Erga merentangkan kedua tangannya saat layar laptop yang menyala berubah hitam. Ia melemparkan pandangannya pada Alika yang duduk di mejanya dengan wajah serius. Sesekali mengetikkan sesuatu dan wajahnya kembali lagi. Erga menghela napas panjang. Satu hal yang membuat Erga mau membuka diri dengan Alika selain sebagai manager adalah karna Alika adalah sahabat Dara. Mengingat tentang Dara, ia sendiri tidak yakin dengan perasaannya. Ia memang nyaman dengan kehadiran Dara. Namun kedatangan Dara pun tidak ada getaran yang ia rasa seperti pertama kali ia jatuh cinta dulu."Punya lo udah?" Lamunan Erga terpecah saat suara Alika menyusup ke telinganya. Erga menatap layar laptop yang telah hitam dan mengangguk mengiyakan. Alika bangkit dan berjalan kearah Erga. Mengambil laptop tersebut dan menutup layar yang masih terbuka. Disimpannya laptop tersebut di tas, sebelum menutup layar laptop yang ada di atas mejanya. "Berangkat jam segini, nggak keburu kan?"
"No."
"oke, kita berangkat sekarang."
"Bentar." Alika menghentikan langkahnya didepan pintu dengan tangan yang memegang gagang pintu. Erga menggaruk tengkuknya. Seharusnya tadi ada yang ia ucapkan. Tapi kenap tiba-tiba otaknya kosong dan kalimat yang akan ia lontarkan tadi hilang seketika. "Nggak deh. Lupa." Alika memutar bola matanya dan membuka pintu sebelum melangkah keluar.
****
Gemerlap cahaya lampu dari atas bukit tersaji di samping kiri jendela Alika. Membuat Alika menepikan tubuhnya ke jendela agar terlihat dengan jelas bagaimana indahnya bintang buatan yang tersaji di depannya. Alika melirik sekilas jam tangan di pergelangan tangan kirinya yang menunjukkan pukul 22.30. Pandangan Alika kembali jatuh pada hamparan lampu-lampu tersebut sebelum ia melihat hamparan yang jauh lebih luas di depan.
Erga melirik Alika saat tanpa sengaja ia menoleh ke samping kiri. Setelah Erga melihat apa yang menjadi pusat perhatian Alika, laki-laki itu menyalakan lampu sen kekiri. Membuat Alika menoleh kearahnya dengan tatapan bertanya.
"Gue butuh kopi kayaknya."
Alika menatap Erga yang mematikan mesin mobil dan bergerak keluar mobil. Karna ketertarikannya dengan hamparan lampu disampingnya, ia pun menyusul Erga keluar. Duduk di sebuah warung tenda yang diisi beberapa pasangan dengan secangkir kopi hitam panas dan sepiring singkong goreng yang masih hangat. Alika melihat Erga yang sedang berbincang dengan bapak-bapak penjualnya sebelum mengambil tempat di pinggir warung yang menyajikan pemandangan lampu-lampu secara langsung. Alika tersenyum kagum saat mengambil tempat duduk di samping Erga yang sudah lebih dulu menatap hamparan lampu tersebut.
"Dulu, waktu gue masih SMA, gue sering banget main kesini. Malem-malem cuma buat ngeliat beginian." Alika menatap Erga yang tengah tersenyum sambil terus menatap hamparan lampu yang semakin malam akan semakin indah. "sampai pernah suatu malam, gue dimarahin habis-habisan sama bokap karna pulang jam 3 pagi. Dikiranya gue ikut dugem dan minum. Tapi gue disini. Ngeliat lampu yang semakin malam, akan semakin indah dengan taburan bintang diatasnya."
Mau tidak mau, Alika ikut tersenyum mendengar cerita klasik masa SMA Erga. Alika ingat, dulu ia juga pernah merasakan hal yang sama. Hanya saja, ia menatap hamparan lampu itu bukan suatu hal yang indah. Hari dimana kakaknya menghilang adalah hari dimana hamparan lampu diatap rumahnya menjadi hal yang sangat menyedihkan. Dan tiba-tiba saja kenangan-kenangan pahit yang dulu selalu menggerogotinya perlahan muncul. Seperti halnya film hitam putih yang diputar di bioskop usang yang tak terpakai. Adegan demi adegan seakan mengajak Alika untuk kembali hadir dalam kelamnya hidup yang ia saja terasa lelah untuk melewati.
Mungkin ia harus berterimakasih pada bapak penjual yang telah memutuskan film maya tersebut dari dalam pikirannya dengan mengantarkan kopi hitam panas beserta sepiring ubi bakar yang harumnya menusuk hidung. Waktu yang tepat mengingat ia telah menggigil kedinginan karna suhu yang menurun drastis saat malam tiba. Untung saja ia mengenakan sweater yang setidaknya bisa meminimalisasikan suhu yang rendah.
Erga menyesap kopi hitamnya sampai berbunyi sebelum mengambil satu buah ubi bakar yang masih panas. Alika yang melihat itu, ikut mengangkat gelasnya dan menyesap kopi hitam tersebut. Bukan kali pertamanya Alika meminum kopi hitam. Dulu, saat ia mati-matian belajar untuk mencari beasiswa, ia seringkali meminum kopi hitam meskipun Ibu melarangnya. Dan mungkin setelah beberapa tahun kemudian, ia baru merasakan kopi hitam lagi sekarang ini.
"Gue nggak tahu kalo lo suka juga sama kopi hitam." Alika melirik Erga dan tertawa kecil.
"Nggak suka juga sih. Cuma dulu pernah berteman baik sama dia." Erga mengerutkan keningnya saat Alika kembali menyesap kopi hitamnya. "Belajar. Buat beasiswa. Gue mencoba berteman dengan kopi hitam karna cuma dia yang nemenin gue." Erga tertawa kecil sebelum kembali menatap hamparan lampu didepannya.
"ngomong-ngomong, kuliah seseru apasih?" Erga menatap Alika dengan alis terangkat. Dia benar-benar terlihat ingin mendengarkan opini tentang kuliah dari bibir Alika.
"kuliah seseru apa? Buat gue, kuliah sama sekali nggak seru. Buat gue, kuliah sama aja kayak lo belajar tapi pada akhirnya lo nggak tahu apa yang bakal terjadi di masa depan. Bisa aja lo beruntung dapet kerjaan yang sama dengan prodi yang lo pilih, tapi nggak sedikit juga yang nyelempang dari prodi asal. Kuliah itu cuma buang waktu lo dengan ikatan tugas, praktek, presentasi, skripsi dan sidang. Jadi, buat lo yang tanya seseru apa kuliah, kayaknya harus lo coret deh dari daftar kata seru. Kalo lo tanya apa yang seru, Dufan juga seru." Erga tersenyum lebar mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan Alika. Jauh dibandingkan opini kuliah versi Dara yang sangat menyanjungkan kampus dan prodinya.
"kalo gitu, kenapa lo harus mati-matian ngejar beasiswa buat kuliah? Kata lo nggak seru?" Alika menghela napas panjang sebelum menghembuskannga kembali.
"Gue cuma mau ngelakuin hal yang mungkin bisa ngebuat orang yang gue sayang bangga sama gue. Meskipun gue nggak tahu apa dia bangga atau nggak sama gue."
"Nyokap bokap lo jelas-jelas bangga sama lo. Orang tua mana yang nggak bangga sama anak yang bahkan pikirannya udah lebih dewasa. Gue yakin, nyokap bokap lo pasti bangga." Alika tersenyum kecut melihat Erga yang sangat antusias.
"nggak semua hal harus dilihat dari luar." Erga mengerutkan keningnya mendengar kalimat balasan dari Alika.
"Maksudnya?" tanya Erga yang menatap Alika tengah menyesap kopi hitamnya.
"lo sendiri, kenapa nggak milih kuliah? Kenapa nggak nyobain sendiri gimana serunya kuliah tanpa harus mati-matian ngejar beasiswa dan mengorbankan malam lo dengan ditemani kopi hitam panas?"
"Entah. Gue nggak minat kuliah. Passion gue kayak di musik, bukan di akademik. Dan beruntung orang tua gue nggak mempermasalahkan itu. Gue bisa dengan musik. Tapi gue belum tentu bisa dengan kuliah. Semacam, ada magnet yang narik gue buat milik musik ketimbang kuliah."
"lo bisa masuk kuliah prodi seni yang musik. Kenapa nggak coba masuk kesana?" Erga mengangkat kedua bahunya.
"gue lebih suka praktek ketimbang teori. Gue lebih suka melakukan daripada dilakukan. Dan gue lebih suka act daripada talk. Apalagi kalo gue bakal praktek dan sidang kayak yang lo katakan tadi." Alika menatap Erga lama. Sampai tatapan mereka yang bertemu, Alika tertawa. Membuat kerutan di dahi Erga perlahan muncul.
"Gue kira lo orang yang lebih suka ngomong ketimbang bertindak. Setelah ketemu lo marah-marah di restoran dan caffe waktu itu, gue fikir lo adalah orang yang lebih mentingin teori ketimbang tindakan." Erga tertawa kecil.
"nggak semua hal harus dilihat dari luar." Alika mencebikkan bibirnya saat kalimat yang digunakan Erga adalah kalimat yang tadi ia gunakan. Jam menunjukkan pukul 1 pagi dan para pedagang warung lesehan itu mulai membereskan dagangannya. Erga baru akan bangkit untuk membayar pesanannya saat suara Alika terdengar. Melontarkan kalimat yang baru tadi siang menggelayuti pikirannya.
"Lo sama Dara pacaran?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Croire
Teen FictionDekapan itu hangat. Namun tak lebih hangat dari pelukan pengiring senja pada suatu waktu. Tak lebih hangat dari lekuk senyum kala rembulan berpendar dilangit cakrawala. Tak lebih hangat dari kenangan yang lebih dari berjuta kali disingkirkan, namun...