Dara berjalan dengan air mata yang siap jatuh kapan saja. Ia menghapus air mata yang jatuh ke pipi kirinya. Matanya buram sehingga ia tidak bisa melihat jalan dengan benar. Seorang wanita tak sengaja tertabrak olehnya, "Eoh eonni?" sapa wanita itu.
Dara dapat mengenali suara itu. Kiko. Itu suara Kiko. Saat Dara akan pergi, Kiko menahan tangannya meminta Dara untuk memberikan waktunya walau sebentar. "Kau menangis?" tanya Kiko khawatir. "Apakah sesuatu terjadi?" tanya Kiko.
Mata Dara menyipit lalu ia tertawa pahit, "Apakah itu urusanmu nona Mizuhara? Dan tolong lepaskan tanganku. Aku harus kembali ke rumah secepatnya" ucap Dara, "Dan ohh ingatkan kekasihmu untuk menghargai seorang wanita!" ucap Dara, ia menghempaskan tangan Kiko dan berlalu pergi.
Kiko mengerutkan keningnya, Dara belum mengetahui bahwa mereka telah berpisah. "Aku telah berpisah dengannya. Aku bukan lagi kekasihnya" ucap Kiko cukup terdengar oleh Dara yang masih beberapa langkah di depannya.
Dara tertawa pahit sebelum berbalik, "Oh ya? Lalu siapa kau sebenarnya? Apakah kau kembali menjadi wanita simpanannya? Apakah kau kini menjadi tunangannya? Calon istrinya?" tanya Dara sarkastik.
Kiko menggeleng, "Itu semua tidak benar. Aku memutuskan untuk hanya berteman dengannya. Perasaannya padamu terlalu besar untuk aku ubah. Aku menyerah untukmu" ucap Kiko.
Dara menggeleng "Kau tidak perlu melakukan itu nona Mizuhara. Aku yakin Jiyong menginginkanmu. Ia tidak akan mengkhianatiku jika ia tidak menginginkanmu" ucap Dara pahit.
Air matanya kembali mengalir, dadanya terasa sangat sakit. Jantungnya serasa diremas oleh tangan tak kasat mata dengan kuat. "Kau salah eonni, Jiyong oppa tidak seperti itu. Ia hanya merasa nyaman berada didekatku. Ia hanya menganggapku sebagai adik perempuannya. Ia hanya menganggapku sebagai sahabatnya. Bukan orang yang ia cintai. Ia telah mencintai wanita lain yang bahkan meninggalkannya selama 5 tahun" ucap Kiko menatap mata Dara.
Mata Dara menutup erat, ia tidak lagi mau mendengar ucapan Kiko. Ia hanya membela Jiyong dan ia hanya ingin menghasutnya untuk kembali mencintai pria itu. Pria yang pernah menjadi bagian hidupnya. Dara kembali menangis saat kenangan bersama Jiyong terlintas di pikirannya.
"Temui kekasihmu dan kembali bersamanya. Katakan padanya bahwa waktunya telah habis. Aku tak bisa kembali padanya" ucap Dara berlalu pergi. Kiko menatap Dara yang pergi meninggalkannya. Ia mendesah berat. Memang cukup sulit dan Kiko tahu seberapa sakit perasaan Dara saat ini.
---
Jiyong menangkap sosok Kiko yang berjalan mendekatinya, "Selamat atas konsermu" ucap Kiko mencium pipi kanan dan kiri Jiyong.
"Gomawo" gumamnya tersenyum kecil.
Kiko mendesah, tahu apa yang baru saja terjadi padanya. "Kau bertemu dengannya?" tanya Kiko.
Jiyong menatap Kiko lalu mengangguk. "Sepertinya ia sangat membenciku" ucap Jiyong, ia benar-benar putus asa sekarang.
Kiko menggeleng. "Ia hanya belum siap bertemu denganmu. Jika kau benar-benar mencintainya, dapatkan dia dan katakan padanya bahwa kau benar-benar mencintainya" ucap Kiko menepuk pundak Jiyong.
Jiyong menggeleng, "Kau ingin menyerah begitu saja?" tanya Kiko, Jiyong menatap mata Kiko, "Ia masih mencintaimu. Aku tahu itu. Itu terlihat sangat jelas dimatanya, ia hanya masih merasa takut untuk bertemu denganmu lagi. Dekati dia dengan perlahan" ucap Kiko memberi nasehat.
Jiyong mendesah pelan, "Aku akan mencobanya" ucapnya dengan senyum yang coba ia buat.
"Aku kemari hanya untuk berpamitan padamu. Aku harus kembali malam ini juga karena ada beberapa masalah di Jepang" ucap Kiko.
YOU ARE READING
We Belong Together
FanfictionSebuah kisah membosankan yang menceritakan tentang kehidupan Sandara dengan dua anak kembarnya. Dan masa lalu yang membuatnya enggan kembali ke negara kelahirannya. Dengan kedua anaknya ia merasa cukup, namun tentu saja keduanya merasa penasaran den...
