Hari ini, cuacanya cerah sekali. Langit-langit nampak membiru dan berbaur dengan putihnya awan. Udara bersemilir disela-sela pakaianku.
Sebenarnya hari ini adalah waktunya kerja kelompok. Dan hari ini sudah disepakati satu minggu yang lalu, aku pun terpaksa harus berangkat menuju rumah Chris. Padahal aku malas sekali untuk tugas-tugas semacam ini.
Kelompokku beranggotakan lima orang : Chris, Elina, Hana, Hendri, dan Aku.
Chris adalah anak orang kaya, namun ia tak pernah sombongkan dirinya. Ia selalu tampil modis di sekolah, rambutnya yang terikat di belakang dan poninya yang rapi membuatnya terlihat seperti tokoh-tokoh anime yang imut-imut.
Elina... ya tahu sendiri, dia memiliki rambut panjang yang terurai dan sedikit bergelombang. Ia wanita yang selalu terlambat selama ini, namun seiring bergulirnya waktu, ia menampakkan kerajinannya dan kemandiriannya. Dan banyak temanku yang menyukainya.
Hana, Ia wanita muslimah yang sangat sopan. Tutur katanya selalu lembut, parasnya yang diselimuti hijab seperti malaikat yang sayapnya teriris dan terjebak di bumi. Tak heran jika banyak laki-laki kagum dan menyukainya.
Hendri, sesosok laki-laki dengan rambut pendek yang agak berantakan. Pakaiannya pun jarang dirapikan. Meskipun begitu, Ia adalah laki-laki paling rajin di kelas.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ditengah-tengah diskusi, kami disuguhkan makanan oleh Chris.
"Ini makanannya " Serunya sedari membawa tiga kantung plastik.
Aroma khas yang tajam tercium oleh saraf-sarafku. Sudah pasti itu bakso, dalam benakku hehe..
Chris pun membuka kantong plastik itu, dan ternyata benar itu adalah bakso. Elina dengan sigap membantu Chris untuk menyiapkan beberapa mangkuk.
Kami pun makan bersama, tapi entah mengapa Elina tiba-tiba duduk didepanku.
"Eh.. pindah sono lin, ganggu pemandangan aja" seruku sambil memegang mangkuk.
"Nggak mau......" bibirnya meruncing sepersekian detik.
Aku pun sedikit kesal. Bagaimana tidak, TV yang berada di depanku tepat tertutup oleh Elina.
Namun entah kenapa, tiba-tiba sorot mataku mulai memerhatikan Elina dengan seksama. Rambutnya yang berkharisma itu terurai. Binar matanya yang sangat indah.
Hingga kedutan matanya yang aneh namun tetap terlihat mempesona.
Dan tiba-tiba saja sorot mataku tertangkap olehnya. Aku pun gelagapan dan salah tingkah.
"Ngapain liat-liat ?" tanyanya sembari melotot ke arahku.
"Ya mata-mata gue.. masalah? " jawabku sedari membuang muka.
"sudah-sudah berantem mulu dari tadi, kayak kucing ma anjing aja" Sela Chris
Jantungku berdegup kencang seketika itu. Aku malu untuk menghadap Elina. Bukan karena Elina memalukan, melainkan karena aku malu jika nanti aku ketahuan lagi mencuri-curi pandang parasnya.
Eh.. kenapa aku ini... Apa aku menyukainya ?? ah.. tidak mungkin.. tidak mungkin aku menyukai Elina yang resek itu, dalam benakku.
----------------------------++
#30DWC #Day4
----------------------------++
KAMU SEDANG MEMBACA
Lentera Harapan
Novela JuvenilSeringkali terjatuh dalam lubang yang sama, Seringkali terkunci pada ruang yang sama, Seringkali tersesak menjalaninya. Seringkali hampir menyerah dalam perjuangan yang sama. Namun selalu ada "Kamu" sebagai Lentera Harapanku yang memancarkan jutaan...
