Beberapa hari setelah perjumpaanku di pesta Elina, sekolahku mengadakan acara wisuda. Aku masih terdiam tanpa kata.
Berwisuda tanpa menyapa Elina, seolah sudah tahu maksud dari masing-masing hati.
Namun diakhir acara, Elina mendatangiku dengan membawa gulungan yang aku berikan padanya ketika acara pestanya.
"Le..." sahut lesu Elina.
"Apa?"
"Selamat wisuda ya, dan ini..." tangannya menjulurkan gulungan itu padaku.
"Apa ini?" ujarku seoalah aku tak tahu.
"Jawaban dari semua keraguanmu," Elina tersenyum.
Aku terkejut dengan pernyataannya. Namun aku tak menggubris kata-katanya. Aku hanya diam sembari menerima gulungan itu.
Elina pun pergi meninggalkan aku. Ia pulang menuju rumahnya bersama kedua orang tuanya.
Aku masih duduk sendirian di kursi kayu coklat. Perlahan kubuka gulungan itu. Dan aku baca perlahan isinya.
"Untuk Leo, aku sebenarnya tahu bahwa kau menyukaiku. Dan aku sadar bahwa kau terlalu sering tersakiti olehku.
Aku sudah mengatakannya padamu, bahwa aku juga menyukaimu. Namun entah mengapa, aku terlalu malu ketika bersamamu. Aku terlalu bisu ketika melihat pasang matamu.
Dan berkian kali kita bertemu, tepatnya aku dan rendy bertemu denganmu. Itu bukanlah kebetulan,. melainkan sebuah kesengajaan yang aku buat.
Aku ingin sekali berada di dekatmu namun jiwa ini tak sejalan dengan kemauanku. Jiwa ini memilih malu dan melihatmu dari kejauhan.
Hingga akhirnya aku menyuruh rendy,sahabatku, menemaniku untuk mengikutimu dan melihatmu dari kejauhan.
Namun semua ini malah membuatmu tersakiti, yang baru ku sadari kau menganggapku dengan rendy memiliki hubungan.Padahal sudah aku katakan bahwa aku dan rendy adalah sahabat. Dan rendy, dia sudah mempunyai kekasih. Rendy selalu membantuku karena ini pertama kali aku menyukai seorang laki-laki, yaitu kamu, Leo.
Sebab demi tuhan, bahwa rasa ini masih sama. Tolong maafkan aku yang terlalu malu untuk bersamamu.
Elina."
Aku terkejut dengan isi gulungan ini.
Tertegun seperti tak percaya.
Namun apa arti rasa? Karena banyak terluka dan mulai terbiasa memudarkan rasa.
----------------------------++
#30DWC #Day28
----------------------------++
KAMU SEDANG MEMBACA
Lentera Harapan
JugendliteraturSeringkali terjatuh dalam lubang yang sama, Seringkali terkunci pada ruang yang sama, Seringkali tersesak menjalaninya. Seringkali hampir menyerah dalam perjuangan yang sama. Namun selalu ada "Kamu" sebagai Lentera Harapanku yang memancarkan jutaan...
