+2 : Siapa Yang Dijodohkan?

208K 21.1K 1.3K
                                        

       

            Langkah Dara sedikit berat ketika menginjakkan kaki di teras rumah orangtuanya. Ayah dan Ibunya memiliki kebiasaan mengundang anak-anak mereka untuk pulang ke rumah di akhir pekan dalam rentang waktu dua minggu sekali. Dara sempat berpikir kalau kebiasaan itu akan berakhir begitu kedua saudaranya menikah, tapi Andra dan Nendra memang tidak bisa ditebak. Seperti ketika masih lajang, keduanya tetap pulang sambil membawa keluarga masing-masing. Tidak heran kalau kedua saudara ipar Dara memiliki kedekatan yang menyenangkan dengan orangtuanya. Belum pernah sekalipun Dara mendengar pertengkaran antara Kakak ipar dan Ibunya, seperti yang dikisahkan dalam sinetron-sinetron yang dulu kerap ditontonnya. Sebaliknya orang-orang sering berpikir kalau Mbak Rara dan Mbak Nindya adalah anak Ibunya, sedangkan Mas Andra dan Mas Nendra menantu.

"Pa?"

"Ya?"

"Anak kesayangan Papa pulang nih."

            Dara mengerutkan alis kepada Nendra yang baru saja menggodanya. Dibandingkan dengan Andra yang adalah anak pertama, Nendra memang jauh lebih kolokan. Pria itu mencantumkan 'mengganggu Adara Darra' di kolom hobi setiap formulir yang diisinya. Dan sayangnya hobi tersebut tidak pudar meski kini Nendra telah memiliki seorang anak.

"Awas kamu nanti Mas!"

"Uh, takut!" Nendra menjulingkan mata untuk menggoda adiknya.

"Udah sih Mas!" Nindya menegur suaminya yang menyebalkan, "Kalau Dara ngambek nggak mau pulang, kamu juga yang kecarian karena kangen."

"Dengerin tuh Mas Nenen!" Dara gantian mengejek Nendra yang langsung belingsatan karena namanya diubah menjadi tak senonoh.

"Mentang-mentang calon suaminya lagi berkunjung, jadi berani ngelawan Mas ya? Hm. Bagus."

"Calon suami apaan?"

"Alah, pura-pura nggak tahu!" Sekarang bukan hanya Nendra yang berubah menjadi menyebalkan, karena Nindya ikut-ikutan mengulum senyuman menggoda.

"Apa sih Mbak?"

"Nggak papa Dek," Nindya berucap dengan nada maklum, "Mbak yang udah pacaran lima tahun dengan Mas kamu aja masih malu waktu lamaran, apalagi Dara yang dijodohkan? Mbak ngerti kok."

"Beneran Yang?" Nendra lupa untuk mengejek adiknya, karena kini ia justru menoleh pada istrinya, "Malu kenapa? Perasaan kamu pakai baju kok waktu kita lamaran."

"Perempuan mana yang nggak malu kalau punya calon suami absurd kayak kamu Mas?"

"Eh?!"

            Dara mendengus dan memilih untuk berlalu daripada mendengar percakapan tak berguna itu. Kadang-kadang Dara menyayangkan keputusan Nindya untuk menikahi Nendra karena merasa kalau wanita itu terlalu sempurna untuk Masnya. Bagaimana tidak? Nindya yang cerdas menyelesaikan pendidikan Magisternya lewat beasiswa, sedangkan Nendra hampir tidak mampu menyelesaikan pendidikan sarjananya. Adalah Dara dan Andra yang tidak tidur semalaman untuk mengetik skripsi pria itu, karena Nendra tidak punya tenaga untuk mengerjakannya setelah seharian berkutat dengan bengkelnya. Keduanya bahkan menemani Nendra ketika sidang agar bisa menjejalkan berbagai materi ke benak pria itu selama perjalanan menuju kampus. Hanya Tuhan yang tahu kenapa Nindya yang cantik, pintar, dan lemah lembut itu bersedia dipacari oleh Nendra yang bahkan dipanggil Nenen oleh adiknya. Sama seperti hanya Tuhan yang tahu kenapa Nendra bisa lulus ujian sidang, padahal pria itu terkantuk-kantuk ketika Andra menjejalkan berbagai rumus ke benaknya.

"Kamu datang."

            Sapaan bernada tenang itu membuat Dara menoleh dan mendapati Andra yang sedang menyeduh susu. Berbanding terbalik dengan Nendra yang kolokan, Andra adalah sosok yang tenang dan dewasa. Kedua matanya bahkan menyorotkan sinar teduh yang membuat Dara segan untuk membantah ataupun mengejeknya.

28+ (Slow Update)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang