Awan-awan tiba-tiba menepi, membiarkan matahari menyegat. Sengatannya membuatku menepi jua. Keringat mengucur, hawa panas menguasai daerah sekitarku.
Kuputuskan untuk membeli es cendol di pinggir jalan untuk sekadar meredakan dahaga dan menyejukkan pikiran.
Pak tua penjual cendol memberikan dua porsi es cendol yang bertaburan sirup yang menggiurkan untuk Aku dan Satrio.
Aku dan Satrio pun melahap es cendol tersebut perlahan-lahan seraya melihat rapuhnya jalanan yang tersengat oleh matahari.
Tak kusangka teriknya matahari membuat ilusi dan membuatku menjatuhkan sendokku ke jalanan.
Aku pun mengambil sendok tersebut, sialnya sendok tersebut sudah ternodai debu-debu jalanan. Akhirnya kubiarkan sisa es cendol dan melihati lalu lalang pengendara di jalanan.
Mataku pun terhenti pada sebuah sepeda motor yang berhenti di lampu merah. Seorang cewek yang begitu mesranya dengan cowoknya.
"Elina?" dalam benakku.
Ha, apa benar itu tadi Elina. Kalau iya, sama siapa dia, katanya kumpul ketua ekskul. Lah kok ???
Jantungku bergejolak kencang waktu itu. Kecurigaanku semakin membara.
"Yok, udah makannya, cepet gih"
"Ya, udah, emang kenapa?"
"Udah cepetan ikut aku."
Dengan sigap pun aku menaiki motor dan mencoba membuntuti motor tadi dari belakang.
Rasa kecewa, dan cemburu bermuara di pikiranku. Tanganku gemetar memegang pedal gas motor, denyutku tak karuan.
Jalan-jalan yang tak asing telah kulewati.
" Ini kan jalan menuju rumah Elina," dalam benakku.
Dugaanku semakin dibenarkan ketika mereka berhenti tepat di depan rumah Elina.
"Le balik deh!" seru satrio seraya menepuk bahuku.
Aku masih terdiam melihat Elina dan seseorang laki-laki yang tak aku kenali. Rasanya semakin rumit untuk dijelaskan, lebih rumit daripada sekadar jatuh cinta.
Aku pun memutar motorku dan kembali pulang dengan membawa rasa kecewa yang bercampur cemburu.
----------------------------++
#30DWC #Day15
----------------------------++
KAMU SEDANG MEMBACA
Lentera Harapan
Teen FictionSeringkali terjatuh dalam lubang yang sama, Seringkali terkunci pada ruang yang sama, Seringkali tersesak menjalaninya. Seringkali hampir menyerah dalam perjuangan yang sama. Namun selalu ada "Kamu" sebagai Lentera Harapanku yang memancarkan jutaan...
