06

59 6 0
                                    



"Lo punya mata nggak sih?!" Alika melebarkan matanya saat lagi-lagi ia melihat wajah laki-laki yang beberapa hari lalu, ia tabrak juga. "lo lagi?! Kenapa sih setiap gue ketemu sama lo bawaannya gue sial mulu?!"

"Gue kan udah minta maaf. Tempo hari juga gue udah mau nyuciin baju lo, tapi lo malah-"

"urusan kita waktu itu juga belom selesai." Dara yang tidak tahu menahu akhirnya mencoba menengahi dengan masuk diantara Alika dan laki-laki itu.

"Tunggu bentar. Lo kenal sama temen gue, Alika?" tanyanya pada laki-laki itu yang juga menatapnya karna tiba-tiba saja Dara sudah berada di dekatnya. "Al?" panggil Dara saat sahabatnya itu juga tak kunjung menjawab.

"jadi ini temen lo? bilangin ya ke dia, kalo salah itu tanggung jawab. Bukannya-"

"gue udah mau nyuciin baju lo, tapi lo sendiri yang marah-marah nggak jelas. Gue udah minta maaf tapi lo masih marah-marah. Gue tahu gue salah, trus lo masih pengen terus nyalahin gue gitu?" Potong Alika saat laki-laki tadi mulai menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk.

"Gini ya, gue nggak tau masalah kalian apa. Tapi Erga, Alika kan udah minta maaf, dia juga udah mau nyuciin baju lo kan? Yaudah selesai. Dan lo Al, balik ke dapur gih. Pelanggan lo mulai liat kesini semua." Alika menolehkan kepalanya dan melihat para pengunjung yang tengah menatap kearahnya. Dengan berat hati, Alika memutar tubuhnya dan kembali ke dapur.

"Luka lo waktu itu nggak kenapa-napa kan? Masih sakit?" Dara memalingkan wajahnya dari punggung Alika ke laki-laki yang berdiri didepannya sekarang.

"oh udah kok. Udah mendingan banget." Erga mengangguk sebelum mengambil tempat di meja Dara. Dara yang sedikit terkejut hanya duduk dengan jantung yang berdegup cepat. Bagaimana tidak, ia tengah duduk bersama salah satu idolanya. Tentu bukan rejeki nomplok lagi namanya. Dara menegak lagi Caramel Cappucinno nya saat Erga memanggil salah satu pelayan laki-laki yang berada di dekat meja mereka. "Emang gimana ceritanya lo sama Alika bisa berantem?"

"Panjang. Singkatnya, baju gue merah semua karna dia." Dara memperhatikan Erga yang sedang berbicara dengan pelayan laki-laki tadi. Setelah memesan minuman dan makanan kecil, Erga kembali menujukan perhatiannya pada Dara yang ada dihadapannya. "Lo kuliah? Dimana?"

"Di UI. Kenapa?"

"Lo asik. Can we be a friend?"


*****


Gavin menghela napas panjang saat dilihatnya setumpuk buku-buku note, diary, novel maupun album foto di rak-rak meja kamarnya. Beribu pikiran menggelayut di otaknya. Mencoba meyakinkan bahwa hal inilah yang harus ia lakukan. Hal terbaik yang harus ia pilih. Tepat saat ia membuka salah satu buku diary bertuliskan nama seseorang, pintu kamar Gavin terbuka. Fara yang niat awalnya hanya untuk mengajak Gavin makan, kini ikut serta duduk di samping Gavin dan menatap tumpukan-tumpukan buku yang tertata rapi.

"Are you okay, Boy?" Gavin tersenyum dan mengangguk. Alih-alih melanjutkan membuka buku yang ia ambil tadi, Gavin malah menutupnya dan mengeluarkan beberapa buku lainnya. "jangan bilang lo mau buang buku Zeva?"

"Udah waktunya buat gue, ngelepas dia Far. Kayak kata lo dulu. Zeva mungkin pergi, tapi dia bakal tetep ada. Dimanapun itu. Dan dengan adanya barang-barang yang berhubungan dengan Zeva, gue rasa gue nggak yakin. Gue nggak yakin kalau gue bener-bener ikhlas ngelepas dia."

Fara mengulurkan lengannya dan meraih punggung Gavin dengan lembut. Mencoba memberi kehangatan yang bisa ia ciptakan supaya punggung kokoh itu, tetap tegak. Dan Gavin tahu, itulah cara Fara menyalurkan salah satu kasih sayangnya.

"Zeva pasti seneng ngeliat lo begini. Apapun dan dimanapun dia sekarang, lo masih bisa kok bikin dia bangga." Gavin mengangguk. Mengeluarkan kembali buku-buku yang masih tersisa, ke dalam kardus. "coba dong, gue liat foto-fotonya boleh nggak?"

CroireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang