memikirkan kekasihku yang mencintaiku ini. aku lebih memilih pergi dibanding mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi sehingga kesalah pahaman ini terjadi." Ucap Dara mengungkapkan apa yang ia rasakan.

"Jiyong Kwon, pria yang aku percaya untuk menyerahkan segala yang aku miliki. Pria yang aku percaya untuk dapat membawa kebahagiaan di kehidupanku selanjutnya. Pria yang aku percaya dapat membuatku bahagia hanya dengan melihat senyumnya di malam dan pagi hari. Pria yang aku percaya untuk hidup bersamanya hingga aku menghembuskan nafas terakhirku. Aku mencintainya, dan akan terus mencintainya. Aku berjanji untuk selalu ada di sampingnya saat semua orang meninggalkannya. Aku berjanji untuk tetap percaya padanya meskipun semua orang membencinya. Aku berjanji untuk selalu menggenggam erat tangannya apapun yang terjadi. Akan selalu berada di belakangnya untuk memberinya semangat dan mengatakan padanya bahwa ia tidak sendiri dan memberi tahunya saat ia kehilangan arah. Selalu di sampingnya saat susah dan senang, suka dan duka, miskin dan kaya, sehat dan sakit. Aku berjanji untuk merawatnya, menjaganya, menemaninya, dan bersamanya hingga maut memisahkan kita. Dan disini aku berjanji di hadapan Tuhan dan seluruh orang terkasihku. Aku bersedia untuk menikah denganmu dan menjadi istrimu hingga maut memisahkan kita. Menjadi istri dan ibu dari anakmu, bersedia merawat mereka bersamamu" ucap Dara, ia menarik tangannya dan menghapus air mata yang mengalir indah di pipinya. Begitupun dengan Jiyong, air mata pria itu mengalir akibat sesuatu yang meledak di dadanya.

Pastur disamping mereka tersenyum mendengar janji suci yang diucapkan keduanya. Ia dapat merasakan dengan jelas perasaan masing-masing. Perasaan yang sangat luar biasa, "Dengan kuasa yang aku miliki, aku umumkan kalian menjadi sepasang suami istri" ucap pastur, "Kau bisa mencium pengantin wanitamu" lanjutnya

Jiyong meliriknya lalu tersenyum, ia bahkan merona saat mendengar apa yang dikatakan pastur itu membuat pastur itu tertawa kecil. Jiyong membuka kerudung Dara, tersenyum kearah gadis itu, menyentuh pipinya lalu mengusapnya pelan sebelum mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Dara.

Ciuman singkat dan lembut itu membuat seluruh tamu undangan menepuk tangannya. Ikut berbahagia dengan akhir bahagia mereka. Jiyong melirik kedua anaknya yang kini menaikkan dua ibu jari mereka dengan senyum di wajahnya. Ikut bahagia atas pernikahan kedua orang tuanya.

---

Jiyong keluar dari kamar mandi dengan handuk di lehernya. Pria itu tersenyum saat melihat Dara yang tengah memakai cream malamnya di meja rias. Gadis itu telah berganti pakaian menjadi baju tidur kesayangannya.

"Siap dengan malam pertama kita?" tanya Jiyong berbisik di telinga Dara, gadis itu menatap cermin di depannya dan tersenyum malu. Tangan Jiyong yang berada di pundak Dara turun ke lengan gadis itu, mata mereka bertemu di cermin. Senyum mereka merekah mengingat hal apa yang akan terjadi beberapa waktu yang akan datang.

"Jihyeon dan Jiwon memberikan waktu untuk kita, haruskah kita memberikan mereka adik kecil?" tanya Jiyong lalu mengedipkan matanya membuat Dara tertawa kecil dengan tingkah menggemaskan suaminya itu. Oh god ia tidak percaya jika mereka telah menjadi sepasang suami istri kini.

Jiyong membali tubuh Dara agar ia bisa melihat wajah cantik itu. wajah cantik wanita yang telah menjerat hatinya. Wanita yang telah membuatnya jatuh cinta semakin dalam dan dalam setiap harinya.

"Haruskah kita memulainya sekarang?" tanya Jiyong seduktif. Dara tersenyum malu dan mengangguk, Jiyong mendekatkan wajahnya membuat Dara menutup kedua matanya. Merasakan hembusan nafas suami yang ia nikahi tadi sore.

"I love you Sandara Kwon" ucap Jiyong dengan senyum diwajahnya, terlihat begitu bahagia dan bebas.

"I love you more Jiyong Kwon" kalimat terakhir yang mereka ucapkan sebelum desahan dan geraman memenuhi ruangan berbentuk segi lima itu.

-TO BE CONTINUE-

We Belong TogetherWhere stories live. Discover now