(You ft. YoonMin)
All author pov
Hari yang cukup dingin. Kau merapatkan mantel hitammu lebih erat. Syal yang melilit manis di sekitar lehermu. Tanganmu disusupkan ke saku mantel agar hangat.
Jalanan di musim dingin-terutama pusat kota, cukup ramai. Lebih banyak pejalan kaki yang berlalu lalang dan menjalankan aktivitas mereka.
Berjalan tak tentu arah membuatmu lelah dan haus. Setidaknya satu cup cokelat hangat itu bagus untuk memperbaiki mood, pikirmu. Dan sebuah kafe dipilih untuk tempat singgah sementara beristirahat.
Kau menginjakkan kakimu di tempat yang hangat itu, masuk ke dalam mencari tempat duduk. Sebenarnya tempat itu cukup lengang, hingga dirimu memilih satu tempat dekat sebuah jendela bundar disana. Dekorasi yang unik membuatmu mau tak mau menyunggingkan senyum tipis.
Seorang pelayan datang dan menanyakan pesananmu. Seperti yang kau inginkan di awal, minuman cokelat yang bisa membuatmu sedikit tenang. Jujur saja, untuk minuman campuran kopi, kau minum jarang sekali-sesuai suasana hati. Dirimu itu moody.
Matamu memperhatikan vas di atas meja, bunga tulip warna merah muda, dan itu nampak cantik sekali meski hanya satu tangkai. Kemudian mengalihkan pandanganmu ke jendela, memperhatikan di luar yang sudah serba putih.
Tak tahu kenapa, suasana kafe ini begitu tenang. Sinar lampu yang lembut dan lukisan ataupun ornamen yang menarik. Kau menyukainya.
Kemudian, minuman yang sudah kau pesan datang. Dengan senyum ramah-seolah kau berterimakasih atas itu, dibalas hal sama.
Kau menyesap sedikit minumanmu, mencoba merasa rileks dengan menarik napas seraya menghirup aroma cokelat yang enak. Namun, makin lama kau merasa aneh disana dan sebisa mungkin tak kau hiraukan.
Tanganmu merogoh saku dan mengambil ponsel, mengetik pesan untuk ibumu-kalau kau merindukan dirinya. Tak sadar tersenyum sambil memandangi timeline mu. Hingga kau mengangkat kepalamu, dan menoleh-berniat melihat isi kafe.
Tapi, seseorang dengan cepat memutar kepala. Kau mengerutkan kening. Orang itu menggunakan hoodie dan topi berwarna putih. Dalam hati dirimu menggerutu, berpikir bagaimana bisa ada orang seperti itu di dalam kafe. Bisa saja dia perampok yang menyamar. Ah, tapi itu konyol sekali.
Kau masih memperhatikan orang itu dengan penasaran, hingga yang diperhatikan menoleh ke arahmu. Baik dirimu atau dia, tampak sama-sama terkejut.
Dia terkejut karena kepergok, dan kau terkejut karena-
-itu Park Jimin. Idolamu.
Dia tersenyum canggung dan menggaruk pipinya yang merona karena-entahlah, kau sendiri tak mengerti. Atau mungkin, karena dingin?
Jantungmu terasa lebih berdegup kencang saat ia menyapamu, suaranya khas dan membuatmu tak dapat berkutik saat itu juga. Hanya bisa tersenyum gugup dan anggukan kecil sebagai balasanmu.
"Bisakah aku duduk bersamamu?" Kau berkedip beberapa kali. Berusaha bangun dari mimpi. Dan, hell, Park Jimin pun duduk di hadapanmu tanpa persetujuan siapapun.
Dia tertawa kecil saat kau benar-benar terdiam dan tak mengeluarkan sedikitpun suara. Malah terbengong-bengong dengan sosok idola yang kau selalu mimpikan selama ini.
"Hei?" Dia mengibaskan tangannya di depan wajahmu, dan tiba-tiba seluruh kulit mukamu hangat, mungkin saja karena penghangat ruangannya.
"Kau sendirian?" Tanyanya dengan agak formal. Kau mengangguk dan menjawabnya dengan suara lirih.
"Uh, maaf, bukannya ingin lancang," kau seberani mungkin menatap matanya. Meskipun tak yakin untuk waktu yang sedikit lama.
"Ya?"
Kau menggigit bibir, "itu, begini, a-apa ini benar Jimin? Park Jimin?"
Dia tertawa geli membuat wajahmu memerah menahan malu. Kemudian ia mengangguk, "nde. Kau sudah tahu ternyata, padahal aku ingin memperkenalkan diri tadi."
Jawaban itu membuatmu tersenyum, "siapa yang tak mengetahui seorang Park Jimin yang satu ini."
Dia menatapmu lekat, dan kau salah tingkah sendiri. Lalu Jimin berujar sambil tersenyum penuh pesona, "kau sangat ramah, ya. Aku jadi senang mengobrol denganmu."
"Oh, um, aku juga,"
"Sebenarnya aku tadi ingin mengajak hyung tersayangku, tapi dia malah hibernasi," Jimin terkekeh. "Lain kali, kalau kau tak keberatan, kita akan bertemu di suatu tempat. Dan beruang itu akan kuajak."
Kau tertawa cukup keras. Tentu saja kau tahu siapa yang ia maksud, dirimu sudah hampir sangat mengenal idola-idolamu itu. Bahkan, terkadang, kau tak segan-segan beradu komentar dengan para haters, meski kau tahu itu tak berguna.
Benci dan cinta itu beda tipis. Oh, benar'kan?
Tak lama kemudian, kau menutup mulutmu untuk menahan tawa susulan yang bisa saja membuat dirimu dikira pasien rumah sakit jiwa yang kabur. Kau mengangguk samar.
"Tentu saja," kau tersenyum manis. "Tapi, maaf, apa tidak masalah kalau mengobrol berdua seperti ini?"
Dia meneguk minumannya, mengangguk, "ya. Bukannya itu bagus? Atau-"
"O-oh, bukan," jawabmu cepat. "Aku tahu seberapa banyak penggemarmu. Bagaimana kalau mereka-uh, you know."
Dia menggeleng, dan menatapmu yakin, "tenang saja. Meskipun iya, bukankah ada pihak berwajib?" Ia menyandarkan punggungnya. Kau memperhatikan jemarinya yang bermain di tepi cangkir. Imut, batinmu.
Kau melihatnya yang mengerling ke jam tangannya, kemudian mengerutkan bibirnya. Kau agak heran. Dia kemudian kembali tersenyum ke arahmu, "oh, bisakah aku punya satu kontakmu?"
Jimin mengulurkan ponselnya. Kau mengangguk, meraih itu. Dan mengetikkan nomor ponselmu. Mengembalikannya lagi kepada lelaki tampan itu. Dia tersenyum lebar.
"Ah, baiklah, aku harus pergi," dia berdiri. "Aku akan menghubungimu nanti, sampai jumpa."
Kau terdiam dan tersenyum. Hari ini, mood mu benar-benar diperbaiki dengan baik. Obrolan singkat dengan seseorang yang kau kagumi membuatmu banyak senyum.
Aku benar-benar menyukai ini..
Tbc
See ya next chapter, don't forget to vomment :)
-Vey-
KAMU SEDANG MEMBACA
IMAGINE BTS
FanfictieTidak apa-apa jika ingin membaca, hanya saja diharapkan memperhatikan kondisi fisik dan mental. Imajinasi yang begitu tinggi dapat menyebabkan jantung berdebar kencang, timbul rasa ingin memiliki, serta pahitnya kenyataan yang tidak bisa dihindari...
