Fishing

4.8K 356 7
                                        

Pagi yang cerah. Aku butuh sedikit penyegaran. Setelah semalam suntuk menjalin Cinta(Sebagian yang mengerti ini) aku benar kelelahan dan bosan.

Aku dan suamiku—Park Jimin, memilih pergi memancing di kolam ikan belakang rumah. Untuk awal, kami pergi mencari hewan kecil yang ugh— asal kau tahu, menggelikan bagiku.

"Aaakkkk!! Jauhkan dia dariku!!!"

Lelaki itu terpingkal-pingkal. Sedangkan aku, bergidik jijik melihat hewan kecil itu menggeliat. Dengan senyum jahil dia mendekatkan hewan kecil itu ke arahku.

BUGH!

"Aww!"

Aku meringis sakit. Bisa dirasakan tanah lembab mengenai lenganku. Tubuhku terangkat, pasti dia.

Wajahnya khawatir bercampur geli. Membersihkan tanah dan debu yang menempel. Rasanya aku ingin menangis saja kalau begini.

Tangannya menepuk pelan Puncak kepalaku. Menangkup kedua pipiku. Dia tersenyum lembut.

"Hei.. kenapa kau ingin menangis?"

Tak kujawab. Well, katakan kalau kau jadi aku, akan kesal. Dadaku terasa sesak. Aku lupa cara bernapas kalau seperti ini.

Grep!

"Huwaa.. jangan dekatkan hewan itu, hiks—"

Baiklah, aku sudah tidak tahan lagi. Aku memeluknya sambil gemetaran. Sejak kecil, aku selalu geli dan ngeri dengan hewan kecil bernama cacing tersebut. Dia mengecup Puncak kepalaku. Mengangkat wajahku menatapnya.

"Iya iya.. Ouch .. look, my baby girl~"

Tangan besarnya mengelap wajahku pelan. Dia terkikik geli. Menyebalkan, apa yang lucu? Dasar bodoh.

"Cacing itu tidak akan menggigitmu, sayang.." Ujarnya tanpa menanggalkan senyumnya. Bibirku terasa masih bergetar.

"T-tapi menjijikkan.. apalagi dia menggeliat seperti tadi..ugh.."

Chup~

Aku terdiam. Mencoba memproses apa yang dilakukan pria tampan ini. Jantungku berdegup kencang, wajahku terasa panas. Jangan katakan kalau aku merona sekarang.

Bibirnya mengecup bibirku. Aku belum terbiasa dengan yang tiba-tiba. Dia menjauhkan wajahnya. Dapat kulihat tatapannya yang begitu teduh dan menenangkan.

"Sudahlah, jangan menangis seperti itu.. ayo kita memancing!" Serunya sambil menarik perlahan tanganku. Aku mengangguk.

Dan disinilah kami sekarang. Di kolam sedang belakang rumah. Duduk di bawah pondok kecil yang sengaja didirikan di dekat kolam ikan.

Aku menatap takut-takut saat Jimin memasangkan cacing itu ke kail umpan milikku. Dia tertawa kecil. Setelah itu, ia melepaskannya dan membuatku memekik kecil, saat kail itu bergelantung ke arahku.

Dengan pengetahuan memancing yang kupunya, kulemparkan kailku ke kolam. Kulihat Jimin pun melakukan hal yang sama. Kami hanya diam tak bergerak menunggu umpan disambar.

Angin sepoi-sepoi membelai kulitku. Terasa menyejukkan dan menenangkan disaat yang bersamaan. Apalagi, memandang wajah teduh suami tampanku.

Seperti terasa dipandangi, ia menoleh dan menatapku berkedip-kedip. Aku jadi lupa kalau dia sudah dewasa. Membuatku berpikir dia masih balita. Entahlah, dia manis.

Dia kembali ke fokus pancingnya. Dalam beberapa saat kemudian, dia menarik pancingnya dan mendapatkan ikan ukuran yang lumayan. Aku hanya memandangnya bahagia. Matanya berbinar-binar dan tersenyum sangat manis kepadaku; yang kulihat, senyuman lebar, hingga mata yang tampak seperti garis lengkung indah. Mau tak mau aku juga ikut tersenyum senang.

Aku sedikit tersentak ketika sesuatu menarik-narik umpanku. Dengan perlahan, memutar rol pancingku. Dan..

Gotcha!

"Woahh.." Gumam Jimin. Aku tersenyum lebar. Dia mencoba melepas kaitan ikan. Tak sengaja terlepas dan menggelepar di kakiku.

"Kyaaa!" Jeritku. Ini memang terlihat biasa, tapi ikan itu meloncat-loncat ke arahku, dan nyaris kembali ke kolam.

Dengan kecepatan kilat—ini berlebihan— Jimin memungut ikan itu dan langsung memasukkannya ke dalam ember. Aku merasa lega.

"Wah wah.. kita dapat dua ikan yang besar." Kata Jimin sambil melihat ke isi ember. Aku mengangguk ceria.

"Aku akan masakkan yang paling enak untuk suami tampan dan manisku." Ucapku sambil tersenyum lebar.

Dia tertawa dan memelukku. Erat. Seperti tak ada hari esok. Aku menikmati hangatnya pelukan itu. Membuat suasana di sekitar tenang dan hanyut mengikutinya.

"Aku mencintaimu." Bisik Jimin. Aku menahan napas sejenak. Lalu tersenyum dan makin menelusupkan wajahku ke ceruk lehernya.

"Aku juga mencintaimu, Park Jimin."

Aku mendongak dan mengecup dagu dan rahang tegasnya. Dia balas mengecup kening dan pipiku.

Aku merasa lebih baik dengan ini. Selalu, 24/7 aku bersama suamiku yang berwujud pria tampan dan peduli, memahamiku, menghargaiku, inilah yang kubutuhkan selama ini. Aku benar-benar tak ingin kehilangannya. Dalam hidup, aku membutuhkan sosok sepertinya selalu di sisiku.

I love you, Park Jimin.

사랑해 ❤

------------------------------------

Yehey~
Update ugaaa~

Ih>< yang Boy in Luv ku un-publish ㅠㅠ rencananya mau di selesaikan chapternya, baru di publish.
Jadi, sementara ini, aku fokus ke imagine aja 😌

-vey.

IMAGINE BTSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang