Jelaskanlah padaku, mengapa semua terjadi seperti ini?
Berkian kali aku melihatmu. Berkian kali pula rasa ini berkembang. Hingga bayangmu selalu menghabiskan waktuku. Hingga sosokmu memenuhi sudut-sudut sempit di otakku.
Pertemuan kita adalah awal dari perpisahan. Perpisahan kita adalah awal dari kepedihan. Dan Kepedihan kita adalah proses menuju kedewasaan.
Dewasa?
Bukankah dewasa berarti siap melepaskan?
Tidakkah dewasa mengerti arti cinta?
Lalu pantaskah aku disebut dewasa?
Jikalau tidak! maka dewasakanlah aku.
Ingatkah kau saat awal perjumpaan kita? Aku berharap kau tak akan melupakannya. Awal yang biasa-biasa saja namun tak mudah kulupakan. Cerita awal kita mungkin tak seindah cerita akhirnya. Namun, cobalah bertahan pada proses yang telah kita lewati. Meskipun berkian kali hamparan jarum turun untuk menusuk-nusuk setiap asa dan logika.
Hari yang aku tunggu telah datang, tidak percaya dengan apa yang terjadi. Kau berbisik di daun telingaku, mengucapkan rasa yang tak pernah aku sangka.
Namun tak berapa lama, kau permainkan aku. Dan mungkin saat ini kupilih diam, tanpa harus peduli lagi. Aku lelah dengan sikapmu yang seperti ini, yang selalu anggapku boneka, yang bisa kau permainkan sesuka hatimu. Dan kau pergi hiraukanku begitu saja.
Terdengar tawa renyahmu
Tersimpul senyumanmu
Tersirat maksudmu
Untuk permainkan aku
Mungkin ini waktu untuk aku terpuruk.
Waktu yang perlahan menyadarkanku.
Menyadarkanku dan membangunkanku dari mimpi yang menghantuiku.
Pada akhirnya, semua masih kembali ke awal. Dan sesungguhnya semua ini adalah awal.
Awal dari proses pendewasaan.
----------------------------++
#30DWC #Day24
----------------------------++
KAMU SEDANG MEMBACA
Lentera Harapan
Teen FictionSeringkali terjatuh dalam lubang yang sama, Seringkali terkunci pada ruang yang sama, Seringkali tersesak menjalaninya. Seringkali hampir menyerah dalam perjuangan yang sama. Namun selalu ada "Kamu" sebagai Lentera Harapanku yang memancarkan jutaan...
