29

39 5 0
                                    



Acara selesai sekitar pukul 7 malam. Para crew sibuk mondar mandir untuk membereskan perlengkapan konser yang masih tersisa. Para artis lain juga sudah kembali ke hotel masing-masing untuk beristirahat. Dan Alika sedang menyantap sepiring spaghetti ketika tiba-tiba saja Erga menarik kursi di hadapannya, dan duduk disana. Alika sedikit terhenyak saat tahu laki-laki itu sengaja mengambil tempat dengan Alika.

Karna perasaan yang tidak enak dan canggung, Alika mencoba untuk bangkit dan kembali ke kamar hotel saat suara berat milik Erga terdengar. Menginterupsi Alika agar tidak pergi dari tempatnya. "Lo nggak bisa merintah-merintah gue," balas Alika tanpa sadar kalau mereka sudah menjadi pusat perhatian di ruangan tersebut.

Erga yang tadinya menatap penuh makanannya, kini mendongan dan menatap tajam Alika. Sementara Alika, melemparkan pandangannya entah kemana. Pikirannya tidak sedang tertuju pada apa yang dilihatnya sekarang. Pikirannya tertuju pada laki-laki yang dengan santainya, memerintah Alika untuk tetap tinggal.

Belum sempat Alika pergi dari sana, Erga telah menarik lengan Alika menuju halaman belakang hotel. Ada suara gemericik air yang terdengar. Kolam renang yang tenang membuat pantulan sinar bulan menjadi lebih indah.

Alika menyentakkan genggaman Erga dan menatap laki-laki itu tajam. "mau lo apa sih?" tanya Alika dengan nada tinggi.

"Lo masih marah karna gue ngungkapin perasaan ke lo? Emang apa salahnya sih Al, kalo gue sayang sama lo? Emangnya harus ya gue jadian sama orang yang bahkan nggak ada di hati gue?" tanya Erga dengan nada tinggi. Alika terdiam. Tiba-tiba saja suaranya menghilang entah kemana. "Lo nggak bisa nyalahin orang buat sayang sama lo. Oke, gue juga sayang sama Dara. Tapi gue lebih cinta sama lo. Gue nggak cinta sama Dara, dan lo nggak bisa maksa gue buat nerima dia jadi bagian hidup gue-"

"Tapi Dara sahabat gue, Ga. Gue nggak mungkin khianatin sahabat gue sendiri. Gue tahu gimana sakitnya, Ga. Gue nggak mau orang yang gue sayang, ngerasain hal yang sama kayak apa yang gue rasain. Kalo gue boleh jujur, gue juga sayang sama lo. Tapi apa selanjutnya? Gue bakal jadian sama lo, dan khianatin sahabat gue sendiri? Gitu? Itu mau lo?" Kini giliran Erga yang terdiam. Ia tidak pernah tahu kalau Alika punya masa lalu yang kelam.

"Gue cuma punya Ibu sama Dara. Kalo gue khianatin dia, gue bisa apa? Berdiri sendiri itu nggak gampang. Dia yang selalu ada buat gue. Dan gue bakal jadi orang ter-berengsek kalo gue khianatin sahabat gue sendiri. Gue sayang sama lo, tapi gue nggak bisa bikin Dara sakit hati-"

"Tapi kenyataannya, lo udah nyakitin hati gue Al," sahut seseorang yang membuat Alika, juga Erga menoleh. Seorang gadis berambut pirang ikal, berdiri disana. Membawa seikat bunga. Air mata telah mendominasi wajah gadis itu. Sontak, Alika berlari kearah Dara yang mulai terisak.

"Ra, lo sejak kapan ada disini?" tanya Alika gugup. Jantungnya berdegup cepat sekarang. Perasaan takut, panik dan cemas jadi satu. Dia baru tahu akhirnya. Bagaimana perasaan seseorang yang tertangkap basah.

"Nggak penting sejak kapan gue disini. Gue cuma bilang makasih udah jadi sahabat gue. Akhirnya gue tahu, selama ini kalian tour kerja bareng itu karna ada sesuatu diantara kalian. Gue nggak nyangka lo setega ini sama gue Al. Gue tahu lo nggak bisa percaya sama sembarang orang. Gue tahu lo pernah dikhianatin sama bokap dan kakak lo. Tapi ini cara lo membalaskan dendam lo ke mereka? Kecewa gue. Gue nyesel punya sahabat kayak lo!" Ungkap Dara dengan nada tinggi. Air mata terus menetes di kedua sudut mata Dara.

"Ra-"

"Jangan pernah temui gue lagi. Gue muak liat muka pengkhianat kayak lo!" Potong Dara sebelum menghilang di lorong yang berbelok menuju lobby hotel. Alika tumbang. Ketakutannya selama ini, terjadi. Dan ia merasakannya sekarang. Lebih sakit dari yang ia pikirkan.

Belum sempat ia bangkit dan meninggalkan halaman belakang hotel saat sebuah keributan terdengar dari arah belakang. Alika memutar badannya dan mendapati Erga yang tersungkur ke bawah, juga Gavin yang berdiri di hadapan laki-laki itu dengan tangan terkepal. "Gue udah pernah peringatin lo tentang ini kan? Ini alasan gue nyuruh lo mundur! Gue ngeliat lo meluk Alika di balkon kamar lo. Saat itu juga, bayangan Dara terlintas di otak gue. Gue nggak mau salah satu diantara mereka sakit hati, Ga. Tapi apa? Lo yang akhirnya nyakitin mereka berdua. Nggak cuma salah satu, tapi dua, Ga!"

Erga mengusap sudut bibirnya yang sobek dan berdarah. Hubungan persahabatan Alika dengan Dara sudah hancur, ia tidak mau kalau persahabatan Gavin dan Erga juga ikut hancur.

Alika berlari ke tengah-tengah keduanya. Merentangkan kedua tangannya sambil sesekali menyeka air mata yang sudah mengucur begitu deras. "Stop! Kalian apa-apaan sih? Cukup gue sama Dara yang berantem, kalian jangan!" teriak Alika pada keduanya.

"Gue nggak suka masalah gue berimbas pada orang lain. Ini masalah gue, bukan kalian. Jadi stop buat saling menghakimi. Vin, makasih karna udah peringatin Erga. Tapi please, semua masalah nggak harus diselesein pake kekerasan. Dan lo Ga," Alika kembali menyeka air matanya sembari menatap Erga tajam. "Makasih karna udah bikin gue sayang sama lo. Makasih karna udah bikin Dara lebih bahagia. Tapi lain kali, lo nggak perlu ngedapetin semuanya, cuma buat kenyamanan lo semata. Sekali lagi, makasih karna udah bikin sahabat gue pergi." Dan Alika pergi meninggalkan mereka berdua yang terdiam.

Orang pertama yang pergi ninggalin halaman hotel adalah Gavin. Erga meringis ngilu saat Naufal datang tergopoh-gopoh kearahnya. "Sob, lo nggak kenapa-napa kan?" tanyanya panik. Ia sempat menahan Alika tadi. Tapi ternyata, Alika lebih ganas kalau marah.

Naufal membantu Erga untuk duduk di salah satu bangku dekat kolam renang. Laki-laki itu menatap luka sobekan di sudut bibir Erga dan masuk ke dalam untuk meminta P3K sebelum kembali ke tempatnya. "udah gue duga, kalian berdua ini punya masalah yang serius. Nggak mungkin kan cuma karna lo telat berapa jam sampe Gavin nonjok lo. Dan gue akhirnya tahu kalo masalah kalian adalah cewek. Apalagi ceweknya manager kita sendiri."

"Lo bisa diem nggak? wajah gue ngilu, jangan lo tambahin lagi ngilunya." Naufal menutup mulutnya. Mencoba fokus pada luka Erga yang darahnya mengering dengan cepat.

CroireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang