Chapter special his POV.
BGM : Ed Sheeran - Perfect
(atau lagu baper yg selow lainnya. Hehe.)
❇
.
✳
.
❇
Tak tahu sudah keberapa kali aku jatuh cinta kepada gadis sederhana yang selalu berhasil membuatku ikut tersenyum saat seulas senyum manis terpatri Indah di bibirnya.
Tak tahu bagaimana caranya aku bisa menyukai caranya menatapku dengan pandangan teduh dan terkadang menggemaskan di mataku.
Dia sudah cukup membuatku gila tentang segalanya yang bersangkutan dengan dirinya.
Dia terlalu indah.
Dia sempurna.
Tangan hangatnya yang membelai rambutku sedemikian halusnya. Aku mengerling menatap wajahnya yang ditimpa sinar rembulan. Membiarkan angin malam membelai kulit kami di balkon kamar ini.
"Tuan Jimin?" Aku terkekeh pelan mendengar suara pelan dan lembutnya memanggilku.
"Ada apa, sayang?" Balasku. "Katakanlah."
Ia mendorong punggungku. Membuatku yang tadinya berbaring di pahanya kini duduk menatapnya. Matanya tampak layu. Rasanya hatiku agak mencelos.
"Aku bosan. Tak bisakah kita liburan?" Tanyanya sambil mengucek pelan matanya.
"Tentu."
Aku paham betapa sibuknya ia selama beberapa hari ini. Aku bersyukur ia tak pernah melupakanku dan si kecil. Dia istri dan ibu yang baik, tbh.
"Kau ingin kemana, istriku?"
"Terserah saja. Kau tahu? Jagoanmu selalu merengek kepadaku. Dia akan selalu menanyakan ayahnya yang jelek ini." Tak tahu kenapa aku tertawa dengan bualan lucunya. Tanganku mencubit hidungnya pelan.
"Benarkah?"
"Iya. Anakmu itu akan sangat senang kalau dia tahu ayahnya malam ini sudah pulang." Kepalanya bersandar di dadaku. Aku mengecup puncak kepalanya. Aku merindukan aromanya yang manis setelah hampir seminggu lebih tak bertemu.
Entahlah. Dia sangat membuatku terbuai hanya dengan suara lembut dan aromanya.
"Apa kita akan pulang ke tanah airmu, hm?" Tanyaku. Dia langsung menegakkan kepalanya. Kemudian mengangguk senang. Dia menggemaskan. Sungguh.
"Boleh! Anakku juga butuh bertemu dengan kakek dan neneknya." Ujarnya sambil menggembungkan pipi. Aku mengangguk dan mengecup keningnya.
Aku terkadang tak paham dengan sikapnya yang kadang dingin, cerewet, dan manja sekali. Tapi itulah yang membuatku sulit menatap yang lain selain dia.
"Kenapa beberapa hari tak bertemu kau tambah cantik? Apa jangan-jangan ada yang lain, huh?" Aku mencoba menggodanya. Yang kulihat dia mendengus dan mencubit pipiku. Aku meringis.
"Kalau memang begitu, hari ini pasti aku sudah menggugatmu. Kau tahu?" Jawabnya sinis. Aku hanya bisa tertawa dan berkata padanya aku bercanda.
"Suamiku." Panggilnya. Aku bergumam sambil terus menatap garis wajahnya yang tak membosankan.
"Aku sebelumnya tak pernah percaya kalau akan bersamamu hingga detik ini."
Aku bingung, "kenapa?"
Dia balas menatapku dalam. Menghela napas dan mengalihkan perhatiannya ke pemandangan kota yang gemerlap di malam ini. Sedangkan mataku memandangi siluet wajahnya yang terukir mengagumkan itu.
"Kukira aku hanya bisa memandangmu lewat layar ponselku. Atau sekedar berharap bertemu denganmu satu kali saja."
Aku tersenyum mendengarnya. Dia begitu polos mengungkapkan kejujuran itu. Membuatku mengingat kembali bagaimana awal kami berjumpa.
"Lalu?"
"Tapi ternyata semuanya berbeda saat aku pertama kali datang ke fanmeet hari itu. Padahal, dulunya, aku lebih menyukai maknae kesayanganmu itu."
Aku tertawa lebih kuat tentang hal itu. Entah kenapa aku jadi merasa beruntung sekali, ya?
"Benarkah?" Dia mengangguk.
"Aku pun tidak percaya saat mengidam ingin bertemu dengannya." Dia tertawa. "Dan lihat jagoan kecilmu itu, wajahnya bahkan hampir mirip dengannya."
Aku memberengut pura-pura kesal." Untung kita satu kota yang sama. Kalau tidak, entah aku harus bagaimana."
"Kalau kau mau tahu. Aku cemburu saat seharian penuh kau bercanda dengan kelinci itu. Menyebalkan." Aku mencium pipinya. "Anakku tak sangat mirip dengannya."
Aku dapat mendengar wanita cantik itu terkekeh pelan. Aku terdiam saat ia tiba-tiba mengecup bibirku sekilas. Kemudian tersenyum dan mengusak surainya gentle.
"Harusnya tidak begitu." Kesalnya. Menyandarkan tubuhnya di sebelahku.
"Sayang?"
"Ya?"
"Terimakasih, ya?" Kupeluk tubuhnya erat. Tubuh yang memiliki hati yang tulus ini. Yang sudah membawa Cinta dan anak yang menambah kebahagian di hidupku. "Mau menerimaku yang selalu bergantung padamu. Padahal, harusnya aku yang lebih dewasa untukmu."
Ia mengangguk. "Sama-sama, ayah dari anakku." Ujarnya lembut. Aku menyukai itu. Sangat. "Suami tercintaku. Park Jimin."
"Aku juga mencintaimu, istriku. Nyonya Park."
Terimakasih sudah mau mendukungku meskipun saat aku belum mendapati dirimu yang selalu meluangkan waktu dan hatimu untukku.
Dan nanti, selamanya, kita akan selalu bersama. Aku sungguh bersyukur atas anugerah sempurna sepertimu.
Aku, Park Jimin. Mencintaimu—berterimakasih banyak untuk segalanya.
_______________________
➡Gimana chapter ini? :"3
➡Ada yang mau saran buat chapter kedepannya gak?
Oh btw, gak jadi hiatus lama.
Udah gatel pengen update
Mumpung lagi ada ide...
Sempet kena writer's block. Hiks.
Dan satu lagi! Untuk chapter special couple pankapan ea.. kita habisin dulu yang special si cowoknyeahh... hoho 👻
Makasih yang nunggu~
Nggak ada yah? 😦
Okeee byee... 😞*nyanyi ala princess Anna* :v
Vey🚣
KAMU SEDANG MEMBACA
IMAGINE BTS
FanfictionTidak apa-apa jika ingin membaca, hanya saja diharapkan memperhatikan kondisi fisik dan mental. Imajinasi yang begitu tinggi dapat menyebabkan jantung berdebar kencang, timbul rasa ingin memiliki, serta pahitnya kenyataan yang tidak bisa dihindari...
