Hitam dan putih memenuhi lembaran-lembaran kisahku.
Sejak saat itu, Aku dan Elina tak pernah saling berbicara. Seakan-akan ada gembok yang mengunci mulutku untuk berbicara.
Keheningan selalu hadir diantara kami. Kepedihan juga menari-nari di atas tangisku. Penyesalan berangsur-angsur memenuhi ruang-ruang sempit dalam otakku.
Aku menyesal. Sungguh aku mengaku bahwa aku sangat menyesal.
Jika memang cinta berujung pada benci, aku tidak akan mencintai.
Jika memang cinta berakhir dengan jarak, aku tidak akan mendekati.
Dan jika cinta berakhir dengan bisu, aku tidak akan memulainya.
Namun, entah mengapa hati ini berkata lain ketika aku melihat Elina.
Berkata dan menyalahi aturan tentang kepedihan.
Semua resiko dan ketidak-pastian akan cinta memudar begitu saja, seolah hanya ada keuntungan yang aku dapat.
Tapi semua mimpi tak sejalan dengan ekspetasi. Ia datang tanpa kuminta dan pergi tanpa berpamitan. Ia datang membawa cinta dan menghilang meninggalkan luka.
Luka yang membuat aku enggan untuk melangkah. Bekas yang membuatku gunda. Dan trauma yang membuatku menderita.
Namun, harapan-harapan kecil selalu memupuk cinta yang aku rasa. Ia bagaikan lentera yang menerangiku di gelapnya malam.
Menerjemahkan jalanan yang berliku untuk dilewati.
Kusadari aku adalah manusia bodoh yang selalu mencoba mempertahankan apa yang sudah aku capai meskipun itu sangat di luar akal dan logika.
Namun hanya satu hal yang belum dapat ku mengerti, yaitu, apa aku yang terlalu mudah jatuh cinta atau hanya saja aku yang tak sadar atas perilakumu yang hanya mempermainkanku bagai boneka, Elina?
----------------------------++
#30DWC #Day26
----------------------------++
KAMU SEDANG MEMBACA
Lentera Harapan
Teen FictionSeringkali terjatuh dalam lubang yang sama, Seringkali terkunci pada ruang yang sama, Seringkali tersesak menjalaninya. Seringkali hampir menyerah dalam perjuangan yang sama. Namun selalu ada "Kamu" sebagai Lentera Harapanku yang memancarkan jutaan...
